sudutnalar.com, 29 September 2026

BANJARNEGARA, SUDUTNALAR β Penggunaan Airtificial Intelligence (AI) mulai dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMPN 4 Banjarnegara. Dalam penggunaannya, siswa diberikan batasan oleh guru agarsupaya tidak kehilangan kesempatan untuk berpikir dan mengembangkan kreativitas secara mandiri.
Guru Bahasa Indonesia SMPN 4 Banjarnegara, Eti, menyatakan bahwan penggunaa handphone dalam pembelajaran hanya diperbolehkan ketika materi tertentu membutuhkannya. Siswa sebelumnya, diberi tahu untuk membawa gawai, misalnya saat pembelajaran membutuhkan aplikasi seperti Canva untuk membuat poster.
Sementara itu, guru Bahasa Indonesia lainnya,a yakni Wahyu, menjelaskan bahwa penggunaan AI dapat digunakan sebagai alat bantu untukdalam menunjang proses belajar, salah satunya Β dalam kegiatan menulis teks deskripsi. Misalnya, siswa diberikan sebuah gambar, kemudian dimintalalu menulis instruksi yang berbeda kepada AI untuk menghasilkan teks. Perbedaan instruksi tersebut dapat menghasilkan tulisan dengan karakter yang beragam pada setiap siswa. Menurut Wahyu, proses tersebut menjadi bagian dari pengembangan kreativitas siswa karena mereka tidak hanya menerima hasil dari AI, tetapi juga belajar bagaiman cara yang tepat untuk memberikan instruksi yang tepat sesuai dengan gagasan yang ingin dikembangkan. Hasilnya pekerjaan siswa dievaluasi bersama untuk melihat perbedaan dan kualitas tulisan yang dihasilkan.
Eti juga mengungkapkan pendapatnya bahwa siswa bisa mengalami ketergantungan terhadap AI ketika mengerjakan soal. Menurutnya, kemudahan memperoleh jawaban melalui AI dapat membuat siswa lebih memilih menggunakan teknologi kecerdasan buatam daripada menyelesaikan soal secara mandiri. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena penggunaan AI dalam pembelajaran seharusnya tetap mendorong siswa untuk memahami materi dan mengembangkan kemampuan berpikirnya sendiri.
Wahyu juga mengatakan bahwa pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan perlu disertai dengan proses evaluasi untuk mengetahui kemampuan siswa setelah menggunakan teknologi tersebut. Sementara itu, Eti menekankan agar siswa mengutamakan kemampuan mereka sendiri sebelum menggunakan AI. Menurutnya, AI sebaiknya digunakan ketika siswa menemukan soal atau materi yang belum dipahami, bukan sebagai pilihan pertama untuk menyelesaikan seluruh tugas. Dengan cara tersebut, siswa tetap memperoleh kesempatan untuk mencoba, berpikir, dan menyelesaikan persoalan secara mandiri sebelum memperoleh bantuan dari AI.
Wahyu juga menerapkan pembatasan dalam proses pembelajaran. Ia menjelaskan bahwa AI tidak digunakan pada setiap pertemuan atau setiap kegiatan pembelajaran. Dalam enam kali pertemuan, misalnya, penggunaan AI hanya ditempatkan pada bagian tertentu, sementara waktu lainnya digunakan untuk melatih kemampuan siswa secara mandiri.
Pembatasan tersebut dilakukan agar siswa tetap memiliki kesempatan untuk membaca, mencari pengetahuan, mengembangkan kosakata, serta menyelesaikan tugas tanpa selalu bergantung pada bantuan teknologi. Menurut Wahyu, AI tetap dapat memberikan manfaat selama penggunaannya disesuaikan dengan kompetensi yang ingin dicapai dalam pembelajaran. Pemanfaatan AI dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMPN 4 Banjarnegara pada akhirnya tidak diarahkan untuk menggantikan proses belajar siswa. Teknologi tersebut digunakan untuk membantu memperoleh referensi dan menunjang kegiatan pembelajaran, tetapi penggunaannya tetap disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan siswa.
Penulis: Farah Celsea Fadhilah
Editor: Avrigh Aprilia Mahendrawati
