sudutnalar.com, 22 September 2026

Ajeng Ariel Yazi Gazela, pendiri sekaligus pelatih Sanggar Tari Anjawat Slaka (Foto: Tita Nurkhalif)
PURWOKERTO, SUDUTNALAR– Di usianya yang baru 24 tahun, Ajeng Ariel Yazi Gazela telah mendedikasikan dirinya sebagai penari, pelatih, sekaligus pendiri Sanggar Tari Anjawat Slaka. Ia merintis sanggarnya saat masih berstatus mahasiswa.
Ajeng dikenalkan pada tari sejak ia masih kecil, ketika orang tuanya mendaftarkannya les tari. Lalu, ia menempuh pendidikan di SMK Negeri 3 Banyumas jurusan tari dan melanjutkan kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta program studi Seni Tari. Bagi Ajeng, tari bukan sekadar keterampilan, melainkan tempat menyalurkan perasaan.
“Bagi saya, menari itu tempat mencurahkan perasaan, apalagi kalau lagi galau. Dari tarian itu, saya juga bisa menciptakan karya baru,” ujarnya.
Sebelum menekuni tari secara penuh, Ajeng sempat mendaftar menjadi polisi dan pramugari setelah SMK. Pendaftaran polisi gagal karena usianya yang masih muda dan kendala administrasi. Untuk pramugari, orang tuanya tidak mengizinkan karena saat itu terjadi kecelakaan pesawat. Selain itu, Ajeng juga pernah menjadi model dan perias pengantin maupun wisuda.
Selain melatih di sanggarnya sendiri, Ajeng juga melatih di Sanggar Dharmo Yuwono Purwokerto Timur dan Sanggar Oemah Gamelan Banyumas, serta mengajar ekstrakurikuler tari di sebuah sekolah dasar. Dalam melatih, ia memilih cara yang tegas, tetapi tetap sabar.
“Saya tetap tegas, tetapi bukan yang galak. Tegas yang sabar,” ujarnya.
Menurutnya, melatih tari tidak selalu mudah. Tantangan terbesarnya adalah menyesuaikan suasana hati ketika ia sedang lelah, sementara murid-murid asyik bermain sendiri. Pengalaman yang paling berkesan bagi Ajeng adalah saat bisa mengajak murid-muridnya tampil di acara besar dan meraih juara. Ia juga bangga bisa menari di Istana Negara pada 17 Agustus 2025, dalam pembukaan upacara bendera

Ajeng saat melatih murid di Sanggar Anjawat Slaka dan di Istana Negara pada 17 Agustus 2025 (Foto: Tita Nurkhalifah dan Dokumentasi pribadi Ajeng)
Sanggar Anjawat Slaka ia dirikan saat menyusun skripsi. Awalnya ia sempat ragu, tetapi akhirnya memberanikan diri. Kini sanggar itu baru berusia dua tahun.
Nama Anjawat Slaka dipilih dengan makna tersendiri. “Anjawat” berarti memegang, sedangkan “Slaka” berarti emas. Ia berharap nama itu menjadi doa baik bagi sanggar dan orang-orang di dalamnya. Pada awal berdiri, muridnya hanya lima orang. Kini jumlahnya 28 murid yang dibagi ke dalam tiga kelas.
Setiap tahun, sanggar ini mengadakan study tour dan anak-anak menabung agar bisa melihat langsung tarian daerah lain, karena menurut Ajeng anak-anak punya rasa ingin tahu yang tinggi.
Ajeng berharap Sanggar Anjawat Slaka terus berkembang. “Harapan saya, sanggar ini semakin maju, semakin dikenal banyak orang, muridnya bertambah, dan prestasi serta kualitasnya semakin bagus,” ujarnya.
Kepada anak muda yang ingin belajar menari, Ajeng juga berpesan untuk selalu percaya diri dan tidak gengsi. “Percaya diri dan jangan gengsi, jika kita mau belajar dan tidak takut memulai, kita pasti bisa,” ujarnya.
Penulis: Tita Nurkhalifah
Editor: Fatma Cita khoirunnisaa
