Oleh Nisa Nigella Sativa

Penulis Antologi Sajak La Caèri (Dok. Pribadi Bryna Fakhrina Rachmaniyya)
SLEMAN, SUDUTNALAR.COM — Di antara halaman diary yang dipenuhi catatan harian, Bryna Fakhrina Rachmaniyya menemukan tempat untuk menyimpan hal-hal yang tidak mudah ia ceritakan. Rasa kesal, kecewa, kegagalan, dan kesedihan ia ubah menjadi kata-kata. Dari kebiasaan sederhana sejak sekolah dasar, tumbuh seorang penulis yang ingin mengabadikan perasaan sekaligus mengajak pembaca memahami luka dan ketimpangan sosial di sekitarnya.
Ketertarikan Bryna pada dunia menulis bermula ketika ia duduk di bangku sekolah dasar. Kala itu, ia bercita-cita menjadi penulis buku KKPK. Perjalanan tersebut tidak dimulai dengan karya besar, melainkan dengan cerita harian yang ditulis dalam diary.
“Tulisan pertama yang dibuat, tentu cerita harian. Dulu aku suka banget nulis diary,” ujar Bryna.
Diary menjadi ruang pribadi baginya untuk menuliskan peristiwa sehari-hari, mulai dari hal yang membuatnya kesal hingga perasaan yang sulit disampaikan kepada orang lain. Saat bercerita kepada orang lain terasa tidak mudah, halaman kosong menjadi tempat yang lebih aman untuk menaruh isi kepalanya.
“Aku orangnya susah cerita sama orang. Dengan menulis diary itu jadi mediaku buat mengekspresikan perasaan,” katanya.
Dari kebiasaan itu, Bryna belajar merangkai kata. Ia juga memahami bahwa tulisan tidak selesai hanya ketika kalimat terakhir dibuat. Setiap tulisan perlu dibaca kembali agar ia dapat menemukan kata yang kurang tepat dan memperbaiki pesan yang ingin disampaikan.
“Satu kali pembuatan itu nggak cukup. Perlu dibaca lagi lain kali. Dari pembacaan ulang itu, barulah ketemu, harusnya kata ini nggak begini,” tuturnya.
Salah satu karya yang paling membekas dalam ingatannya adalah puisi tentang langit yang dibuat saat mengikuti perlombaan di sekolah dasar. Puisi tersebut lahir dari pengamatan sederhana, tetapi maknanya semakin terasa ketika ia membacanya kembali.
“Langit warnanya nggak mesti biru terang. Bisa biru gelap. Tapi langit tetap bermanfaat bagi manusia,” ucapnya.
Bagi Bryna, langit adalah gambaran kehidupan manusia. Hidup tidak selalu berjalan mulus. Ada kegagalan, ujian, dan masa-masa gelap yang harus dilalui. Namun, keadaan sulit itu tidak serta-merta menghapus nilai seseorang. Seperti langit yang tetap menaungi bumi ketika warnanya gelap, manusia tetap dapat memberi manfaat meski sedang berjuang dengan masalahnya sendiri.
Dalam perjalanan menulisnya, Bryna mendapat dukungan dari orang tua, keluarga, dan teman-temannya. Dukungan tersebut membuatnya tidak ragu untuk melanjutkan minat di bidang kepenulisan. Namun, kesibukan sebagai pelajar tetap menjadi tantangan yang tidak mudah dihadapi.
Ketika aktivitas semakin padat, minat membaca Bryna menurun. Padahal, membaca menjadi sumber penting untuk menemukan ide dan memperkaya kosakata.
“Aku lagi di fase minat bacanya menurun karena kesibukan. Nah, dari minat baca menurun itu, berpengaruh juga dalam tulisanku. Aku jadi jarang punya topik,” ujarnya.
Untuk menemukan kembali semangatnya, Bryna membaca karya orang-orang yang ia kagumi. Ia menyukai tulisan ayahnya yang sederhana dan mengalir. Ia juga membaca karya Syahid Muhammad ketika membutuhkan kosakata baru, serta menemukan inspirasi dari tulisan temannya, Fatma.
Puisi menjadi genre yang paling banyak mendapatkan respons positif. Pembaca menilai puisinya dalam dan memiliki jiwa. Namun, ketika menulis cerpen, Bryna pernah menerima kritik bahwa pesannya belum tersampaikan sekuat puisinya. Kritik tersebut tidak membuatnya berhenti. Ia justru mulai tertarik mengembangkan cerpen, terutama cerita yang mengangkat isu ketimpangan sosial.
Momen paling berkesan dalam perjalanan kepenulisan Bryna terjadi ketika antologi sajak La Caèri terbit. Buku itu membuat lebih banyak orang mengetahui kegemarannya menulis. Pembaca baru pun hadir dan ikut mengikuti perjalanan yang ia bagikan melalui karya.
Namun, bagi Bryna, La Caèri bukan sekadar buku yang berhasil diterbitkan. Buku itu hadir ketika ia sedang berada dalam fase terpuruk.

“Terbitnya La Caèri itu obat buat aku. Soalnya waktu itu aku ada di fase down banget,” katanya.
Ia ingin kesedihan dan kegagalan yang dialaminya sepanjang 2023 hingga 2024 tidak berlalu tanpa makna. Pengalaman yang semula terasa seperti aib kemudian ia abadikan dalam tulisan agar dapat dibaca oleh banyak orang.
Melalui La Caèri, Bryna mengubah luka pribadi menjadi karya. Kesedihan tidak lagi hanya menjadi sesuatu yang disimpan sendiri, melainkan kesaksian bahwa seseorang dapat jatuh dan tetap menghasilkan sesuatu yang berarti.
Kini, arti menulis bagi Bryna terus berkembang. Menulis masih menjadi cara mengekspresikan perasaan, tetapi ia juga ingin menyampaikan isu sosial dalam bentuk yang dekat dengan anak-anak. Salah satu cerpennya terinspirasi dari berita tentang krisis identitas perempuan adat akibat kerusakan ekologi.
Melalui cerpen dan puisi, Bryna ingin mengenalkan isu ketimpangan sosial serta menumbuhkan empati pada pembaca muda.
“Kita mau berharap ke siapa lagi kalau bukan berharap ke anak-anak supaya mereka tumbuh lebih baik dari kita? Supaya mereka tumbuh dilengkapi dengan empati sosial di tengah dunia yang semakin individualis,” katanya.
Bryna menyadari bahwa arti menulis mungkin berubah sepuluh atau dua puluh tahun mendatang. Namun, hari ini, selama ia masih bernapas dan masih memiliki rasa, ia akan terus menulis. Dari diary, puisi tentang langit, hingga La Caèri, Bryna membuktikan bahwa kesedihan tidak selalu berakhir sebagai luka. Kadang, kesedihan dapat menjelma cerita yang membuat orang lain merasa lebih dipahami.
