Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Dentang Kenong di Depan Pintu: Cara Warga Pekunden Menyapa Tamu

Posted on Oktober 8, 2026Oktober 8, 2026 by jejakpersepsi@gmail.com

Penulis: Fadel Daren Nafisa

Kenong yang tergantung di sisi pintu Oemah Gamelan, Desa Wisata Pekunden, Banyumas. (Dokumentasi: Fadel Daren Nafisa)

BANYUMAS, SUDUTNALAR – Tung… tung… Bunyi logam itu terdengar dari teras Oemah Gamelan di Desa Wisata Pekunden, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas. Tidak ada bel listrik yang berbunyi “ting-tong”, dan tidak ada tamu yang berteriak memanggil penghuni rumah.

Di tembok oranye di sisi pintu kayu yang mengilap, sebatang besi menancap, dan seutas tali merah menggantung darinya. Di ujung tali itu, sebuah kenong hitam tergantung diam. Permukaannya penuh bercak tanda lama dipakai, dan tonjolan bundar di tengahnya berkilat samar. Tidak ada tombol di sana. Untuk memberi tahu penghuni bahwa ada tamu, kenong itulah yang dibunyikan.

Bel yang Harus Dipukul

Kenong termasuk keluarga gong. Dalam seperangkat gamelan, ia duduk di barisan instrumen dan dibunyikan saat karawitan dimainkan bersama. Di Pekunden, ia berpindah ke ambang pintu dan bertugas memberi tahu penghuni rumah bahwa ada tamu.

Kenong dan pemukulnya di sisi pintu rumah warga RT 03 RW 03, Desa Wisata Pekunden. (Dokumentasi: Fadel Daren Nafisa)

Pemandangan serupa tampak di rumah warga lain, di RT 03 RW 03. Di dinding putih rumah itu, sebuah kenong hitam menggantung pada tali, dengan sebatang pemukul bergagang kayu dan berkepala bulat di depannya. Pelat kecil bertuliskan RT 03 RW 03 dan angka 14 menempel di dekatnya, dan di bawahnya papan mengingatkan, “Ayo… Cuci Tangan Pakai Sabun.” Tamu yang datang cukup meraih pemukul itu dan memukul kenongnya.

Bedanya dengan bel listrik jelas. Bel bisa ditekan siapa saja tanpa perlu paham apa pun. Kenong harus dipukul dengan pemukulnya. Maka tamu yang datang pun ikut memainkan sepotong gamelan, walau hanya satu kali pukul. Bunyi yang biasanya hanya ada di panggung hadir di teras rumah.

Coba tanyakan pada diri sendiri: kapan terakhir kali kita mendengar bunyi gamelan langsung, bukan dari layar ponsel? Kapan terakhir kali tangan kita memegang pemukul alat musik daerah sendiri? Di Pekunden, kesempatan itu menunggu di depan pintu.

Kebiasaan ini erat kaitannya dengan keberadaan Oemah Gamelan Pekunden yang dirintis Eko Kuntowibowo. Gamelan memang bagian dari keseharian tempat ini. “Selain karawitan, di sini utamanya produksi gamelan di belakang,” ujar Eko Kuntowibowo, pendiri Oemah Gamelan. Di belakang rumah itu gamelan-gamelan dibuat, sementara di bagian depan sebuah kenong menunggu tamu untuk memukulnya.

Dikelilingi Penanda Perjalanan

Kembali ke Oemah Gamelan, di dinding bata merah sebelah kenong, piagam penghargaan, foto bersama, kliping koran berjudul “Oemah Gamelan Jadi Wadah Seniman”, dan sertifikat desa wisata berderet dalam bingkai hitam. Jam dinding berdetak di sisi kiri. Kenong itu menggantung di pinggirnya, seolah ikut menyimak perjalanan tempat ini.

Berawal dari Tumpukan Gamelan

Perjalanan itu dimulai dari persoalan yang sangat biasa, yaitu kehabisan ruang.
“Berdiri memang dari aktivitas kami sehari-hari, yaitu bermain gamelan dan produksi gamelan,” tutur Pak Eko. “Ketika gamelan yang ada di belakang sudah numpuk, kurang tempat, maka kami coba membuat tempat untuk meletakkan gamelan.”

Tempat itu dinamai Oemah Gamelan. “Agar mudah menyebutnya,” kata Pak Eko. Ia resmi berdiri pada 22 Februari 2021. Usianya baru lima tahun dan baru dirayakan lewat Banyumas Gamelan Festival.

Dari gudang yang kehabisan tempat itu, kini tumbuh jadwal kegiatan yang padat. Setiap Rabu dan Jumat, ibu-ibu PKK setempat berlatih karawitan. Sabtu ada kelas karawitan untuk umum, Minggu pagi kelas tari, dan Minggu siang kelas pedalangan.

Silaturahmi yang Berbunyi

Pak Eko menyebut tiga tujuan kegiatan karawitan di tempatnya. “Pertama untuk silaturahmi, yang kedua hiburan, yang ketiga agar ada kegiatan warga di sekitar sini,” katanya. “Yang paling penting untuk hiburan.”

Kenong di sisi pintu tampak sejalan dengan semangat itu. Silaturahmi dan hiburan tidak berhenti di ruang latihan. Keduanya ikut hadir setiap kali tamu berhenti di depan pintu dan memukul kenong.

Harapan di Ujung Pemukul

Harapan Pak Eko terdengar sangat sederhana. “Harapannya ke depan gamelan tetap lestari, lalu Gen Z yang sekarang paling tidak tahulah tentang gamelan, syukur bisa main gamelan.”

Simak pilihan katanya: paling tidak tahulah. Ia tidak meminta anak muda menjadi pengrawit mahir. Ia hanya meminta mereka tahu bahwa gamelan ada.

Permintaan sekecil itu justru mengusik. Tidak semua orang punya gamelan di rumah, dan tidak semua pernah memegangnya. Banyak dari kita mungkin mengenalnya hanya lewat video yang lewat sekilas di layar ponsel, lalu menggulirnya ke tontonan berikutnya. Padahal alat musik hanya bisa lestari jika ada tangan yang memegangnya dan telinga yang mendengarnya langsung.

Untuk menjaga kelestarian gamelan, Oemah Gamelan terus berlatih dan menggelar workshop bersama ISI Surakarta. Namun, di Pekunden ada satu cara yang tidak butuh panggung. Cukup menggantung kenong dan pemukulnya di sisi pintu, lalu menunggu tamu datang.

Kenong itu terus menggantung, diam, dan menunggu untuk dipukul. Ia hanya meminta satu hal dari setiap tamu: mau mengangkat pemukul. Selama masih ada yang memukul, bunyi tung… tung… itu terus terdengar, dan tradisi kecil ini ikut hidup, satu pukulan pada satu waktu. Siapa yang akan memukulnya berikutnya? 

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme