Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Senyap Dapur Dini Hari dan Perjuangan Seorang Ibu

Posted on Oktober 9, 2026 by Zidan Diyaaul Haq

Sudutnalar.com, 8 Oktober 2026

Usaha Kantin Milik Muniroh (Foto : Dokumen Pribadi)

PURWOKERTO, SudutNalar — Aroma rempah mulai tercium saat asap tipis membubung dari wajan yang panas. Saat jarum jam menunjukkan pukul dua pagi, di sudut dapur yang masih sunyi, keheningan malam bagi Muniroh telah usai. Dengan tangan yang pegal, ia mulai menumbuk cabai merah di atas cobek batu untuk menyiapkan masakan katering hari itu.

Di saat sebagian besar orang masih lelap dalam tidur, Muniroh sudah berpacu dengan waktu. Dapur kecil di rumahnya bukan hanya tempat memasak, tetapi juga menjadi tumpuan utama untuk menyambung hidup keluarganya.

Perjalanan Muniroh mengurus usaha ini menyimpan kenangan pahit. Sebelum mengelola kantin, ia harus rela bekerja jauh dan berpisah dari anak-anak demi mencari nafkah. Ibunya kerap meminta Muniroh berhenti merantau dan pulang untuk melanjutkan usaha kantin keluarga. Namun, ajakan itu baru bisa ia wujudkan setelah sang Ibu meninggal dunia.

Memulai kembali usaha tanpa kehadiran sang Ibu terasa amat berat. Sepinya pembeli di awal jualan, modal yang terbatas, hingga rasa kantuk luar biasa akibat harus terbangun pukul dua pagi menjadi ujian harian di tengah desakan ekonomi.

Dinamika dan tekanan pekerjaan di dapur pun tak jarang menguras emosi serta tenaga Muniroh. Bagian yang paling banyak menyita energi ialah proses mengulek sambal secara manual menggunakan cobek batu. Muniroh menolak memakai blender karena ingin menjaga cita rasa autentik masakan yang disukai para pelanggannya.

​Pada suatu hari, ketika sisa tenaganya sudah hampir habis, tiba-tiba datang pesanan tambahan puluhan porsi tahu isi secara mendadak di luar rencana awal. Rasa lelah yang menumpuk dipadu dengan rasa panik karena stok bahan di dalam kulkas mulai menipis membuat fokusnya pecah. Racikan adonan tahu isi yang ia buat malah terlalu encer dan gagal total yang mengakibatkan tidak bisa digoreng.

​Di momen kritis itu, keinginan untuk menyerah dan menangis sempat terlintas kuat di pikirannya. Namun, Muniroh memilih untuk membuang rasa putus asa itu jauh-jauh. Ia menghela napas panjang, meracik ulang adonan dari awal, dan menyelesaikan seluruh pesanan tepat waktu.

“Lelah itu wajar, menangis juga boleh, tapi sebentar saja. Jangan kelamaan. Mengeluh tidak akan pernah menyelesaikan masalah,” ujar Muniroh. 

Sejak pandemi hingga sekarang, roda perekonomian terasa berputar semakin lambat. Bagi Muniroh, tidak ada istilah hari libur dalam kamus hidupnya. Berhenti memasak satu hari saja berarti ia harus siap menghadapi kesulitan untuk membeli beras, biaya listrik, hingga memenuhi kebutuhan sekolah anak-anaknya.

Rasa pegal yang menjalar di jemari dan punggungnya seketika terasa terbayar tuntas saat wadah-wadah masakan kembali dalam keadaan bersih tanpa sisa. Rasa capek itu makin tidak berbekas ketika disambut senyum puas dari para pelanggan yang melunasi pesanan mereka.

Sebagai seorang ibu yang berdiri tegak menjadi tulang punggung keluarga, Muniroh berhasil membuktikan bahwa harapan tidak akan pernah padam selama seseorang ingin terus berusaha dan pantang menyerah. Mengesampingkan rasa lelah demi masa depan anak-anaknya menjadi alasan utama Muniroh untuk tetap semangat dan bekerja keras setiap kali subuh menyapa. 

“Jalanin saja, belajar sabar, mandiri, dan berkarya sambil terus berdoa pada Gusti Allah. Minta diberi kesehatan dan jalan yang mudah. Yang penting jaga hati, tetap semangat, dan percaya pasti ada jalan bahagia,” ujar Muniroh menutup perbincangan dengan senyum hangat di wajahnya.

Saat matahari mulai terbit perlahan, nampan-nampan berisi makanan hangat telah tertata rapi di atas meja, siap untuk diantarkan kepada para pemesan. Dari balik kepulan uap dapur sederhana itu, tersaji sebuah mahakarya nyata tentang cinta, pengorbanan, dan keteguhan hati seorang ibu yang tak pernah padam demi keluarga.

Penulis            : Firliana Saraswati Prasetyoningrum

Editor              : Prajnya Aulia Patria Legawa

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme