Sudutnalar.com, 8 Oktober 2026

PURWOKERTO, SudutNalar—Saat sebagian orang masih terlelap, pekerjaan Ngasirah telah dimulai di rumahnya di Desa Kaliwedi, Kecamatan Kebasen. Kedelai direbus dan dibersihkan sebelum diolah menjadi tempe. Pekerjaan itu tidak selesai dalam waktu singkat. Ada tahap demi tahap yang harus dilalui, terlebih karena Ngasirah memilih mempertahankan cara lama dengan menggunakan daun sebagai pembungkus.
Daun harus tersedia. Tali dari bambu harus disiapkan. Setelah kedelai selesai diolah, Ngasirah membungkus satu per satu dengan tangan. Tidak ada proses yang bisa dilakukan dengan terburu-buru. Semuanya membutuhkan ketelitian dan tenaga.
“Proses buat tempe panjang, capek sekali. kadang sampai bergadang, bahkan bisa tidak tidur sama sekali,” ujar Ngasirah.
Rutinitas itu telah dijalaninya sejak 2018. Saat itu, ngasirah melihat kebutuhan sederhana di lingkungan tempat tinggalnya. Belum ada warga yang menjual tempe. Mereka yang ingin membeli harus pergi ke pasar yang jaraknya sekitar 15 menit dari tempat tinggal mereka. Dari situlah muncul gagasan untuk membuatnya sendiri.
Ngasirah tidak memulai dengan modal yang besar. Hanya tiga kilogram kedelai yang sanggup dibelinya ketika pertama kali menjalankan usaha. Jumlah yang kecil itu menjadi awal dari pekerjaan yang kemudian menopang kehidupan keluarganya.
Ngasirah memiliki lima anak. Kebutuhan sehari-hari harus tetap dipenuhi, sementara beberapa di antaranya masih bersekolah. Karena itu, penghasilan dari membuat dan menjual tempe memiliki arti penting bagi keluarganya.
“Kalau tanpa usaha ini, bagaimana keluarga kami hidup untuk makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tuturnya.
Sejak awal, pekerjaan itu tidak dikerjakan sepenuhnya oleh dirinya. Ngasirah mengolah kedelai hingga pembungkusan tempe selesai. Sementara suaminya, Katam, membantu mencari daun dan menyiapkan tali bambu yang digunakan untuk mengikat.
Setelah proses produksi selesai, tugas Katam kembali berlajut. Tempe-tempe yang telah dibungkus dibawa berkeliling dari rumah ke rumah. Ia menjajakannya dengan berjalan kaki.
Hari-hari mereka berjalan dengan pola yang hampir sama. Ngasirah berkutat dengan kedelai dan daun di rumah, sedangkan Katam membawa hasilnya mencari pembeli. Dari pekerjaan yang dilakukan berulang-ulang itulah kebutuhan keluarga perlahan terpenuhi.
Namun, perjalanan mereka tidak selalu mudah.
Pandemi Covid-19 menjadi salah satu masa yang paling berat. Aktivitas masyarakat dibatasi sehingga Katam tidak leluasa menjual dagangannya. Di sisi lain, harga kedelai juga meningkat. Bagi usaha rumahan yang sejak awal dibangun dengan modal terbatas, kenaikan bahan baku menjadi persoalan tersendiri.
“Dulu waktu covid susah sekali, apalagi kedelai juga mahal,” kenang Ngasirah.
Meskipun demikian, kebutuhan keluarga tidak ikut terhenti. Makan, biaya sehari-hari, dan kebutuhan anak-anak tetap harus dipenuhi.
Mereka pun tetap menjalani usaha tersebut hingga waktu perlahan mengubah keadaan. Tempe yang semula hanya dijual berkeliling mulai dikenal banyak orang. Pelanggan berdatangan dari berbagai kebutuhan. Tidak hanya untuk dikonsumsi sehari-hari, beberapa orang mulai memesan dalam jumlah lebih banyak untuk hajatan dan sebagainya.
Perkembangan itu terlihat jelas dari jumlah kedelai yang mampu diolah. Jika pada awalnya Ngasirah hanya mampu membuat tempe dari tiga kilogram kedelai, kini jumlahnya dapat mencapai 18 kilogram dalam sekali produksi.
Angka tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi Ngasirah tersimpan tahun-tahun yang tak mudah. Ada lelah, ada kesulitan, dan ada keluarga yang selalu menjadi alasan untuk terus melangkah.
Kini, setiap bungkus tempe yang keluar dari rumahnya bukan sekadar hasil dari kedelai yang diolah, tetapi juga menjadi bukti bahwa dari pekerjaan sederhana, sebuah keluarga dapat terus menggantungkan harapan.
Penulis : Puspita Dewi
