Oleh: Gevira Dewi

JAKARTA, SudutNalar – Deru mesin bus TransJakarta dan dentum roda truk kontainer melintasi Jalan Raya Tomang tanpa henti. Di balik bisingnya arus lalu lintas Jakarta Barat, sehembus angin membawa debu jalanan hinggap di atas lembaran kertas bergambar. Di atas rumput dan rindangnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) di pinggir jalan raya, belasan pasang mata mungil menatap penuh semangat ke arah sebuah papan tulis portable.
Lapak belajar ini memang tak lagi berdiri di bawah lantai semen yang dingin dan remang di kolong flyover Tomang seperti tahun-tahun sebelumnya. Setelah sempat lama beraktivitas di bawah himpitan tiang beton flyover, kegiatan belajar kini telah berpindah ke area taman terbuka hijau yang lebih segar dan lapang. Namun, semangat yang menyala di sana tak pernah berubah sedikit pun.
Setiap hari Minggu pukul 14.00 hingga 16.00 WIB, sudut taman kota ini mendadak menjelma menjadi ruang belajar bernyawa. Inilah tempat bernaung Komunitas Along, sebuah gerakan pendidikan sosial yang konsisten merawat mimpi anak-anak kurang mampu di seputar area Tomang sejak September 2009.
Sebelum kelas dimulai, gema suara mungil anak-anak membahana menembus kebisingan kota. Dengan tangan tegak bersikap hormat, sekitar 60 murid dari jenjang PAUD, SD, hingga SMP menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama. Prosesi tersebut disusul doa menurut ajaran agama masing-masing, menanamkan nilai persatuan sejak dini.
βAwalnya saya cuma tergerak untuk mengajar anak-anak pemulung di pinggir kali,β tutur Uli Zainuddin Simbolon, pendiri Anak Mentari Indonesia yang telah 17 tahun mengabdi mengajar secara gratis.
Anak-anak dari pemukiman sekitar pun kian berdatangan seiring berjalannya waktu. Uli menegaskan bahwa kelasnya terbuka bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang.
“Perbedaan itu bukan hambatan, melainkan alasan untuk kita saling merangkul dan belajar bersama,” ujarnya.
Sistem pembelajaran di komunitas ini disusun sangat terstruktur tiap minggunya. Minggu pertama dan ketiga diisi dengan pendalaman materi akademik seperti Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Minggu kedua difokuskan pada kegiatan literasi membaca untuk melatih keberanian anak berpendapat. Sementara minggu terakhir diisi dengan kelas keterampilan, seperti menggambar, melukis, bermain musik, hingga menanam.
Selain belajar di ruang terbuka, Komunitas Along juga membuka cakrawala anak-anak ke dunia luar. Para relawan secara berkala membawa anak-anak belajar menggunakan transportasi umum TransJakarta, mengunjungi museum Planetarium di Taman Ismail Marzuki untuk mengenal tata surya, menonton film di bioskop, hingga berkunjung ke Monumen Nasional.

Bagi anak-anak kurang mampu, ruang belajar di taman pinggir jalan adalah tempat mereka berani menggantungkan cita-cita. Salah satunya adalah Kemal, seorang bocah yang dengan bangga menunjukkan selembar kertas bertuliskan tangan: ‘Kemal Punya CITA CITA Menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia)’.
Prinsip UUD 1945 Pasal 31 (1) NRI 1945 yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan benar-benar dihidupkan di sini. Meskipun diapit keterbatasan ekonomi keluarga dan latar belakang tempat tinggal yang serba terbatas, senyum ceria anak-anak tak pernah padam saat mereka memegang buku bacaan.
Matahari sore mulai tenggelam, menyisakan bayang-bayang panjang tiang beton flyover Tomang. Di antara langkah-langkah mungil yang berjalan pulang membawa buku, satu hal menjadi jelas: kolong jalan raya ini mungkin sempit dan bising, tetapi mimpi-mimpi yang lahir dari sana tak pernah terlalu kecil untuk terbang tinggi.
