Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Di Usia Senja, Telo Masih Mengayuh Becak demi Bertahan Hidup

Posted on Oktober 9, 2026 by aflah amanullah

Penulis: Zalfa Nur Afiifah | Narasumber: Telo | Keterangan: Feature News | Rabu, 7 Oktober 2026 | 21.00 WIB

Telo dan becak tuanya di sudut Alun-Alun Purwokerto. (Dok. Zalfa Nur Afiifah)

BANYUMAS, SUDUTNALAR —  Di tengah hiruk-pikuk kawasan Alun-Alun Purwokerto, sebuah becak kayuh sederhana masih setia menjadi bagian dari pemandangan sudut kota. Di bawah gemerlap lampu malam dan megahnya gedung RITA Supermall, Telo berdiri dengan tenang di samping kendaraan tuanya. Pria berkaos biru dan bertopi lusuh yang berusia sekitar 70-an tahun itu masih mengandalkan kekuatan fisiknya untuk mengayuh becak demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.  

Bagi Telo, mengayuh becak bukan sekadar pekerjaan yang telah lama dijalani. Mengingat usia yang tak lagi muda dan terbatasnya pilihan pekerjaan, profesi tersebut menjadi satu-satunya sumber penghasilan utama yang masih ia miliki untuk menyambung hidup keluarga.

Setiap pagi, saat fajar baru menyingsing, Telo sudah bersiap berangkat bekerja sekitar pukul 06.00 hingga 07.00. Ia kemudian berkeliling mengarungi jalanan kota, mencari penumpang dari kawasan Palma hingga ke area Alun-Alun Purwokerto. Ketika malam mulai larut dan jarum jam menunjuk sekitar pukul 22.00, ia baru mengakhiri aktivitasnya di jalanan dan bersiap pulang.  

“Saya biasanya mulai narik dari pagi, sekitar pukul 06.00 atau 06.40. Nanti baru pulang sekitar jam 22.00,” ujar Telo saat menceritakan rutinitas harian yang dijalaninya.

Rutinitas berat tersebut telah dijalaninya selama bertahun-tahun. Meski usianya tidak lagi muda dan kondisi fisik mulai terbatas, Telo tetap memilih mengandalkan tenaganya sendiri untuk mencari penghasilan yang halal. Di tengah gempuran transportasi modern dan ojek berbasis aplikasi, tidak ada kepastian mengenai berapa jumlah uang yang akan dibawa pulang setiap harinya.

“Pendapatan sehari-hari tidak tentu. Kalau sedang ada rezeki, biasanya dapat Rp100.000 sampai Rp150.000 per hari,” ungkap Telo mengenai hasil yang biasa ia peroleh dari mengayuh becak.

Bagi sebagian orang, jumlah tersebut mungkin terlihat sederhana. Bagi Telo, setiap lembar rupiah dari hasil mengayuh becak menjadi tumpuan utama untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Selama masih ada penumpang yang membutuhkan jasanya, ia akan tetap mengayuh becak menyusuri jalanan Purwokerto tanpa mengeluh.

Telo sendiri bertempat tinggal di desa Pasir Lor, Kecamatan Karanglewas. Dari pernikahan bersama istrinya, ia memiliki tiga anak yang kini semuanya telah tumbuh dewasa. Dua di antara anaknya sudah bekerja secara mandiri, sedangkan tidak ada lagi anak yang masih menempuh pendidikan di bangku sekolah.

Di rumah, sang istri juga turut berusaha membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Pekerjaan yang dilakukan sang istri pun sangat bergantung pada kesempatan dan musim yang tersedia di desa. Sesekali ia pergi ke sawah untuk mencari sisa panen padi setelah orang lain selesai memanen. Jika musim panen telah usai, ia beralih mencari rumput untuk pakan ternak.

“Istri saya di rumah kadang ke sawah mengumpulkan sisa panen padi. Kalau sedang tidak ada panenan, ia beralih mencari rumput,” tutur Telo menceritakan perjuangan sang istri di rumah.

Kondisi tersebut menggambarkan secara jelas kehidupan keluarga kecil yang mengandalkan pekerjaan serabutan dengan penghasilan yang tidak pasti. Tidak selalu ada pekerjaan yang dapat dilakukan setiap hari, tetapi tuntutan kebutuhan hidup sehari-hari tetap terus berjalan.

Di tengah perubahan zaman dan semakin beragamnya pilihan transportasi modern, Telo masih mempertahankan becaknya sebagai sumber penghidupan utama. Becak tua yang berada di sampingnya bukan hanya alat untuk mengantarkan penumpang, melainkan simbol keteguhan hatinya dalam mempertahankan kehidupan secara terhormat.

Pemandangan Telo bersama becaknya mungkin terlihat biasa di tengah ramainya aktivitas Kota Purwokerto. Di balik setiap kayuhan pedalnya, ada perjuangan panjang seorang kepala keluarga yang menolak menyerah pada keadaan. Usia boleh menua, tetapi semangat untuk bertahan hidup tidak pernah padam.

Penulis : Zalfa Nur Afiifah (J1D025147)

Editor : Revaliana Arianti (J1D025151)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme