Penulis: Aniqotul Lutfiyah | Editor: Amalinda

PURWOKERTO, SudutNalar — Pagi belum sepenuhnya terang ketika aroma gula, santan, dan jajanan yang baru selesai dimasak mulai memenuhi udara. Di sudut jalan, bubur, cenil, klepon, dan ongol-ongol ditata sederhana, menunggu pembeli.
Di tengah menjamurnya jajanan modern dengan kemasan menarik, jajanan itu tampak bersahaja. Harganya pun terjangkau, semangkuk bubur dijual Rp2.000, cenil dan lainnya sekitar Rp1.000.
Di balik kesederhanaan itu ada Siwen (62), perempuan yang telah 51 tahun setia membuat dan menjual jajanan tradisional. Baginya, jajanan bukan sekadar dagangan, melainkan bagian dari keseharian yang tak tergantikan.
Hari Siwen tak pernah benar-benar berakhir saat orang lain beristirahat. Selepas asar, ia sudah berada di dapur menyiapkan jajanan untuk esok pagi. Pekerjaan itu berlanjut hingga magrib. Usai salat, ia kembali duduk di lantai dapur untuk menyelesaikan bungkusan-bungkusan gulanya.
Beberapa jam kemudian, saat sebagian orang masih terlelap, Siwen sudah terbangun. Sekitar pukul 02.00 WIB, ia mulai membuat klepon. Semua selesai sebelum subuh. Begitu matahari terbit, jajanan siap dibawa ke tempat jualan.
Rutinitas itu dijalaninya hampir setiap hari. Di balik jajanan sederhana, ada waktu yang panjang dan tenaga yang dicurahkan dari malam hingga pagi.
Dalam sehari, Siwen memproduksi sekitar 5 kilogram bubur, 3 kilogram cenil, 3 kilogram klepon, dan 2,5 kilogram ongol-ongol. Semua dibuatnya sendiri.
Bagi Siwen, berjualan bukan sekadar mengisi waktu. Dagangan tersebut menjadi sumber penghasilan utama bagi keluarganya. “Saya berjualan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kalau tidak berjualan, saya tidak bisa makan,” ujarnya.
Penghasilan dari jajanan tradisional menjadi penopang rumah tangga yang dihuni tiga orang. Namun, keuntungannya tak besar. “Memang tidak banyak untungnya. Yang penting hasilnya cukup untuk membeli bahan lagi dan memenuhi kebutuhan makan,” kata Siwen.
Ia tak pernah menghitung untung besar. Yang terpenting, dagangan bisa terjual, bahan baku bisa dibeli kembali, dan kebutuhan makan keluarga terpenuhi. Prinsip itu ia pegang teguh selama lebih dari lima dekade.
Di tengah perubahan selera masyarakat, Siwen menghadapi tantangan. Jajanan modern kian mudah ditemukan dengan beragam bentuk dan kemasan yang menarik, terutama bagi generasi muda.
Namun, jajanan tradisionalnya tetap punya pelanggan sendiri. Rasa khas dan cara pembuatannya menjadi daya tarik yang dipertahankan. “Saya tetap melanjutkan karena ini sudah menjadi ciri khas. Saya memasaknya masih menggunakan tungku,” tuturnya.

Bagi Siwen, tungku bukan sekadar alat masak, melainkan simbol cara pengolahan tradisional yang menghasilkan rasa autentik. Aroma kayu bakar yang membumbung saat memasak menjadi bagian dari kenangan yang ingin ia jaga.
Kekhasan itu bukan hanya soal rasa, tetapi juga kualitas. Siwen tak menggunakan bahan pengawet. Akibatnya, jajanan yang tak habis terjual tak bisa disimpan lama. Ia pun membawanya pulang dan membagikannya kepada tetangga.
Keputusan itu bagian dari cara Siwen menjaga kepercayaan pembeli. Ia memilih mempertahankan cara lama, meski berarti menghadapi risiko dagangan tak laku seluruhnya.
Ia berharap generasi muda tetap mengenal jajanan tradisional. “Anak-anak muda harus tahu dan mengenalnya. Sekarang banyak yang tidak tahu, padahal jajanan ini dibuat tanpa pengawet,” harapnya.
Menurut Siwen, jajanan tradisional bukan hanya soal rasa, tetapi juga warisan budaya yang perlu dilestarikan. Jika tidak dijaga, makanan khas ini bisa punah ditelan zaman.
Ketika ditanya soal masa depan usahanya, jawabannya singkat: “Harus terus dipertahankan.”
Siwen tak memedulikan usia yang terus bertambah. Ia sadar, suatu hari nanti mungkin tak mampu lagi berjualan. Namun, selama masih ada tenaga, ia akan terus membuat dan menjual jajanan tradisional.
Menjelang siang, jajanan mulai berpindah ke tangan pembeli. Ada yang membeli bubur, ada yang memilih cenil. Bagi pembeli, ini mungkin sekadar makanan murah pengganjal perut. Namun bagi Siwen, setiap bungkus yang terjual berarti bahan bisa dibeli kembali, kebutuhan terpenuhi, dan satu rasa tradisional kembali dikenal.
Di tengah riuh jajanan modern, Siwen memilih tetap di jalannya: memasak dengan tungku, menjual dengan harga terjangkau, tanpa pengawet, dan mempertahankan rasa yang telah menemaninya puluhan tahun.
Bagi Siwen, menjaga jajanan tradisional bukan hanya tentang berjualan hari ini, tetapi memastikan rasa sederhana itu masih punya tempat untuk ditemukan esok hari.
