Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Setelah Banyak Kehilangan, Mak Tiah Tetap Menemukan Alasan untuk Bersyukur dan Berbagi

Posted on Oktober 9, 2026 by aflah amanullah

Cilacap, 11 Oktober 2026

Sumber: (dokumentasi pribadi)

CILACAP, SUDUTNALAR — Pagi bagi Mak Tiah berjalan sederhana. Di rumahnya, tidak ada pekerjaan yang harus dikejar atau penghasilan tetap yang bisa ditunggu setiap hari. Di usianya yang telah lebih dari 80 tahun, Sutiah, atau yang akrab disapa Mak Tiah, hanya menjalani hari dengan apa yang dimiliki.

“Sekarang mah dijalani saja. Ada yang bantu, ya disyukuri. Yang penting masih bisa makan,” kata Mak Tiah.

Ia tinggal bersama adiknya, Juju. Keduanya menjalani kehidupan dalam keterbatasan. Bantuan sosial menjadi salah satu tumpuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sesekali Mak Tiah juga pergi ke kebun milik anaknya. Namun, kebun itu bukan tempatnya bekerja dan bukan pula sumber penghasilan tetap.

Di sana hanya terdapat beberapa pohon kelapa, kayu, dan terkadang pohon pisang. Jika ada hasil yang dapat dibawa pulang, hasil tersebut menjadi tambahan untuk kebutuhan di rumah.

Kehidupan Mak Tiah hari ini tidak terlepas dari perjalanan panjang yang telah dilaluinya.

Dahulu, ia hidup bersama suaminya, Darno. Sang suami bekerja di sebuah bengkel milik adik iparnya. Pekerjaannya beragam, mulai dari menambal ban dan memperbaiki sepeda hingga mengerjakan pekerjaan yang berkaitan dengan besi.

Dari pernikahannya, Mak Tiah memiliki tiga anak. Dua anak pertamanya perempuan, sedangkan anak terakhir adalah laki-laki bernama Sudiana. Jarak usia Sudiana dengan kedua kakaknya cukup jauh. Kehadirannya menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Mak Tiah karena ia merupakan anak laki-laki satu-satunya.

Namun, kebahagiaan itu kemudian berubah menjadi kekhawatiran.

Sudiana mengalami persoalan dalam pergaulan dan memiliki kebiasaan mengonsumsi minuman keras. Kebiasaan tersebut terus berlanjut bahkan setelah ia menikah. Kondisinya kemudian semakin memburuk hingga mengalami gangguan kesehatan serius dan akhirnya meninggal dunia.

Bagi Mak Tiah, kehilangan itu bukan perkara kecil.

“Emak sedih, soalnya dia anak laki-laki satu-satunya. Dari tiga anak, sekarang tinggal dua,” ujar Mak Tiah.

Tiga anak yang dahulu mengisi kehidupan rumahnya kini hanya tersisa dua. Anak laki-laki yang menjadi satu-satunya itu pergi lebih dahulu, meninggalkan kenangan yang tidak mudah dilupakan.

Belum lama setelah kehilangan Sudiana, Mak Tiah kembali menghadapi kehilangan. Suaminya, Darno, meninggal dunia. Orang yang selama bertahun-tahun menemaninya menjalani kehidupan tidak lagi berada di rumah.

“Setelah bapaknya anak-anak nggak ada, ya rumah jadi sepi. Tapi mau bagaimana lagi, hidup harus dijalani,” kata Mak Tiah.

Kalimat itu menggambarkan bagaimana kesunyian datang bersamaan dengan kehilangan. Namun, Mak Tiah tidak punya banyak pilihan selain terus menjalani hari.

Dalam keadaan tersebut, Juju kemudian tinggal bersama Mak Tiah. Juju sendiri telah ditinggalkan oleh suaminya dan hanya memiliki seorang anak yang menyandang disabilitas (autisme). Keduanya kemudian menjalani kehidupan bersama dalam keadaan yang sederhana.

Mak Tiah tidak memiliki penghasilan tetap. Bantuan sosial melalui BLT menjadi salah satu yang diandalkan. Anak perempuannya yang masih mampu juga sesekali memberikan uang untuk membantu kebutuhan sang ibu.

Bagi Mak Tiah, bantuan sekecil apa pun tetap berarti.

“Buat emak, punya beras saja sudah alhamdulillah. Nggak perlu macam-macam,” ujarnya.

Seliter beras mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi Mak Tiah, beras berarti ada makanan yang dapat dimasak dan ada kebutuhan yang masih bisa dipenuhi untuk hari itu.

Keterbatasan juga tidak membuat Mak Tiah berhenti berbagi.

Ketika ada kegiatan di musala, seperti acara maulid nabi, ia berusaha membawa sesuatu. Tidak harus makanan mahal. Singkong rebus atau hasil bumi yang tersedia di rumah pun bisa menjadi pemberiannya.

“Kalau ada punya singkong atau apa, ya dibawa. Sedikit juga nggak apa-apa, yang penting bisa ikut berbagi,” kata Mak Tiah.

Ia mungkin tidak memiliki banyak untuk diberikan. Namun, ia tetap menyisihkan apa yang ada.

Hari-hari Mak Tiah kini berjalan tanpa banyak tuntutan. Ada bantuan yang datang, ada pula hari-hari yang harus dilewati dengan apa yang tersedia di rumah. Sesekali ia pergi ke kebun, membawa pulang hasil yang bisa dimanfaatkan. Selebihnya, ia menjalani rutinitas sederhana bersama adiknya.

Kisah Mak Tiah bukan sekadar cerita tentang seorang perempuan lanjut usia yang hidup dalam keterbatasan. Ada kehilangan yang datang berturut-turut di dalamnya: seorang anak laki-laki satu-satunya dan seorang suami yang telah lama menjadi bagian dari hidupnya.

Namun, kehidupan tidak berhenti ketika seseorang kehilangan.

Pagi tetap datang. Rumah tetap harus dijalani. Beras tetap harus tersedia. Dan jika ada sedikit makanan yang bisa dibagikan, Mak Tiah tetap ingin membaginya.

Mungkin bagi sebagian orang, seliter beras hanyalah sesuatu yang biasa. Bagi Mak Tiah, seliter beras berarti satu hari lagi yang bisa dijalani dengan rasa syukur.

Di rumah sederhana itu, ia tidak sedang mengejar kehidupan yang mewah. Ia hanya menjalani apa yang masih dimiliki, dan dari sedikit yang dimilikinya, ia masih berusaha memberikan sesuatu kepada orang lain.

Sebab, terkadang, bertahan bukan tentang memiliki banyak. Bertahan adalah tentang tetap bersyukur atas apa yang masih ada.

Penulis: Rizqina Ayu Kasturi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme