Kamis, 08 Oktober 2026

BREBES, SudutNalar – Di sebuah dapur sederhana berlantai tanah dan berdinding bilik bambu, asap putih mengepul pelan membawa aroma kayu bakar yang khas. Bukan dari kompor gas yang bersih dan praktis, melainkan dari hawu, tungku tradisional berbahan tanah liat yang menjadi saksi bisu kehangatan keluarga selama puluhan tahun. Bagi sebagian orang, asapnya mungkin mengganggu. Namun bagi Wiarja yang berusia 71 tahun, hawu lebih dari sekadar alat memasak, ia telah menjadi bagian dari hidupnya selama puluhan tahun.
“Dulu yang mengajari saya pertama kali menyalakan hawu yaitu orang tua,” jawabnya singkat ketika ditanya siapa yang mengajarinya cara menghidupkan tungku tersebut.
Dengan sebatang korek api dan beberapa potong tatal kering sebagai pemantik api, serta dahan kayu sisa kemarin. Ia belajar menyalakan hawu sejak muda. Kini, di usianya yang tak lagi muda, ia tetap bertahan menjaga hawu tetap menyala, meski para tetangganya telah beralih ke kompor gas dan magic com.
“Dikarenakan itu kehobian memakai hawu dari dulu,” ujarnya dengan logat khas. Hobi sejak zaman dulu itu bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari identitas. Kebiasaan menggunakan hawu sejak muda membuat Wiarja tidak kesulitan untuk menyalakannya. Bagi Wiarja, persoalan justru terletak pada kayu bakar yang semakin sulit ia cari. Usianya yang sudah tidak muda membuatnya kesulitan berjalan jauh ke hutan untuk mengambil kayu.. “Menyalakan hawu itu tidak sulit. Hanya untuk mengambil kayunya ke hutan yang sulit, karena sudah tua dan tidak kuat jalan jauh,” ujarnya.
Bagi Wiarja, hawu bukan hanya sebagai tempat untuk memasak. Melainkan tempat untuk berkumpul bersama keluarga. “Saya teringat zaman dulu, kalau udara dingin atau sedang hujan, kami berdempet-dempet berkumpul di dekat hawu,” kenangnya dengan ingatan yang menerawang ke masa lalu. Di depan hawu, anggota keluarga duduk berdekatan, berbagi cerita, dan merasakan kehangatan yang tak bisa digantikan oleh alat pemanas modern manapun. Asap kayu yang bagi sebagian orang terasa perih dan mengganggu, baginya justru memberikan kenyamanan dan kehangatan.
Namun, realitas zaman mulai menggerus tradisi. Kini, hawu sudah jarang digunakan oleh masyarakat. “Karena zaman sudah semakin berkembang, terkadang saya juga memakai kompor gas untuk memasak,”ujarnya. Perubahan ini juga mengubah suasana dapur. Dinding dapur yang dulu kerap menghitam oleh asap kini terlihat bersih. Dinding dapur yang dulu kerap menghitam oleh asap kini terlihat bersih, dan kehangatan berkumpul bersama keluarga di depan hawu pun perlahan mulai jarang terasa.

Wiarja mengaku merasa bingung melihat orang-orang seusianya yang masih harus mencari kayu bakar ke hutan untuk menyalakan hawu. “Saya merasa bingung dan kasihan melihat orang tua seumuran saya yang masih semangat mencari kayu bakar ke hutan,” katanya. Meski demikian, ia memahami bahwa mencari kayu bakar sudah menjadi kebiasaan yang mereka lakukan sejak dulu.
Meski hawu kini hanya digunakan sesekali, ia tidak berencana untuk menghilangkan sepenuhnya. “Kalau untuk menghilangkan tentu tidak, tapi jika ada kayu bakar kami memakai hawu, jika tidak ada kayu bakar maka kami akan memakai kompor untuk memasak.” Hawu tetap ada, meski tak lagi menjadi pusat aktivitas dapur. Ia berharap hawu tidak punah termakan zaman dan masih terjaga hingga anak cucu nanti.
Seiring perubahan zaman, hawu di sudut dapur Wiarja memang tak lagi menjadi pilihan utama untuk memasak. Namun, keberadaannya tetap menjadi simbol kehangatan yang tak tergantikan. Bagi Wiarja, hawu adalah rumah. Selama hawu masih ada, kehangatan itu pun tak akan pernah benar-benar padam.
Penulis Berita : Amalinda (J1D025008)
Editor Berita : Assifa Sahra Isna Niansyah (J1D025024)
