Penulis : Cintya Auliyanti

TEGAL, SudutNalar – Berbagai alat musik yang digunakan dalam pertunjukan Tari Topeng Endel tampak berada di sanggar budaya yang dikelola Purwanti. Perlengkapan kesenian tersebut menjadi bagian dari ruang tempat Purwanti merawat warisan budaya keluarganya. Dari tempat itu pula, cerita tentang Tari Topeng Endel yang telah melewati empat generasi terus hidup.
Di Desa Slarang Lor, Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten Tegal, Tari Topeng Endel bukan sekadar gerakan tari yang diwariskan dari masa lalu. Bagi Purwanti, tari tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab untuk menjaga peninggalan nenek moyang agar tidak berhenti pada satu generasi.
Purwanti merupakan generasi keempat dalam keluarganya yang meneruskan kesenian Tari Topeng Endel. Sebelum sampai kepadanya, kesenian itu telah melewati tiga generasi perempuan dalam keluarganya. Generasi pertama adalah Bu Darim, kemudian diteruskan oleh Mbak Warmi, lalu Sawitri, ibu Purwanti.
“Pertama namanya Bu Darim, terus keduanya Mbak Warmi, terus tiganya ini ibu saya, Sawitri,” ujar Purwanti ketika menceritakan garis pewarisan kesenian tersebut.
Kini, Purwanti tidak hanya menjadi penerus keempat. Ia juga berharap kesenian itu kelak diteruskan oleh anak perempuannya. Baginya, keberlanjutan Topeng Endel tidak berhenti pada dirinya.
Tari Topeng Endel sendiri telah dikenal dalam keluarganya sejak masa nenek moyang. Purwanti menyebut kesenian tersebut berasal dari keluarganya dan telah diwariskan secara turun-temurun. Ia mengenal Topeng Endel dari lingkungan budayanya sendiri.
“Dari budaya nenek saya sendiri, dari Slarang Lor yang diturunkan ke saya,” ujar Purwanti.
Menurut pengetahuan yang diterimanya dari generasi sebelumnya, Tari Topeng Endel pada masa lalu memiliki fungsi yang berbeda. Pada zaman Mbak Warmi, tari tersebut pernah digunakan sebagai hiburan dalam pesta sunatan. Sementara itu, Purwanti juga mendapat cerita bahwa kesenian tersebut berkaitan dengan penyambutan kerajaan.
Bagi Purwanti, mempelajari Topeng Endel bukan semata-mata karena kewajiban sebagai penerus keluarga. Ada keinginan dari dalam dirinya sendiri untuk tetap mempelajari kesenian tersebut.
Keinginan tersebut kemudian diwujudkan dengan tetap menjaga dan meneruskan Tari Topeng Endel melalui sanggar budaya yang dikelolanya. Sanggar tersebut menjadi ruang bagi Purwanti untuk mempertahankan kesenian yang telah diwariskan kepadanya sekaligus menjaga agar tradisi tersebut tetap memiliki keberlanjutan.
“Enggak mau kesenian orang-orang terdahulu saya itu hilang, harus ada penerusnya terus,” tuturnya.
Kekhawatiran akan hilangnya kesenian menjadi alasan yang terus mendorong Purwanti untuk bertahan. Ia ingin kesenian Jawa yang menjadi bagian dari keluarganya tetap berlanjut dan tidak sekadar menjadi cerita dari masa lalu.
Salah satu hal yang membuat Topeng Endel memiliki ciri tersendiri adalah penggunaan topeng dengan karakter dan warna tertentu. Purwanti menjelaskan bahwa terdapat beberapa jenis karakter topeng, di antaranya Patih, Krisna, Angklana, dan Layapan. Masing-masing memiliki karakter yang berbeda.
Topeng Krisna, misalnya, identik dengan warna merah. Sementara itu, terdapat pula karakter Layapan yang menggunakan warna merah muda. Menurut Purwanti, warna dan karakter topeng tersebut dapat menggambarkan watak tokoh yang diperankan.
Perbedaan karakter juga terlihat dari gerak tari. Purwanti menggambarkan karakter Krisna dengan gerakan yang berbeda dengan tokoh Panji. Jika Krisna memiliki gerakan yang lebih kuat, Panji digambarkan lebih kalem, menyerupai karakter Arjuna.
Di antara berbagai karakter tersebut, Topeng Endel memiliki kekhasannya sendiri. Purwanti menjelaskan bahwa Endel merupakan tari topeng yang khusus diperankan oleh perempuan. Topeng dan gerakannya menjadi bagian dari identitas kesenian yang terus ia pelajari dan pertahankan.
Empat generasi telah menjadi bagian dari perjalanan Topeng Endel dalam keluarga Sri Purwanti. Dari Bu Darim, Mbak Warmi, Sawitri, hingga dirinya, sebuah kesenian terus berpindah dari satu tangan ke tangan berikutnya.
Sebab bagi Purwanti, menjadi penerus bukan hanya soal meneruskan sebuah tarian. Ada warisan budaya, ingatan keluarga, dan rasa memiliki yang ikut dititipkan di dalamnya. Selama masih ada generasi yang bersedia belajar dan meneruskannya, Topeng Endel tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu, tetapi tetap memiliki kesempatan untuk hidup di masa depan.
