Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Mereka Tertinggal, Tapi Tak Ditinggalkan

Posted on Oktober 9, 2026 by zulfa izaz
Proses pembelajaran matematika di salah satu SMP di Pemalang. Guru berupaya menciptakan suasana belajar yang nyaman bagi siswa. (Foto: Nur Alya Nabila).

PEMALANG, SudutNalar – Pelajaran matematika di sebuah SMP di Pemalang kerap dimulai sebelum murid sempat duduk. Satu per satu mereka dipanggil untuk menjawab sebuah soal perkalian. Tangan-tangan terangkat. Mereka yang menjawab benar boleh langsung masuk kelas. Kebiasaan serupa kembali dilakukan pada akhir pelajaran. Siswa yang mampu menjawab boleh langsung pulang.

Kebiasaan itu dijalankan Windi Anjani, guru matematika di sekolah tersebut, sejak mulai mengajar pada 2022. Meski murid-muridnya telah duduk di bangku SMP, Windi tetap meminta mereka menghafal perkalian.

“Murid-murid saat ini kurang fokus ketika pembelajaran matematika. Banyak juga yang belum bisa perkalian, padahal itu dasar yang harus dikuasai sebelum masuk jenjang menengah pertama,” ujar Windi.

Matematika bagi sebagian siswa bukan pelajaran yang mudah. Bahkan, mata pelajaran itu kerap dianggap menakutkan. Windi memahami anggapan tersebut dan berusaha mengubah pengalaman siswa ketika berhadapan dengan angka.

“Citranya sudah sangat menyeramkan. Banyak yang bilang matematika itu sulit,” katanya.

Windi memulainya dengan membangun kedekatan bersama murid. Menurutnya, sebelum siswa menyukai mata pelajaran yang diajarkan, mereka perlu merasa nyaman dengan gurunya. Karena itu, ia berusaha menciptakan interaksi yang nyaman, tetap dalam batas kesopanan, kemudian memadukan permainan dan teknologi dalam pembelajaran.

Cara tersebut membuat siswa lebih antusias. Bagi Windi, salah satu momen yang paling menyenangkan adalah ketika murid justru menunggu pelajaran matematika dimulai.

“Ketika peserta didik merasa senang, excited, bahkan menunggu saya untuk memulai pembelajaran,” ujarnya.

Namun, tidak semua murid dapat mengikuti pembelajaran dengan kecepatan yang sama. Di sekolah tempat Windi mengajar, terdapat dua siswa kelas VIII yang masih kesulitan berhitung. Penjumlahan saja belum mereka kuasai, terlebih perkalian.

“Penjumlahan pun masih kurang, masih belum bisa, apalagi perkalian,” kata Windi.

Kondisi itu tidak membuat Windi membiarkan keduanya mengikuti pelajaran seperti biasa. Ia menyediakan waktu tambahan, baik sepulang sekolah maupun saat jam istirahat. Ketika siswa lain mengerjakan soal di kelas, Windi menyisihkan waktu untuk mengajari keduanya kembali dari dasar, mulai dari penjumlahan hingga perkalian.

Keduanya pun memberikan respons yang berbeda. Salah satu siswa merasa senang karena pendampingan tersebut membantu. Sementara siswa lainnya justru merasa tertekan dan kerap mencari alasan agar tidak mengikuti kelas tambahan.

Perbedaan kemampuan juga membuat Windi tidak menggunakan satu pola pembelajaran untuk seluruh siswa. Ia menyiapkan tiga Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) dengan tingkat berbeda bagi siswa berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Siswa kemudian dikelompokkan sesuai kebutuhannya. Bagi siswa yang malu bertanya kepada guru, Windi menggunakan tutor sebaya.

Tantangan lain muncul dari siswa yang mudah ikut-ikutan. Satu siswa yang sulit fokus dapat mengajak teman-temannya bercanda hingga mengabaikan pelajaran. Namun, pengalaman mengajar selama bertahun-tahun membuat Windi tidak lagi melihat kegaduhan hanya sebagai kenakalan.

“Misalkan mereka dari keluarga yang, mohon maaf, broken home. Mereka kadang tidak fokus belajar di sekolah. Mereka hanya mencuri perhatian kita, entah dengan berbuat nakal, ngobrol di kelas, atau apa pun,” tuturnya.

Windi mengaku dulu lebih mudah marah atau kesal ketika menghadapi perilaku seperti itu. Kini, ia memilih mencoba memahami sudut pandang murid terlebih dahulu.

“Setelah kita cari tahu lebih dalam, kita lihat perspektifnya mereka, jadi bisa belajar untuk saling menghargai lagi. Untuk menerima bahwa apa yang kita mau belum tentu itu yang kita dapat,” ujarnya.

Bagi Windi, matematika juga bukan sekadar persoalan menghitung dan mendapatkan jawaban yang benar. Ia ingin siswa membawa cara berpikir yang mereka pelajari di kelas ke kehidupan sehari-hari.

“Saya ajarkan bagaimana menyelesaikan sebuah permasalahan, supaya pola pikirnya bermanfaat ketika mereka hidup di tengah masyarakat,” katanya.

Keinginan menjadi guru sudah tumbuh sejak Windi kecil. Lingkungan keluarganya yang banyak berprofesi sebagai guru turut memengaruhi pilihannya. Ia kemudian memilih matematika karena menyukai ilmu tersebut.

“Itu ilmu pasti. Mau caranya berbeda, hasilnya tetap sama,” katanya.

Hingga kini, Windi mengaku tidak pernah merasa ingin berhenti mengajar. Ketika ditanya tentang harapannya kepada para siswa, ia tidak menyebut nilai ataupun peringkat. Ia justru mengingatkan mereka dengan satu kalimat yang terus ia ulang.

“Kalau kalian tidak bisa melakukan satu hal, maka kalian jangan meninggalkan semuanya,” katanya.

Kalimat itu menjadi gambaran dari cara Windi menghadapi dua siswa kelas VIII yang masih berjuang menguasai penjumlahan dan perkalian. Di balik satu soal yang menunggu di pintu kelas, ada siswa yang belum mampu mengejar kemampuan teman-temannya.

Namun, bagi Windi, tertinggal bukan berarti harus ditinggalkan. Ia memilih memberi waktu, mencari cara, dan mendampingi mereka sampai kembali menemukan langkahnya.

Mereka mungkin belum sampai. Tetapi setidaknya, mereka tidak berjalan sendirian.

Penulis: Nur Alya Nabila 

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme