Oleh : Isyana Nur Fadhillah

PURWOKERTO, SudutNalar – Sekitar pukul 10 pagi, Imam Mahruri mulai menjalani aktivitasnya sebagai penjual siomay keliling. Sebelum berkeliling, ia menyiapkan dagangan terlebih dahulu. Gerobak kemudian dibawa menyusuri jalan, mencari pembeli dari satu tempat ke tempat lain. Pekerjaan tersebut telah dijalani Imam selama sekitar delapan bulan.
Imam tinggal di Perumahan Griya Satria, Sumampir, bersama teman-teman yang juga bekerja sebagai penjual siomay. Ia berasal dari Cilacap. Pekerjaan tersebut didapatkannya ketika sedang tidak bekerja. Saat itu, ia menemukan informasi lowongan melalui Facebook. Meski belum memiliki pengalaman berjualan, Imam mencoba pekerjaan tersebut.
“Awalnya itu lagi nggak kerja, terus iseng-iseng scroll social media di Facebook. Ada tawaran, saya coba hubungin terus suruh datang dan langsung kerja,” ujar Imam.
Hari-hari pertama menjadi masa penyesuaian bagi Imam. Ia belum terbiasa dengan sistem berjualan di jalan dan belum mengetahui area yang cocok untuk berjualan. Keadaan semakin terasa berat karena saat pertama bekerja bertepatan dengan bulan puasa. Pembeli tidak selalu ramai sehingga Imam harus belajar bersabar menunggu pelanggan.
Memasuki bulan kedua dan ketiga, Imam mulai terbiasa. Ia lebih sering berjualan di sekitar area yang sudah dikenalnya. Jalan yang dilaluinya cukup ramai, tetapi jumlah pembeli tetap tidak menentu. Ada saat ketika pembeli datang silih berganti, tetapi ada pula beberapa jam tanpa pelanggan.
Ketika suasana sedang sepi, Imam tidak hanya duduk menunggu. Ia memanfaatkan waktu tersebut untuk membersihkan tempat berjualan atau menyiapkan batagor. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari aktivitasnya ketika belum ada pembeli.
“Namanya jualan pasti ada hari yang sepi. Kalau sehari penuh nggak ada yang beli nggak pernah sih, Alhamdulillah.” katanya.
Selain sepi pembeli, cuaca juga menjadi tantangan. Ketika hujan turun, orang lebih sulit berhenti untuk membeli. Imam menggunakan mantel saat harus berpindah tempat. Ketika panas, ia mencari tempat yang teduh agar tetap bisa menjalankan pekerjaannya.
Gerobak yang menjadi bagian dari pekerjaannya juga pernah mengalami masalah. Pada awal bekerja, roda belakang gerobak sempat tidak bisa berbelok sehingga menyulitkan Imam bermanuver. Namun, ia tidak menghadapinya sendirian. Imam langsung menghubungi tim dan masalah tersebut diselesaikan bersama.
Ada pula pengalaman lain yang masih diingatnya, yaitu ketika pernah ditipu oleh pembeli. Seorang pembeli mengaku uangnya tertinggal dan meminta barang terlebih dahulu, tetapi tidak kembali. Pada kesempatan lain, ada pembeli yang meminta uang untuk mengisi bensin dengan alasan tidak membawa dompet, tetapi juga tidak kembali.
Bagi Imam, kejadian tersebut tidak perlu dipermasalahkan terlalu jauh.
“Kalau urusan balik ya masih rezeki. Kalau enggak ya udah lah ikhlas,” ucapnya.
Dalam pekerjaannya, Imam mengatakan bahwa hal yang paling berat bukan hanya berjalan atau menghadapi cuaca, melainkan kesabaran dalam menunggu pelanggan. Ketika dagangan ramai, ia bisa merasa senang meskipun harus melayani pembeli dengan cepat. Sebaliknya, ketika hasil penjualan sedikit, rasa lelah menjadi lebih terasa karena ia tetap harus melakukan setoran.
Imam bekerja dengan sistem bagi hasil. Ia mendapatkan 30 persen dari omzet penjualan dan bertugas menjual tanpa terlibat dalam proses produksi. Biasanya, ia mulai berjualan sekitar pukul 10 pagi hingga magrib, kemudian masih berkeliling sampai sekitar pukul 19.00 atau 19.30.
Penghasilan dari pekerjaan tersebut bukan menjadi sumber utama keluarganya karena istrinya juga bekerja. Namun, penghasilan itu tetap membantu kehidupan mereka. Istrinya tinggal di Jawa Barat, sehingga jarak dengan keluarga menjadi salah satu hal yang paling terasa bagi Imam selama bekerja.
Saat pekerjaan terasa melelahkan, Imam biasanya beristirahat, mengobrol dengan teman, atau sekadar minum kopi. Baginya, berbagi cerita dengan rekan kerja cukup untuk membuat pikiran lebih tenang dan kembali bersemangat menjalani pekerjaan keesokan harinya.
Delapan bulan menjadi penjual siomay membuat Imam tidak hanya mendapatkan penghasilan. Ia juga belajar tentang pelayanan dan kebersihan. Menurutnya, rasa makanan bukan satu-satunya hal yang membuat pembeli kembali. Cara melayani dan menjaga kebersihan juga penting untuk mendapatkan kepercayaan pelanggan.
Di balik pekerjaannya, Imam menyimpan harapan sederhana. Ia ingin memiliki kehidupan yang lebih baik, mempunyai usaha sendiri, dan memiliki tempat tinggal sendiri. Dalam waktu dekat, ia berharap penghasilannya bisa lebih baik agar istrinya tidak perlu bekerja.
Bagi orang yang hanya melihatnya sebagai penjual siomay keliling, mungkin yang terlihat hanya sebuah gerobak dan makanan yang dijajakan. Namun, bagi Imam, pekerjaan itu menjadi jalan untuk bertahan, belajar, dan menyiapkan kehidupan yang lebih baik.
“Jangan pernah meremehkan semua pekerjaan. Semua pekerjaan itu berarti, apalagi pekerjaan yang halal,” kata Imam.
Gerobak itu mungkin hanya bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Namun, bagi Imam, setiap perjalanan di baliknya membawa satu harapan, pulang dengan rezeki yang cukup dan suatu hari mampu memberikan kehidupan yang lebih baik untuk keluarganya.
