Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Dukun Bayi: Merawat Kehidupan di Antara Tradisi dan Zaman Modern

Posted on Oktober 9, 2026Oktober 9, 2026 by zulfa izaz
Mbah Sanis Dukun Bayi di Desa Karangmangu, Kroya (Dok: Septia)

CILACAP, SudutNalar – Aroma minyak telon dan beras kencur menyeruak lembut di sebuah sudut ruangan, membawa kehangatan yang tak asing bagi mereka yang mengenal sosok Sanis. Dengan jemari keriput namun penuh kelembutan, perempuan tua itu dengan cermat mengusapkan minyak hangat ke tubuh mungil seorang bayi. Tidak ada keraguan dalam gerakannya, hanya ada pengalaman berpuluh tahun yang telah mengalir dalam darahnya secara turun-temurun.

Sanis telah mengabdikan hidupnya sebagai dukun bayi sekitar tahun 2005. Keahlian ini bukan sekadar profesi yang dipelajarinya dari buku, melainkan warisan leluhur yang mengalir di keluarganya. Dahulu, di era ketika akses kesehatan modern masih terbatas, peran dukun bayi seperti Sanis begitu krusial. Warga desa menggantungkan harapan keselamatan ibu dan anak di tangan-tangan hangat mereka saat persalinan tiba.

​”Dulu kan keturunan. Dulu kan suka ngelahirin sendiri, sekarang kan enggak boleh,” kenang Sanis saat menceritakan awal perjalanan profesinya.

Namun, zaman terus bergerak maju. Regulasi kesehatan kini melarang persalinan dilakukan secara mandiri oleh dukun bayi guna menekan angka kematian ibu dan bayi. Alih-alih merasa tersisih atau gigit jari, Sanis memilih untuk beradaptasi. Sanis memeluk perubahan zaman dengan penuh kerendahan hati. Ia tidak lagi memimpin proses persalinan secara mandiri, melainkan bertransisi menjadi mitra setia bagi para bidan dan dokter di desanya.

Kini, fokus pengabdian Sanis beralih pada perawatan pascapersalinan. Setelah bidan atau dokter menyelesaikan proses medis terutama di tengah maraknya prosedur persalinan sesar saat ini Sanis hadir untuk melengkapi. Ia bertugas memandikan bayi yang baru lahir, merawat tali pusat (nyepat), hingga memberikan stimulasi pijat laktasi bagi sang ibu agar air susu ibu (ASI) dapat keluar dengan lancar.

Bagi Sanis, batasan medis bukanlah penghalang, melainkan panduan keselamatan. Ia sepenuhnya patuh pada aturan kesehatan modern. Perut ibu tidak lagi diurut sembarangan dan kepala bayi yang rentan tak pernah dipijat keras. Baginya, keselamatan ibu dan anak adalah prioritas utama yang melampaui ego tradisi.

“Menyesuaikan yang sekarang. Menyesuaikan dokter atau bidan. Kalau perut enggak boleh diurut ya enggak diurut, kepala enggak boleh dipijit ya enggak. Nurut atasannya,” tegas Sanis.

Di balik pengabdian panjangnya, ada prinsip kemanusiaan yang begitu menyentuh hati. Sanis tidak pernah sekali pun menetapkan tarif atas jasa yang ia berikan. Dari dahulu hingga kini, ia menerima apa pun pemberian warga dengan penuh rasa syukur dan sukarela. Rasa tidak tega dan rasa keterikatan batin dengan warga desa membuat Sanis enggan mematok harga. 

​”Enggak, sukarela. Enggak enak kalau mau menentukan bayarannya. Terserah yang mau ngasih berapa,” tuturnya polos. Nilai keikhlasannya ini membuktikan bahwa pelayanan sosial dan kepedulian antarsesama masih hidup di tengah gempuran komersialisasi zaman.

Bagi Sanis, kebahagiaan terbesar tidak diukur dari lembaran uang yang dibawanya pulang, melainkan saat melihat tangis sehat seorang bayi yang baru lahir dan senyum lega dari sang ibu. Hubungannya yang harmonis dengan bidan desa serta tenaga kesehatan setempat menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal dan keahlian medis modern dapat berjalan berdampingan secara selaras.

Di tengah dunia yang terus berubah dengan cepat, kehangatan tangan dan ketulusan hati Sanis tetap menjadi ruang yang menentramkan. Ia adalah jembatan yang menghubungkan tradisi masa lalu dengan keselamatan masa depan, sebuah pengingat bahwa ketulusan merawat kehidupan tak akan pernah usang ditelan zaman.

Penulis: Septia Berliana

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme