
PURWOKERTO, SudutNalar — Bagi sebagian mahasiswa, kesibukan perkuliahan saja sudah cukup menyita waktu. Namun, berbeda dengan Abdul Kholiq Fauzi. Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman angkatan 2023. Ia justru memilih membuka lebih banyak ruang untuk belajar dan berkontribusi mulai dari kegiatan sosial, organisasi, kompetisi, hingga menjadi public speaker dan Master of Ceremony (MC).
Salah satu ruang pengabdian yang dijalani Kholiq adalah Bhinneka Ceria, komunitas sekolah rakyat yang bergerak di bidang pendidikan dan sosial kemasyarakatan. Komunitas ini menjadi wadah bagi para pemuda untuk terlibat dalam kegiatan pendidikan, pemberdayaan, dan sosial. Di dalamnya, Kholiq berperan sebagai salah satu pendiri (founder) sekaligus Manager Pemberdayaan SDM, bertanggung jawab mengelola dan mengembangkan sumber daya manusia serta relawan yang terlibat.
Keterlibatan Kholiq dalam Bhinneka Ceria membuatnya berhadapan langsung dengan berbagai dinamika kegiatan sosial. Bersama pengurus lainnya, ia turut mengajar anak-anak dan menjalankan program pendidikan komunitas. Namun, tantangan terbesar menurut Kholiq bukan sekadar mencari relawan, melainkan menjaga agar semangat mereka tidak padam di tengah jalan.
“Kalau kita bicara tentang komunitas atau volunteer, pasang surut semangat dari teman-teman pengurus ini yang apinya harus tetap dijaga,” ujar Kholiq.
Menurutnya, menjadi relawan berarti memberikan waktu dan tenaga tanpa mengharapkan imbalan materi. Bahkan, para pengurus harus menempuh perjalanan hingga puluhan kilometer demi menjalankan kegiatan mengajar. Meski demikian, pengalaman itu justru memberikan kepuasan tersendiri baginya.
“Setiap kita mengajar itu rasanya penuh saja. Penuh dalam artian lebih mahal kayaknya dari uang yang dikasih orang,” tuturnya.
Namun, kesibukan sosial itu tidak lantas membuat Kholiq mengabaikan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa. Ia tercatat mengantongi IPK 3,87 dari skala 4,00 dan terpilih mewakili Program Studi Ilmu Politik dalam seleksi Mahasiswa Berprestasi tingkat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Bagi Kholiq, aktivitas di luar perkuliahan justru harus berjalan beriringan dengan pendidikan, bukan menggantikannya. Prinsip inilah yang ia tanamkan juga di Bhinneka Ceria. Bersama para pendiri lainnya, ia berkomitmen agar aktivitas sosial tidak dijadikan alasan bagi pengurus untuk abai terhadap akademik.
“Jangan sampai jadi alasan buat kalian meninggalkan akademik,” ujar Kholiq.
Komitmen ini diterapkan untuk semua pengurus Bhinneka Ceria. Menurut Kholiq waktu, energi, dan sebagian materi perkuliahan memang harus dikelola ketat ketika seseorang menjalani banyak aktivitas sekaligus. Namun, satu hal yang tidak ingin ia korbankan yaitu pendidikan.
Kesibukan Kholiq juga tecermin dari deretan prestasi yang ia kumpulkan dari berbagai kompetisi, di antaranya: Juara 1 Lomba Debat Komisi Pemilihan Umum (KPU) tingkat Provinsi Jawa Tengah 2024, Medali Perak Baca Puisi Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Provinsi Jawa Tengah 2024, Juara 2 Lomba Presentasi Bisnis Soedirman Creaticom tingkat nasional, Juara 1 QRIS Jelajah Budaya Indonesia 2025, serta Juara 1 Lomba Dai tingkat Karesidenan Pekalongan.
Di luar kompetisi, kemampuan komunikasi publik juga menjadi bagian penting dari perjalanan Kholiq. Ia tercatat telah menjadi MC di lebih dari 20 kegiatan kampus dan nasional, moderator di lebih dari 10 forum, serta pembicara publik (public speaker) di lebih dari 15 forum. Salah satu pengalaman berskala nasionalnya adalah menjadi Koordinator Acara NUDC dan KDMI tingkat nasional pada 2025 ajang yang diikuti 129 universitas dengan total 184 tim peserta.
Beragam aktivitas itu membuat manajemen waktu menjadi bagian penting dalam keseharian Kholiq. Ia menyadari, menjalani banyak kegiatan sekaligus berarti ada waktu dan tenaga yang harus dikorbankan. Beberapa kegiatan sosial Bhinneka Ceria bahkan mengharuskan Kholiq dan pengurus lainnya, menempuh perjalanan belasan hingga puluhan kilometer ke sejumlah daerah hanya untuk mengajar anak-anak.
“Pasti ada yang dikorbankan, mulai dari waktu sampai tenaga” ungkapnya.

Namun, bagi Kholiq pengorbanan itu adalah bagian dari proses menghadirkan kebermanfaatan. Ia memandang kegiatan sosial bukan sekadar aktivitas tambahan di luar kuliah, melainkan ruang untuk belajar, membangun relasi, dan mengembangkan diri.
Perjalanan Kholiq menjalani berbagai peran itu juga mengajarkannya satu hal penting yaitu menentukan prioritas. Sebagai mahasiswa, aktif tidak berarti kehilangan fokus akademik. Justru sebaliknya, berbagai kegiatan yang ia jalani menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan sekaligus memberi kontribusi bagi orang lain. Melalui Bhinneka Ceria, organisasi, kompetisi, hingga dunia public speaking, ia terus mencari cara agar pencapaian pribadi dan kebermanfaatan sosial bisa berjalan beriringan.
Di tengah padatnya aktivitas itu, Kholiq memilih untuk tidak hanya menjadi mahasiswa yang belajar di ruang kelas. Ia juga menjadikan ruang-ruang di luar kampus sebagai tempat bertumbuh, berbagi, dan memberi kesempatan bagi orang lain untuk turut berkontribusi.
“Pada akhirnya, kita tidak hanya ingin menjadi orang yang mempunyai prestasi, tapi juga orang yang bisa memberikan kebermanfaatan. Karena, apa yang kita punya akan lebih berarti kalau bisa dibagikan kepada orang lain. Aktif itu bukan hanya tentang seberapa banyak kegiatan yang kita ikuti, tapi tentang apa yang bisa kita dapat dan apa yang bisa kita berikan dari kegiatan itu.”
Penulis Berita : Assifa Sahra Isna Niansyah
Editor Berita : Aniqotul Lutfiyah

Terima kasih, semangat!