Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Merintis dari Layar Kecil, Ade Saputra Membangun Masa Depan

Posted on Oktober 9, 2026Oktober 9, 2026 by zulfa izaz
Dok. Ade Saputra saat mengerjakan desain grafis sebagai bagian dari pekerjaannya.

BANYUMAS, SudutNalar – Sebelum mampu membeli laptop dengan spesifikasi tinggi seharga belasan juta rupiah, Ade Saputra mengerjakan desain grafis hanya bermodalkan sebuah HP dan aplikasi PixelLab. Tanpa kursus khusus atau perangkat canggih, ia belajar secara otodidak dari layar kecil yang setiap hari berada dalam genggamannya. Siapa sangka, keterampilan yang awalnya ia pelajari sendiri itu kelak menjadi sumber penghasilan untuk membiayai kuliah dan membangun masa depannya.

Ade mulai mengenal desain grafis ketika duduk di kelas XI SMK. Ketertarikannya muncul setelah melihat teman-temannya membuat desain. Ia kemudian mencoba mempelajarinya sendiri melalui HP. Saat itu, desain masih menjadi keterampilan yang terus ia asah, tanpa mengetahui sejauh mana kemampuan tersebut akan membawanya.

Di balik keinginannya untuk bekerja sejak muda, ada kehilangan yang turut membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan. Ayah Ade meninggal ketika ia masih duduk di kelas III SMP. Kehilangan tersebut menjadi salah satu titik yang mendorongnya untuk belajar mandiri lebih cepat. Ia tidak ingin terus bergantung secara finansial kepada ibu dan kakaknya. Ia ingin mampu memenuhi kebutuhannya sendiri sekaligus meringankan beban keluarga.

Keinginan itu perlahan menemukan jalannya melalui desain grafis. Ketika duduk di kelas XII SMK, Ade memperoleh klien pertamanya, sebuah usaha konveksi di Banyumas yang membutuhkan desain untuk feed Instagram. Ia mendapatkan bayaran sekitar Rp600 ribu per bulan, dengan target kurang lebih satu desain setiap hari atau sekitar Rp20 ribu per desain.

Bagi Ade, pekerjaan tersebut menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar daripada sekadar hobi. Kemampuan yang dipelajari secara mandiri mulai menghasilkan uang. Ia belajar memenuhi kebutuhan klien, menyelesaikan pekerjaan sesuai target, dan memahami bahwa keterampilan yang diasah dengan tekun dapat memiliki nilai ekonomi.

Setelah lulus SMK, Ade sebenarnya tidak berencana melanjutkan kuliah. Ia lebih memilih bekerja. Namun, kesempatan memperoleh beasiswa KIP-K mengubah rencananya. Ia akhirnya melanjutkan pendidikan di jurusan Informatika sambil mempertahankan pekerjaannya sebagai desainer.

Memasuki masa kuliah, Ade mulai memperluas jangkauan pekerjaannya ke pasar internasional. Ia terinspirasi oleh teman-teman di komunitas desain yang telah lebih dahulu memperoleh klien luar negeri. Melihat peluang tersebut, ia memberanikan diri mencoba.

Keyakinannya sederhana.

β€œKalau mereka bisa, saya juga pasti bisa.”

Usahanya perlahan berkembang. Ade mulai bekerja dengan sejumlah studio desain yang melayani klien luar negeri. Kini, sekitar empat sampai lima studio rutin menggunakan jasanya. Kliennya beragam, mulai dari individu dan YouTuber hingga Virtual YouTuber (VTuber). Salah satu proyek besar yang pernah ditanganinya adalah Fandom Flush Studio, penyedia merchandise resmi untuk berbagai fandom, termasuk Marvel dan K-Pop.

Namun, perkembangan pekerjaan itu tidak serta-merta menghilangkan keterbatasan yang pernah dihadapinya. Klien internasional membutuhkan desain dengan resolusi dan detail tinggi. Beberapa studio juga meminta berkas master yang kompatibel dengan PC atau laptop, sementara Ade masih mengandalkan HP untuk mengerjakan desain. Perbedaan antara tuntutan pekerjaan dan perangkat yang dimiliki sempat menjadi penghambat.

Meski demikian, Ade tidak berhenti mengembangkan kemampuannya. Ia merasakan bahwa klien tetap menghargai hasil pekerjaannya, bukan semata-mata perangkat yang digunakan untuk membuatnya. Pengalaman tersebut membuatnya terus berusaha meningkatkan kualitas desain di tengah keterbatasan yang ada.

Perjalanannya pun tidak selalu berjalan mulus. Ade pernah menjadi korban penipuan setelah menerima tawaran proyek dengan bayaran besar. Seusai mengerjakan pekerjaan tersebut, ia menerima email pembayaran palsu dan diminta mengembalikan sejumlah uang. Karena belum memahami modus penipuan itu, ia akhirnya mengalami kerugian.

Komentar meremehkan dari orang-orang di sekitarnya juga pernah ia terima. Namun, Ade memilih tetap berfokus pada pekerjaan dan kemampuannya. Ia tidak ingin perkataan orang lain menentukan sejauh mana dirinya dapat berkembang.

Pilihan tersebut menuntut tanggung jawab yang tidak sedikit. Sebagai mahasiswa, Ade harus membagi waktu antara pekerjaan desain, tugas kuliah, ujian akhir semester, dan kehidupan sehari-hari. Ia juga perlu mengoordinasikan empat pekerja yang kini membantunya. Dari penghasilan desain, ia membiayai kebutuhan kuliah dan transportasinya sendiri.

Proses pengerjaan desain grafis yang dilakukan Ade Saputra.

Perjalanan yang dahulu hanya berawal dari HP kini membawanya pada pencapaian yang lebih besar. Ade berhasil membeli laptop dengan spesifikasi tinggi yang telah diimpikannya sejak SMK secara tunai, dengan harga belasan juta rupiah. Ia juga membeli gawai secara tunai untuk menunjang pekerjaannya sebagai desainer.

Ketika diminta menyampaikan sesuatu kepada dirinya sendiri di masa SMK, Ade memilih mengungkapkan rasa bangga.

β€œSaya sangat bangga pada dia.”

Ia bangga karena dirinya yang dahulu bersedia mengurangi waktu bermain dan nongkrong untuk mengasah keterampilan serta membangun bisnis. Baginya, perjuangan dan konsistensi pada masa itu menjadi bagian penting dari pencapaiannya sekarang.

Kini, HP yang dahulu menjadi satu-satunya perangkat untuk belajar desain telah menjadi bagian dari cerita awal perjuangannya. Dari layar kecil itu, Ade belajar bahwa kesempatan tidak selalu datang bersama fasilitas yang sempurna. Ia memulai dengan apa yang dimilikinya, mengembangkan kemampuan secara mandiri, dan terus mencoba meskipun menghadapi berbagai hambatan.

Kehilangan ayah tidak dapat diubah, tetapi Ade terus membangun langkahnya sendiri untuk menjalani kehidupan. Melalui desain grafis, ia menemukan cara untuk memperoleh penghasilan, memenuhi kebutuhan kuliah, dan mengembangkan pekerjaan yang kini melibatkan orang lain.

Dari sebuah HP, ia belajar desain. Dari desain seharga Rp20 ribu, ia belajar menghasilkan uang. Kini, keterampilan yang dahulu diasah dalam keterbatasan membantunya membangun masa depan dengan kemampuannya sendiri. Perjalanan Ade menjadi pengingat bahwa seseorang tidak harus menunggu memiliki fasilitas lengkap untuk memulai. Terkadang, langkah kecil yang dikerjakan dengan konsisten justru menjadi awal dari perubahan besar.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme