
PURWOKERTO, SudutNalar – Anissa menegaskan bahwa seluruh usaha yang ia jalani berawal dari hobi dan passion berdagang sejak sekolah, bukan karena terpaksa. Kebiasaan berjualan yang ia gemari ini terus berlanjut hingga jenjang perguruan tinggi, bahkan kini berkembang menjadi bisnis seserahan pernikahan.
Anissa merupakan lulusan Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman yang sudah aktif berwirausaha sejak mahasiswa. Berawal dari jasa cetak foto dan kado wisuda, ia kemudian memproduksi merek hijab sendiri yang sukses meraih pendanaan Program Mahasiswa Wirausaha sebesar Rp4 juta sekian. Dari hobi jualan ini, ia mampu membiayai kuliahnya secara mandiri.
Setelah menikah, Anissa vakum dari bisnisnya. Kemudian di tahun 2022 ia baru memulai bisnis seserahan pernikahan. Ide bisnis ini muncul karena sempat ada request pesanan mahar dari pelanggan saat ia membuka jasa kado wisuda.
Meski sudah biasa berjualan, Anissa tetap menghadapi beberapa tantangan dalam menjalankan bisnisnya. Satu tahun pertama, ia sempat berada di fase usahanya sepi. Kemudian mulai dikenal melalui rekomendasi mulut ke mulut dan promosi digital melalui akun media sosial.
“Orang mikirnya tidak perlu modal lagi karena barangnya kan sudah ada. Cuma saya sampai sekarang pasti setiap bulan ada pengeluaran. Seperti minggu ini, ada sekitar tujuh pelanggan meminta tema warna bunga hiasan yang sama, akhirnya saya harus beli bunga baru lagi,” ujar Anissa.
Ongkos kirim dengan jarak yang jauh juga menjadi tantangan. Beberapa pelanggan memilih membatalkan pesanan karena ongkos kirim taksi barang yang terlalu mahal. Untuk mengatasi hal tersebut, ia berinvestasi menggunakan kendaraan pribadi agar ongkos kirim lebih terjangkau setara tarif taksi online.
Bagi sebagian masyarakat Jawa, terdapat bulan yang dihindari untuk melangsungkan pernikahan seperti, bulan sura dan bulan puasa. Anissa menggunakan waktu tersebut untuk membuka les privat seserahan di rumah. Les dibuka setiap hari Minggu dengan kapasitas dua orang per sesi.
Sebagai ibu rumah tangga yang mengelola usaha sendiri, Anissa harus disiplin membagi waktu, “Bagi waktu tergantung deadline. Seperti sekarang ini banyak pesanan, kalau anak-anak sedang bermain, bisa disambi mengerjakan. Saya lembur maksimal jam 11 malam, dan mulai lagi jam 3 pagi.” Jelasnya.
Anissa berpesan untuk generasi muda yang ingin memulai usaha agar tidak menyerah, “Yang penting telaten, rajin. Jangan baru sebentar sudah bilang jualannya tidak laku. Saya juga dulu mengalami, kadang jualan sepi banget. Usaha seperti ini biasanya baru sebentar sudah menyerah karena pesimis. Menurut saya, seharusnya jalani saja, nanti pasti ada yang membeli.”
Pada akhirnya, keberhasilan Anissa membuktikan bahwa bisnis dapat bertahan karena diawali dari rasa senang, memelihara ketelatenan dan konsistensi di setiap prosesnya.
Penulis : Zulfa Kamila Oktafiani
Editor : Restina Diniati Cantika
