Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Ahmad Tohari dan Kisah di Balik Novel Ronggeng Dukuh Paruk

Posted on September 22, 2026September 22, 2026 by shafrifa aulia

Abimanyu Excel Mulya

sudutnalar.com, 22 September 2026

 Sastrawan Ahmad Tohari penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk, saat ditemui di kediamannya, Jatilawang, Banyumas. (Foto: Dok. Abim)

PURWOKERTO, SUDUTNALAR – Bagi Ahmad Tohari, sastra bukan sekadar hiburan atau rangkaian kata indah, melainkan benteng utama penjaga nilai kemanusiaan. Lewat novel legendaris Ronggeng Dukuh Paruk, sastrawan asal Banyumas ini tak cuma merangkai cerita, tetapi juga mencatat sejarah dan merekam kegelisahan sosial masyarakat bawah.

Ketertarikan Ahmad Tohari dengan dunia sastra bermula dari lingkungan kecilnya. Sejak kelas enam SD, ia sudah gemar menonton wayang kulit dan membaca komik karya R.A. Kosasih. Kebiasaan sang ayah berlangganan koran sejak tahun 1950-an makin menumbuhkan rasa cintanya pada bahasa Indonesia. Pengalamannya bekerja sebagai wartawan hingga redaktur Harian Merdeka makin mengasah keterampilannya dalam mengolah kata.

“Saya membaca dengan penuh minat dan perhatian terhadap kebahasaannya. Jadi, saya berkembang menjadi anak muda yang sangat menyukai bahasa Indonesia,” kata Ahmad Tohari.

Rasa prihatin terhadap situasi di sekitarnya selalu jadi dorongan utama Ahmad Tohari dalam berkarya. Saat duduk di bangku SMA, ia menyaksikan langsung tragedi pembunuhan massal pada tahun 1955. Peristiwa kelam itu mengendap belasan tahun dalam ingatan, sebelum akhirnya ia berani mendokumentasikannya ke dalam bentuk novel.

Menulis isu kontroversial seperti itu pada era Orde Baru membawa risiko besar. Pada tahun 1980-an, ia pernah dijemput tiga tentara menggunakan jip militer dan diinterogasi selama lima hari di markas tentara karena dituduh membawa isu PKI.

“Tentara memaksa saya mengaku. Berhari-hari pertanyaannya cuma itu,” ujarnya.

Intimidasi mereda setelah ia menyebutkan nama tokoh yang sangat disegani. “Saya sebut nama Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Tentara langsung tidak berani kalau sudah berhadapan dengan Gus Dur,” tambahnya.

Meski diliputi rasa takut, ia tetap nekat menerbitkan karyanya demi menjaga ingatan sejarah. “Dengan filosofi begini: kalau saya tidak menulis, generasi sesudah saya akan buta informasi tentang sejarah periode 60-an. If not me, then who?” tegasnya.

Karya Sastra trilogi Ahmad Tohari yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk. (Foto: Dok. Abim)

Hampir seluruh karya Ahmad Tohari, seperti Kubah dan Ronggeng Dukuh Paruk, berfokus pada genre realitas sosial. Ia memotret duka kehidupan perempuan dalam budaya patriarki dan dinamika masyarakat bawah. Kepopuleran trilogi Ronggeng Dukuh Paruk turut mengantarkan karyanya ke layar lebar lewat film Darah dan Mahkota Ronggeng pada 1983.

Bagi Ahmad Tohari, sastra punya peran penting yang tidak bisa digantikan disiplin ilmu lain. Ekonomi berfokus pada keuntungan semata dan teknologi bergerak tanpa kompas moral, sedangkan sastra hadir memberikan sentuhan kemanusiaan pada peradaban.

“Ekonomi, teknologi, itu tidak cukup. Karena ekonomi tidak punya moral, tapi kalau sastra mempunyai moral. Sastra lahir untuk memberi warna kemanusiaan pada peradaban ini,” ungkapnya.

“Bangsa yang normal itu menghargai kesusastraan. Kalau bangsa Indonesia ingin normal dan anak muda ingin berkembang secara wajar, bacalah sastra,” kata Ahmad.

Ia menegaskan bahwa masa depan bangsa berada sepenuhnya di tangan generasi penerus. “Ke depan, Indonesia mau maju, mandek, atau mundur, tergantung kalian,” pungkas sang sastrawan.

Penulis – Abimanyu Excel Mulya

Editor – Moza Abhista Daniswara

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme