Penulis: Muhammad Husydardam Rajasanagara | Editor: Aflah Hafiz Amanullah | Keterangan Profil Tokoh | Selasa, 22 September 2026 | 17.05 WIB

Buah manis perjuangan Andhika Suryatmaja saat mengabadikan momen dan menunjukkan piala serta sertifikat kejuaraan gold medal yang diraihnya dalam ajang International Bandung Choir Festival (BCF) 2025. (Foto: Dok. Andhika Suryatmaja)
PURWOKERTO – Sudutnalar.com, Bagi Andhika Suryatmaja, menjadi seorang pemimpin bukanlah tentang berdiri di depan dan sekadar memberi perintah. Mahasiswa Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) angkatan 2025 itu memahami bahwa kepemimpinan dibentuk dari keberanian menghadapi keterbatasan bersama.
Pemuda kelahiran Purwokerto tahun 2006 yang akrab disapa Dhika ini sudah terbiasa mengambil peran kepemimpinan sejak dini. Memulai langkah dari usia TK sebagai gitapati drumband, ia kemudian melanjutkan pendidikan di SDN 1 Sokanegara dan aktif di Pramuka hingga menjuarai LCC Pramuka dan Jambore. Di SMP Negeri 2 Purwokerto, ia meraih Lencana Pramuka Garuda, menjabat sebagai Wakil Pratama Putra, dan berperan aktif di OSIS.
Dhika mencoba menemui jalan baru saat memasuki SMA Negeri 1 Purwokerto. Dia memutuskan keluar dari zona nyaman dan terjun ke dunia seni musik melalui ektrakurikuler paduan suara Balakosa Janitra Voice (BJV). Keputusan itu bukan tanpa beban. Dhika mengaku sempat memiliki trauma masa kecil di dunia musik saat duduk di sekolah dasar.
”Waktu SD belajar otodidak di Bina Vokalia dan ikut lomba tingkat kecamatan tapi kalah. Sempat salah lirik, fales, dan trauma sampai SMP stop dalam dunia musik,” ujar Dhika.
Keberaniannya untuk bangkit di masa SMA justru membuahkan hasil luar biasa. Pada tahun pertamanya, Dhika dan tim berhasil meraih gold medal dalam Karangturi International Choir Competition (KICC) 2023. Prestasi tersebut berlanjut pada Surabaya World Choir Festival (SWCF) 2024 (dua gold medal), Bali International Choir Festival (BICF) 2024 bersama komunitas One Voice Purwokerto, hingga International Bandung Choral Festival (IBCF) 2025 yang sama-sama mendapatkan gold medal.
Di balik gemerlap medali emas internasional, ada perjuangan berat yang harus dihadapi Dhika saat dipercaya menjabat sebagai Chairperson Balakosa Janitra Voice. Selain keterbatasan sumber daya manusia, hambatan finansial sempat mengancam langkah timnya.
Demi memberangkatkan tim kompetisi, Dhika dan anggota paduan suaranya memilih jalan pantang menyerah, yaitu dengan “ngamen” keliling. “Kami mengamen berkeliling dari tenda ke tenda di GOR Satria, dilanjutkan ke Pasar Manis, sampai stop di Alun-Alun Purwokerto seminggu sekali bergantung cuaca selama 5 bulan mengamen.” Tutur Dhika. Dhika juga mengaku dapat menghasilkan uang dari hasil mengamen hingga Rp.1.5 juta per minggunya.
Bagi Dhika, aksi mengamen tersebut bukan sekadar mencari uang, melainkan momen pembentukan karakter dan kebersamaan. “Dari situ justru bisa membangun chemistry antar tim. Karena mau gak mau, kita ada satu tanggungan yang sama, satu tujuan yang sama, dan keluarnya juga harus bareng-bareng,” ungkapnya.
Usaha keras itu terbayar tuntas. Dhika yang awalnya hanya merekrut 25 anak, akhirnya berhasil membawa 42 anggota tim tampil memukau di panggung internasional. Kepemimpinannya meninggalkan kesan mendalam hingga rekan-rekannya kerap berucap kepada Dhika, “Sempet kangen sama jaman Dhika di paduan suara.”
Namun, proses menjadi pemimpin yang matang juga harus melewati teguran yang keras. Dhika menceritakan momen saat ia ditampar oleh kenyataan akibat kesulitan membagi waktu sekolah dan kegiatan. “Aku sempat ditampar habis-habisan oleh pelatih paduan suara SMA. Pelatih ku berkata dengan santai, ‘Tuhan tuh udah ngasih kamu waktu 24 jam, tapi kenapa kok kamu masih kurang?!’ Kata tersebut sangat menusuk hati dan membekas,” jelas Dhika.
Sejak teguran itu, Dhika membiasakan diri mengatur jadwal kegiatan setiap malam untuk keesokan harinya agar seluruh tanggung jawab terlaksana dengan baik.
Kini di Unsoed, Dhika melanjutkan kiprah kepemimpinannya dengan bergabung di AIESEC in Unsoed dan menjabat sebagai Project Controller Manager. Ia bertugas mengawasi seluruh proyek yang berjalan di organisasi internasional tersebut.
Semangatnya untuk terus berdampak tak lepas dari doktrin dan doa kedua orang tuanya yang selalu ia pegang teguh.
”Orang tua selalu mendoktrin, ‘Kamu hidup kalau gak ada nilai yang bisa kamu tawarkan ke orang sekitar itu percuma,’ dan mereka selalu berdoa ‘Semoga Dhika dapat ditempatkan di saat dan di waktu yang sudah ditentukan,'” kata Dhika. “Hidup itu terkadang tidak hanya mempedulikan diri sendiri saja, tapi adakalanya kita juga mempedulikan orang lain.”
Dhika juga memegang prinsip dari kutipan favoritnya, Eleanor Roosevelt: “The future belongs to those who believe in the beauty of their dreams,” sembari menambahkan, “Kalau memang kita jatuh pada impian kita, kita akan jatuh di antara bintang-bintang.”
Menutup perbincangan, Dhika membagikan pesan penting bagi para mahasiswa yang masih ragu untuk melangkah dan berprestasi. Menurutnya, hal paling utama adalah kemampuan untuk memimpin diri sendiri sebelum mencoba memimpin orang lain. “Sebelum lead orang lain, kamu harus bisa nge-lead diri sendiri,” tegasnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya rasa percaya diri agar seseorang bisa mengenali kelebihan, kekurangan, serta keunikan yang dimilikinya. Dhika mengajak generasi muda untuk tidak ragu mengambil setiap peluang yang menghampiri. “Biasakan untuk berani berkata ‘iya’ di setiap opportunity yang datang, karena kita gak tahu kata ‘iya’ tersebut bisa memberikan dampak berarti bagi diri kita maupun orang lain,” tambahnya.
Sebagai penutup, Dhika menganalogikan kepemimpinan seperti membawa penerangan bagi sesama. “Ketika kamu membawa obor, pastikan kamu mengangkat obor tersebut tinggi-tinggi supaya orang-orang gak cuman bisa melihat cahayanya saja, tetapi mereka juga merasakan dampak dari si cahaya tersebut.”
