Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Dari Jakarta ke Warung Kecil, Nurjanah Membangun Kembali Penghidupan Keluarga

Posted on Oktober 9, 2026Oktober 9, 2026 by Zidan Diyaaul Haq

Penulis : Damia Sifa Aulia Romansyah

SudutNalar, 6 Oktober 2026

Nurjanah, pemilik warung. (Sumber: Damia Sifa Aulia Romansyah)

PANGANDARAN, SudutNalar – Pukul 08.30, warung milik Nurjanah tampak sepi dari pembeli. Ia merapikan barang dagangan yang tersusun di dalam warung. Berbagai kebutuhan rumah tangga dan jajanan anak memenuhi ruang sederhana tersebut.

Namun, suasana itu berbeda beberapa jam sebelumnya. Warung tersebut buka sekitar pukul 05.30 dan sudah didatangi warga. Warung yang berada di rumah tersebut menjadi tempat warga sekitar mendapatkan berbagai kebutuhan tanpa harus pergi jauh.

Nurjanah sudah tinggal di Mangunjaya selama lima tahun. Ia menjalankan warung tersebut bersama suami, adik, dan terkadang anaknya. Usaha tersebut telah berjalan lebih dari satu tahun.

Sebelum menetap di Mangunjaya, Nurjanah dan suaminya menghabiskan waktu hampir 20 tahun di Jakarta. Nurjanah bekerja sebagai cleaning service. Sementara itu, suaminya, Ramdani, bekerja sebagai office boy.

Krisis akibat pandemi COVID-19 membuat Ramdani terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Keduanya kemudian memutuskan pulang ke kampung karena tidak ingin terus tinggal di kota tanpa pekerjaan.

“Suami kena PHK karena Corona. Daripada di kota menghabiskan uang tetapi tidak bekerja,” ujar Nurjanah.

Kepulangan itu membuat Nurjanah harus mencari cara untuk tetap memenuhi kebutuhan keluarga. Sebelum membuka warung, ia sudah berjualan parfum sejak sekitar 2015–2016. Ia masih menjalankan usaha tersebut dengan meracik dan menjual parfum sendiri.

Sementara itu, Ramdani berjualan tahu bulat keliling. Namun, penghasilan dari usaha tersebut belum cukup memenuhi kebutuhan keluarga. Kondisi itu mendorong Nurjanah untuk mencoba usaha lain dari rumah.

Warung tersebut awalnya menyediakan jajanan anak. Nurjanah juga membuat beberapa jenis jajanan untuk dijual. Perlahan, barang yang dijual bertambah.

“Awalnya saya menjual jajanan anak. Lama-lama mulai ramai, kemudian saya menambah minuman dan sabun,” kata Nurjanah.

Nurjanah kemudian menambah berbagai kebutuhan rumah tangga, seperti minyak, sabun mandi, sembako, dan jajanan anak kini tersedia di warung tersebut. Gas dan bensin juga mulai dijual beberapa waktu setelah warung berdiri.

Penambahan barang mengikuti kebutuhan warga sekitar. Beberapa pembeli sering menanyakan barang yang belum tersedia. Nurjanah kemudian memutar uang hasil penjualan untuk menambah stok.

“Sebagian pembeli bertanya, ‘Ini ada? Ada ini?’ Akhirnya barangnya kami tambah. Uang hasil penjualan diputar lagi untuk menambah stok,” ujarnya.

Setiap hari, warung menjadi bagian dari aktivitas keluarga Nurjanah. Ketika ada waktu luang, anggota keluarga ikut membantu menjaga warung. Bagi Nurjanah, usaha tersebut bukan sekadar tempat berjualan, tetapi juga cara untuk tetap memenuhi kebutuhan keluarga setelah kembali dari Jakarta.

Warung itu kini menjadi sumber penghasilan utama keluarga. Penghasilan dari warung digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk makanan dan jajanan anak.

“Dari warung, saya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti makanan dan jajanan anak. Alhamdulillah, kebutuhan sehari-hari tercukupi,” tutur Nurjanah.

Meski begitu, keinginan untuk mengembangkan warung tidak selalu berjalan mudah. Keterbatasan modal menjadi tantangan ketika Nurjanah ingin menambah barang dagangan.

“Tantangannya ketika ingin menambah barang, tetapi keuangan belum cukup,” katanya.

Bagi Nurjanah, kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti. Ia tetap menjalankan usaha bersama keluarganya. Keinginan untuk menambah barang terus ada, tetapi modal menjadi pertimbangan.

Dengan modal yang terbatas, Nurjanah memilih mengembangkan warung secara perlahan. Uang hasil penjualan diputar kembali untuk memenuhi kebutuhan warung. Cara itu membuat usaha tetap berjalan meskipun ia belum bisa menyediakan semua barang yang diinginkan.

“Rezeki itu tidak selalu ada setiap hari, tetapi dijalani saja. Intinya, disyukuri apa pun yang didapat hari ini, berapa pun hasilnya,” ujar Nurjanah.

Warung itu mungkin belum besar. Namun, tempat sederhana tersebut menjadi bagian penting dari kehidupan keluarga Nurjanah. Ia berharap warungnya dapat berkembang, memiliki tempat yang lebih luas, dan menyediakan lebih banyak barang.

“Saya ingin warung ini lebih besar lagi dan memiliki lebih banyak barang,” kata Nurjanah.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme