Penulis: Niscita Nariswari Vedacetta
Editor: Rahmah Dya Hamidah
SudutNalar, 11 September 2026

Kue dongkal atau awug, jajanan tradisional berbahan dasar tepung beras, gula merah,
dan kelapa parut. (Dokumen: Cita)
BANYUMAS, SudutNalar — Di tengah maraknya jajanan modern, seorang pedagang
tetap mempertahankan kue dongkal atau awug sekaligus mengembangkan usahanya
di Kecamatan Wangon, wilayah yang sebelumnya belum memiliki penjual jajanan
serupa.
Kue dongkal merupakan jajanan tradisional khas Betawi yang di beberapa daerah
Jawa Barat dikenal dengan nama awug atau dodongkal. Berbahan dasar tepung beras,
gula merah, dan kelapa parut, kue ini memiliki perpaduan rasa manis dan gurih yang
khas.
Aji, pedagang kue dongkal di Wangon, telah menjalankan usahanya selama kurang
lebih dua tahun. Ia memilih berjualan di wilayah tersebut untuk mengembangkan
usaha sekaligus membuka cabang baru. Belum adanya penjual kue dongkal di
Wangon juga menjadi peluang untuk memperkenalkan jajanan tradisional kepada
masyarakat setempat.
“Saya memilih jualan di Wangon karena ingin mengembangkan usaha dan membuka
cabang baru. Kebetulan di sini juga belum ada yang jual kue dongkal,” ujar Aji.
Persiapan berjualan dilakukan sejak pagi dengan membeli bahan baku dan
menyiapkan adonan tepung beras. Kue dongkal mulai dijual pada sore hingga pukul
21.00 atau 22.00 WIB, dengan rata-rata penjualan tujuh kilogram per hari. Satu
kilogram menghasilkan sekitar sepuluh porsi dengan harga Rp10.000 per porsi.
Sebagian besar pembeli kue dongkal merupakan orang dewasa. Meski jajanan modern
semakin beragam, kue dongkal masih memiliki peminat yang menyukai cita rasa
tradisional.

Seorang pembeli membeli kue dongkal di lokasi penjualan Kecamatan Wangon,
Kabupaten Banyumas. (Dokumen: Cita)
Dalam menjalankan usahanya, Aji menghadapi kendala pada ketersediaan dan harga
bahan baku, seperti daun pisang yang terbatas, kenaikan harga plastik, serta harga
kelapa yang meningkat saat musim kemarau.
“Yang jadi kendala itu bahan bakunya, terutama daun pisang yang kadang susah
didapat. Harga plastik juga naik, terus sekarang musim kemarau harga kelapa
biasanya ikut mahal,” jelasnya.
Meski menghadapi berbagai kendala, usaha kue dongkal tetap dipertahankan sebagai
jajanan tradisional. Hal tersebut tidak mengurangi semangat Aji untuk tetap berjualan
karena kue dongkal masih memiliki peminat, terutama dari kalangan orang dewasa.
Berjualan di Wangon menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kue dongkal
kepada masyarakat sekaligus mengembangkan usaha. Ke depannya, Aji berharap
dagangan tetap laris, masyarakat terus menyukai jajanan tradisional, dan usaha
tersebut dapat berkembang dengan membuka cabang baru di berbagai daerah
