sudutlanar.com, 08 Oktober 2026
Oleh: Athaya Aqilah

PURWOKERTO, SUDUTNALAR — Kain jarit melilit erat di dadanya untuk menahan dagangan yang tersusun rapi di gendongan: bakso goreng (basreng) dan keripik yang dipajang seadanya seperti daftar menu. Meski sederhana, dagangan itu cukup membuat orang yang lewat menoleh. Perempuan berkerudung itu berjalan perlahan tetapi pasti, dari gang sempit ke gang lain yang lebih terang, dari teras berlantai licin ke halaman yang teduh. Ia mengetuk hari bukan dengan suara keras, melainkan dengan kebiasaan yang sudah menjadi rutinitas.
Setiap langkahnya seolah membawa pertanyaan yang sama: sudah adakah yang laku, masih adakah yang mau? Ia tidak menunggu pembeli datang. Ia mendatangi mereka dan menawarkan dagangannya dari rumah ke rumah dengan logat ngapak yang kental. Di sela tawarannya, terdengar bunyi pelan dari dagangan yang bergeser setiap kali ia membetulkan posisi gendongan, seakan barang itu ikut lelah berjalan bersamanya.
Dulu, yang ia bawa bukan basreng dan keripik, melainkan jamu. Ketika pandemi mengubah pola hidup masyarakat, permintaan jamu ikut bergeser. Perubahan itu datang seperti hujan yang mulanya gerimis, lalu makin sering, sampai kebiasaan lama tidak lagi cukup untuk berteduh.
“Dulu memang berjualan jamu, Mbak. Setelah pandemi keadaan berubah, jadi saya coba berjualan jajanan. Ternyata cukup banyak yang membeli, jadi sampai sekarang saya lanjutkan berkeliling,” tuturnya pelan sambil merapikan kain jarit di bahunya. Ia memilih tidak menyebutkan namanya untuk dipublikasikan.
Pedagang keliling ini pandai membaca suasana. Ia berhenti sejenak ketika bertemu pelanggan yang sudah akrab. Untuk pelanggan seperti itu, ia sering melangkah sampai ke depan rumah supaya dagangannya langsung terlihat dan ia tidak perlu dipanggil berkali-kali. Kadang ia membuka percakapan ringan tentang cuaca atau pekerjaan sebelum kembali pada intinya: jajanan yang ia bawa.
Jika ada yang bertanya, “Ada yang lain tidak?”, ia tidak selalu menolak. Ia menambahkan barang yang diminta ke dagangannya selama barang itu tersedia dan masih bisa dijual hari itu. Dengan cara itu ia menyesuaikan diri dengan kebutuhan harian warga, yaitu kebutuhan sederhana yang terasa di meja makan atau di waktu santai sore hari.
Jam berkelilingnya tidak sekaku jadwal kantor. Kadang ia berjalan dari pagi sampai sore, kadang dari siang sampai sore, mengikuti peluang dan kondisi hari itu. Pada hari yang terik, napasnya terasa lebih cepat. Pada hari mendung, hujan bisa turun sebelum ia sempat berteduh, dan pakaiannya menjadi berat oleh udara lembap. Dagangan tetap dibawa dan langkah tetap dijaga.
Ia tidak menutupi rasa lelahnya, tetapi tidak banyak mengeluh. Ada hari ketika ia sudah berkeliling jauh dan dagangannya belum habis. Saat itu ia harus memilih: menambah rute, mencari pembeli baru, atau mengubah cara menawarkan. Hari seperti itu terasa seperti roda yang belum menemukan jalannya, dan ia menguatkan diri dengan cara yang sama: terus berjalan, terus menawarkan.
“Lelahnya di jalan, apalagi kalau panas atau hujan. Kadang sudah berkeliling jauh tetapi dagangan belum habis. Namun kalau sudah terbiasa, ya dijalani saja,” ujarnya. Ia mengatakannya tanpa dramatisasi, seperti orang yang sudah berdamai dengan kenyataan sehari-hari.
Ketika ditanya sampai kapan akan berjualan keliling, ia menjawab sederhana: selama masih kuat dan masih ada yang membeli. Ia tidak punya angka pasti ataupun rencana besar.
“Selama masih kuat dan masih ada yang membeli, saya jalani. Ini untuk kebutuhan sehari-hari. Kalau badan sudah tidak kuat, mungkin baru berhenti,” katanya.
Bagi banyak orang, penjual keliling hanyalah pemandangan sesaat: lewat, menawarkan, lalu hilang di tikungan. Padahal di balik pemandangan itu ada kerja yang tidak ringan. Ada kain jarit yang diikat rapat agar dagangan tidak bergeser, ada kesabaran menaiki anak tangga satu per satu, ada keberanian mendekati orang yang belum tentu sempat menyapa, dan ada keteguhan untuk tetap berjalan saat hujan turun.
Kisahnya menunjukkan bahwa bertahan hidup sering bergantung pada kemampuan beradaptasi. Ketika pandemi mengubah keadaan, ia mengganti dagangannya. Ketika pembeli meminta pilihan lain, ia menambahkannya. Ketika jalanan terasa melelahkan, ia tetap melangkah.
Pada akhirnya, yang ia bawa bukan hanya basreng dan keripik. Ada kerja keras yang dibungkus dalam langkah-langkah kecil: mengetuk rumah demi rumah, menukar tenaga dengan harapan agar hari tetap berjalan. Selama kakinya masih kuat dan masih ada pintu yang menunggu, ia akan terus berpindah dari satu teras ke teras lain.
