Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Di Balik Pedagang Tempe di Pasar Pon, Ada Perjuangan untuk Masa Depan Cucu

Posted on Oktober 9, 2026Oktober 9, 2026 by aflah amanullah

Penulis : Muhammad Rafli Zulkarnain | Narasumber: Wasem | Keterangan: Feature News | Kamis, 8 Oktober 2026 | 18.48 WIB

Wasem (66) ketika membungkus tempe dengan daun pisang sebelum dijual di Pasar Pon. (Dok. Muhammad Rafli Zulkarnain)

BANYUMAS, SUDUTNALAR – Pada pukul 05.00 pagi, ketika aktivitas sebagian orang baru akan dimulai, Wasem sudah berada di Pasar Pon untuk berjualan tempe. Perempuan berusia 66 tahun itu menjalani rutinitasnya hingga pukul 09.00. Dari hasil berjualan tersebut, ia berusaha memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus membantu membiayai pendidikan cucu laki-lakinya yang kini duduk di kelas 12 SMA.

Bagi Wasem, berjualan tempe bukan pekerjaan yang asing. Ia sudah menjalaninya sejak muda. Namun, dalam perjalanan hidupnya, ia sempat berhenti berjualan untuk mengurus cucunya yang sejak kecil tinggal bersamanya karena ibunya harus bekerja.

Keadaan berubah ketika ibu sang cucu meninggal dunia saat anak itu duduk di kelas 3 sekolah dasar. Sejak saat itu, tanggung jawab mengasuh cucu menjadi bagian penting dalam kehidupan Wasem. Ia harus memastikan kebutuhan sehari-hari terpenuhi, sekaligus berusaha agar cucunya tetap bisa mengenyam pendidikan.

Setelah sempat berhenti, Wasem kembali menekuni pekerjaan yang sudah lama dikenalnya. Sekitar sepuluh tahun terakhir, ia menjalani kembali rutinitas berjualan tempe. Setiap pagi, ia berangkat ke Pasar Pon dan berharap dagangannya bisa membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Di balik tempe yang dijajakan, ada proses yang harus dikerjakan sebelum dagangan siap dijual. Kedelai dicuci, direbus hingga matang, kemudian direndam. Proses tersebut menjadi bagian dari kesehariannya dalam menyiapkan tempe.

Meski sudah terbiasa, bukan berarti pekerjaannya selalu berjalan mudah. Salah satu kendala yang kerap dihadapi Wasem adalah mencari daun pisang yang digunakan dalam pembuatan tempe. Persoalan sederhana itu terkadang menjadi hambatan tersendiri dalam menjalankan usahanya.

Namun, kesulitan yang lebih besar datang dari kebutuhan keluarga, terutama pendidikan sang cucu. Penghasilan dari berjualan tempe harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di sisi lain, ada biaya sekolah dan ongkos perjalanan yang tidak bisa diabaikan.

β€œYa pernah sering. Terkendala uang sekolah, bensin motor dan lain-lain,” kata Wasem ketika menceritakan kesulitan yang pernah dihadapinya.

Bagi keluarga mereka, biaya pendidikan bukan hanya soal membayar uang sekolah. Kebutuhan lain, termasuk bensin untuk perjalanan, juga harus diperhitungkan. Dalam keadaan seperti itu, Wasem tetap berusaha agar cucunya dapat melanjutkan sekolah.

Ia juga menyimpan kekhawatiran terhadap pergaulan sang cucu. Menurutnya, membesarkan anak bukan sekadar memastikan kebutuhan materi tercukupi. Ada pula hal-hal yang harus diperhatikan agar cucunya tumbuh dengan baik.

Kini, cucunya telah sampai di kelas 12 SMA. Bagi Wasem, pencapaian tersebut menghadirkan perasaan haru sekaligus bahagia. Setelah melewati berbagai kesulitan, ia masih bisa melihat cucunya melanjutkan pendidikan hingga mendekati kelulusan.

β€œTerharu, bahagia juga karena bisa menyekolahkan sampai sekarang kelas 12,” ujarnya.

Kebahagiaan itu menjadi bagian penting dari perjalanan panjangnya mengasuh sang cucu. Meski tidak selalu mudah, Wasem terus berusaha memenuhi kebutuhan keluarga dengan kemampuan yang dimilikinya. Setiap pagi, ia kembali berjualan dan menjalani rutinitas yang telah menjadi bagian dari hidupnya.

Menjelang kelulusan sang cucu, Wasem memiliki harapan sederhana. Ia ingin cucunya segera mendapatkan pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan di bangku SMA. Dengan begitu, sang cucu bisa mulai menjalani kehidupannya sendiri.

β€œKalau bisa, ya langsung kerja. Kalau sudah sekolah, sudah selesai, ya. Kalau bisa langsung cari kerja,” tuturnya.

Bagi Wasem, menyekolahkan cucunya hingga kelas 12 merupakan kebahagiaan tersendiri. Ia belum mengetahui bagaimana perjalanan sang cucu setelah lulus nanti. Namun, harapannya tetap sama: sang cucu bisa bekerja dan memiliki masa depan yang lebih baik.

Esok pagi, Wasem akan kembali ke Pasar Pon. Di antara tempe-tempe yang dijajakannya, ia meneruskan rutinitas yang selama ini menjadi salah satu tumpuan keluarganya. Sementara itu, sang cucu semakin dekat dengan kelulusan. Perjalanan menyekolahkan cucunya hingga titik ini menjadi pencapaian yang layak disyukuri, meski harus ditempuh dengan berbagai keterbatasan.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme