Penulis: Syifa Putri Fadillah | Keterangan: Feature News | Rabu, 7 Oktober 2026 | 09.00 WIB

Tukang becak di Banyumas (Dok. Koleksi Mufid Majnun)
BANYUMAS, SUDUTNALAR – Pagi hari, kesibukan mulai terlihat di pasar. Para pedagang berdatangan membawa barang dagangan, sementara pembeli mulai memenuhi area pasar untuk mencari berbagai kebutuhan. Di antara aktivitas yang terus bergerak itu, sebuah becak menunggu di salah satu sudut pasar. Di atas becaknya, seorang lelaki berusia 57 tahun masih setia menanti penumpang.
Namanya Suyadi. Selama 15 tahun, becak menjadi bagian dari kesehariannya. Setiap pagi, sekitar pukul 07.00, ia sudah berada di pasar. Di sana, ia menunggu pedagang yang membutuhkan jasanya untuk mengangkut atau mengantar barang dagangan. Ketika mendapat penumpang, ia segera mengayuh becaknya untuk mengantar mereka. Setelah perjalanan selesai, ia kembali ke pasar dan menanti penumpang berikutnya.
Rutinitas itu telah dijalaninya selama bertahun-tahun. Pagi menjadi waktu untuk berangkat, sementara siang menjadi saatnya pulang setelah aktivitas pasar mulai berkurang.
Bagi Suyadi, mengayuh becak bukan sekadar pekerjaan untuk mengisi waktu. Di balik setiap kayuhan, ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi. Usia yang terus bertambah tidak membuatnya memilih berhenti selama tubuhnya masih mampu bekerja. Ia masih ingin mendapatkan penghasilan dari tenaganya sendiri.
Setiap bulan, anaknya juga memberikan bantuan. Namun, bagi Suyadi, bantuan tersebut bukan alasan untuk sepenuhnya berhenti bekerja. Ia tetap memilih datang ke pasar dan mengandalkan kemampuannya selama masih sanggup.
“Anak saya ngasih tiap bulan, tapi itu untuk bantu saja. Saya tetap kerja semampunya,” ujar Suyadi.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menggambarkan alasan yang membuatnya tetap bertahan. Bagi Suyadi, pekerjaan tersebut menjadi sumber penghasilan untuk membantu kebutuhan keluarganya. Selama masih mampu mengayuh becak, ia memilih untuk tetap bekerja.
Selama 15 tahun menjadi tukang becak, Suyadi tentu merasakan perubahan dalam pekerjaannya. Salah satu perubahan yang ia hadapi adalah semakin beragamnya pilihan transportasi. Kehadiran berbagai transportasi umum membuat becak tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan masyarakat untuk bepergian atau mengangkut barang.
“Ya sekarang sudah banyak transportasi umum,” kata Suyadi.
Perubahan tersebut membuat jumlah penumpang tidak selalu ramai. Ada waktu ketika ia mendapat penumpang berturut-turut, tetapi ada pula waktu ketika ia harus menunggu lebih lama di sekitar pasar. Bagi Suyadi, menunggu menjadi bagian dari pekerjaannya. Ia tidak tahu kapan penumpang berikutnya akan datang, tetapi selama masih ada kesempatan, ia tetap berada di sana, menunggu. Begitu seterusnya hingga aktivitas pasar mulai sepi.
Di tengah perkembangan zaman yang menghadirkan berbagai pilihan transportasi, keberadaan becak perlahan menghadapi tantangan. Namun, bagi Suyadi, becak bukan sekadar alat untuk mengantar penumpang atau barang. Pekerjaan itu menjadi cara baginya untuk tetap berusaha dan memenuhi kebutuhan keluarga.
Harapan Suyadi pun sederhana. Ia tidak berbicara tentang kehidupan yang berlebihan atau keinginan yang besar. Ia hanya berharap keluarganya dapat tercukupi kebutuhannya. Selama masih memiliki kemampuan untuk bekerja, ia ingin terus melakukannya.
“Harapan saya keluarga tercukupi kebutuhannya, selagi saya mampu,” tuturnya.
Menjelang siang, ketika pasar perlahan mulai sepi, pekerjaan Suyadi pun mendekati akhir. Namun, bagi lelaki yang telah 15 tahun mengandalkan kayuhan becaknya itu, satu hari kerja bukan hanya tentang berapa jauh perjalanan yang ditempuh atau berapa banyak penumpang yang diantar.
Setiap kayuhan adalah bagian dari tanggung jawab. Setiap perjalanan menjadi bagian dari usahanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Selama tenaga masih memungkinkan dan tubuh masih sanggup bekerja, Suyadi akan tetap kembali ke pasar. Di tengah roda zaman yang terus berputar, roda becaknya mungkin bergerak lebih perlahan. Namun, semangat untuk terus berusaha tetap membawanya maju demi memenuhi kebutuhan keluarganya.
