sudutnalar.com, 08 Oktober 2026
Penulis: Zahrotun Nabilah

PURBALINGGA, SUDUTNALAR – Jam dinding di rumah Kartinah baru menunjukkan pukul dua pagi ketika ia kembali bangun dari tidurnya. Di pagi yang masih sunyi, wanita berusia 67 tahun itu sudah berada di dapur menyiapkan adonan gorengan dan jalabia untuk berjualan di pagi hari nanti. Beberapa saat kemudian, setelah azan subuh berkumandang ia mulai menata dagangannya sebelum dibawa keliling desa.
Saat matahari perlahan mulai menyinari bumi, sekitar pukul 6 pagi Kartinah sudah berada di jalan menawarkan dagangannya dari satu rumah ke rumah lain. Ia menggendong sebagian dagangan, dan sebagian yang lain ia tenteng di kedua tangannya. Dalam waktu kurang lebih satu jam, dagangannya sudah habis tak bersisa. Ia menjalani kegiatan tersebut setiap hari sejak 10 tahun yang lalu.
“Kalau bukan karena butuh uang, saya sudah enggan untuk berjualan lagi, capek sudah tua,” ujar Kartinah.
Kalimat tersebut terlihat sederhana, namun menyimpan makna yang mendalam. Di balik senyum dan dagangan yang ia bawa setiap pagi, ada tubuh yang lelah, waktu tidur yang sebentar, serta tuntutan ekonomi yang tidak pernah berhenti.
Kartinah memilih berjalan kaki menyambangi pembeli dari satu rumah ke rumah lain karena ia tidak memiliki tempat yang strategis untuk membuka warung. Selain itu, ia juga merasa dengan berjualan keliling dagangannya lebih laris karena pembeli tidak perlu pergi jauh untuk membeli sarapan.
Satu langkah demi langkah ia bawa menyusuri jalanan di Desa Gondang, hingga tanpa ia sadari langkah kaki kecilnya membawa ia sejauh 2 km dari rumahnya.
Pilihannya untuk berjualan keliling tidak selalu mudah, terlebih saat musim hujan tiba ia harus menggunakan payung sambil tetap membawa dagangan di kedua tangannya. Jalanan yang basah dan dagangan yang harus dibawa membuat perjalanannya terasa semakin berat.
Di bawah rintik hujan yang terus berjatuhan, wanita asal Purbalingga tersebut tetap menemukan berkah di setiap tetesannya. Menurutnya, saat hujan tiba dagangan justru lebih cepat habis dari hari-hari biasanya, banyak warga yang lebih memilih tinggal di rumah dan enggan untuk mencari sarapan di luar.
“Kalau hujan memang susah karena harus bawa payung juga. Tapi saya bersyukur, saat hujan biasanya lebih cepat habis karena orang-orang tetap di rumah,” ujarnya.
Hari yang Tak Pernah Berhenti
Satu hari dalam hidup Kartinah tidak berhenti setelah jualan pagi selesai. Selayaknya ibu rumah tangga pada umumnya, ia juga tetap membersihkan rumah. Beristirahat sebentar, kemudian dilanjut dengan membuat tempe bersama suaminya, kegiatan yang sudah ia jalani hampir separuh umurnya.
Usaha pembuatan tempe ini sudah Kartinah dan suami jalani sekitar 25 tahun lamanya. Usaha yang ia mulai dari kecil-kecilan hingga dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sekarang. Banyak orang yang mencari tempe buatan Kartinah, sehingga ia tidak perlu melangkahkan kaki untuk menawarkan tempe buatannya. Terkadang, ia juga memberikan kesempatan pada orang-orang yang ingin menjadi reseller tempenya.

Saat matahari sudah bergeser ke arah barat dan mulai meninggalkan langit bergantian dengan bulan, ibu dari 3 anak tersebut mulai menyiapkan beberapa menu untuk dijual esok hari. Ia memulai persiapan sampai pembuatan meniran dan kue lapis hingga larut malam. Aktivitasnya dalam satu hari baru benar-benar selesai sekitar pukul 22.00. Setelah itu, ia menikmati tidurnya yang hanya sebentar sebelum kembali bangun pukul dua dini hari.
Siklus tersebut terus berulang hampir setiap hari di kehidupan Kartinah. Ia melakukan semua itu tentu dibantu oleh suami tercinta yang sudah bersamanya puluhan tahun. Mulai dari dapur, jalan ke rumah-rumah warga, hingga kembali lagi ke dapur, waktunya nyaris selalu terisi oleh pekerjaan.
Rezeki yang Disyukuri
Di tengah padatnya kegiatan Kartinah dalam satu hari, ia tetap tidak melalaikan kewajibannya pada Sang Pencipta. Ia masih menyempatkan waktu untuk beribadah ke masjid, mengikuti pengajian, dan kegiatan keagamaan lainnya.
Semangat Kartinah dalam menjalani setiap kegiatannya tidak datang dari tuntutan ekonomi saja. Ia percaya bahwa kekuatan untuk terus menjalani hari juga berasal dari pertolongan Yang Maha Kuasa.
Berapapun hasil yang diperoleh ia tetap bersyukur. Baginya, rezeki dari usaha yang ia jalani adalah buah dari kerja keras yang patut disyukuri.
Ia mengaku bahwa alasan untuk terus berdagang karena kebutuhan hidup yang tidak berhenti hanya pada makanan sehari-hari. Banyak kebutuhan tak terduga yang kadang nominalnya lebih besar dan tidak dapat diprediksi.
“Saya masih berdagang untuk memenuhi kebutuhan yang tak terduga. Kalau kebutuhan untuk makan tidak seberapa,” ungkapnya.
Harapan dan Doa
Meski tubuhnya sudah mulai lelah, Kartinah belum ingin berhenti. Ia berharap Sang Maha Kuasa terus memberinya kesehatan, panjang umur, dan keselamatan agar dapat terus menjalani kegiatan serta mencari rezeki untuk keluarganya.
“Semoga saya tetap diberi kesehatan, panjang umur, slamet waras, dan semangat supaya bisa terus berjualan,” harapnya dalam bahasa Jawa.
Di balik langkah kaki yang ia bawa menyusuri dusun setiap pagi, Kartinah membawa lebih dari sekadar gorengan, jajanan, dan meniran. Ia membawa semangat, tanggung jawab, dan harapan akan kerja kerasnya kelak menjadi rezeki yang berkah.
Dari kisah Kartinah menunjukkan bahwa semangat berusaha tidak berpatok  usia. Hal ini seharusnya memberikan tamparan kepada generasi muda yang masih lebih nyaman dengan tempat tidurnya. Dengan tangan yang terus bergerak dan hati yang penuh akan rasa syukur, Kartinah membuktikan bahwa perjuangan sederhana dapat menjadi kekuatan yang besar bagi kehidupan.Â
