Oleh: Bagus Windu Aji

PURWOKERTO, SUDUTNALAR– Jari-jari keriput itu bekerja tanpa jeda. Botol plastik bekas yang sudah bersih diangkat, diputar, diperiksa, lalu diletakkan pada tumpukan yang sesuai. Senin (5/10/2026), Mbah Yati, Usianya 67 tahun, bercerita sambil terus memilah, seakan berhenti sebentar saja berarti memberi kesempatan pada lapar untuk datang lebih dulu. Di usia ketika kebanyakan orang sudah layak beristirahat, Mbah Yati justru tetap bekerja. Apa yang dibuang orang lain ia pungut dengan sabar, satu per satu, lalu ia tukar dengan penghidupan.
Berangkat Selagi Orang Masih Meringkuk
Hari Mbah Yati dimulai selepas subuh, ketika sebagian orang masih bergelung di bawah selimut. Dengan caping di kepala dan baju lusuh yang kusam oleh debu, ia berangkat menyusuri jalan-jalan Purwokerto. Kadang ia mengayuh sepeda reyot dengan keranjang yang dijejali barang bekas hingga penuh. Kadang ia hanya berjalan kaki, matanya awas mengamati gelas plastik, botol, dan kardus yang tergeletak.
Jangkauannya cukup jauh. Dalam sehari, perempuan berusia 67 tahun itu bisa berkeliling hingga Patikraja. Ia baru pulang ketika tubuh sudah tak sanggup lagi, kadang sekitar pukul 12.00 siang jika kelelahan, kadang pula sore selepas Asar. Semakin siang, semakin berat. Terik membakar punggung, sementara kakinya berdenyut nyeri karena kelelahan. Namun, usia tua tak membuat Mbah Yati berhenti. Ia terus menyusuri jalan, mencari barang-barang yang masih memiliki nilai jual.
Tidak semua barang ia temukan di pinggir jalan. Sesekali, rezeki datang dari tangan orang lain. Ada kafe di Purwokerto dan tempat lain yang memberinya gelas plastik, botol, dan kardus bekas. Pemberian kecil, tetapi bagi Mbah Yati, itu berarti satu karung yang lebih penuh.
Gudang Kecil yang Sesak dan Berdebu
Rumah tempatnya berteduh sederhana. Lantainya retak-retak. Di sisi rumah, ada ruang yang ia sulap menjadi gudang barang bekas. Tempat itu sesak dan berdebu, dengan bau tumpukan rongsok yang menyengat dan sulit diabaikan. Namun, justru di sanalah Mbah Yati paling telaten. Barang yang dibawanya pulang tak langsung dijual. Ia membersihkannya satu per satu, memilah sesuai jenis, lalu mengumpulkannya hingga cukup. Setelah tiga hingga empat minggu, barulah semuanya dijual kepada pengepul besar. Harganya bergantung pada penggolongan barang. Sekali jual, ia membawa pulang sekitar Rp300 ribu hingga Rp400 ribu, hasil jerih payah selama berminggu-minggu.
Bantuan sebenarnya pernah ia upayakan. “Udah berkali-kali diajuin, tapi nggak pernah dapat,” katanya. “Ya sudah, selama masih mampu, daripada nunggu pertolongan orang atau pemerintah, mending usaha sendiri.” Ia tinggal menumpang di rumah anak pertamanya, yang juga hidup serba pas-pasan bekerja sebagai tukang. Karena itu, kata Mbah Yati, ia tak mau hanya menumpang. “Saya juga nggak mau numpang hidup doang.”
Ada alasan lain yang membuatnya terus bekerja. “Ya saya demi cucu, Mas. Selama masih bisa usaha sendiri, bantu-bantu anak dan cucu, ya saya lakuin.” Cucu laki-lakinya, yang kini duduk di kelas 3 SMK swasta, tidak disebutkan namanya demi menjaga privasi keluarga. Ia telah menjadi yatim piatu sejak ibunya wafat pada 2019, sementara ayahnya telah berpulang ketika ia masih balita.
Demi Anak dan Cucu
Di balik karung yang berat dan kaki yang nyeri, Mbah Yati menyimpan keinginan sederhana, melihat anak dan cucunya memiliki kehidupan yang lebih baik. Ia ingin mereka bersekolah dengan baik, memiliki pekerjaan, dan mendapat pendidikan yang layak. Ia tak ingin mereka hanya menumpang hidup atau menggantungkan diri pada belas kasihan orang lain. Ketika pembicaraan sampai ke sana, suaranya melemah dan matanya basah. Sesaat ia terdiam. Lalu tangannya kembali memilah botol, seperti biasa.
Bagi Mbah Yati, bekerja bukan sekadar soal mengumpulkan botol, kardus, atau gelas plastik. Ada keluarga yang ingin ia bantu dan masa depan yang ingin ia lihat sendiri. Karena itu, selama tubuhnya masih mampu, ia memilih terus mencari penghidupan dari apa yang dibuang orang lain.
Mungkin begitulah cara Mbah Yati mencintai, bukan dengan kata-kata, melainkan dengan langkah yang bahkan membuat kakinya nyeri. Di jalanan Purwokerto, ia mengais dari apa yang dibuang orang lain, demi satu hal yang tak pernah ia buang, yaitu keinginannya melihat anak dan cucunya memiliki kehidupan yang lebih baik.
