Penulis: Azalia Nur Azizah Azmi

BREBES, SUDUTNALAR- Di usia 64 tahun, Mbah Sahiroh masih menjalani dua pekerjaan dalam sehari. Pagi hingga siang ia bekerja sebagai buruh tani di lahan milik orang lain. Menjelang sore, ia beralih ke depan panggangan untuk berjualan sate Madura hingga malam.
Selama empat tahun, Mbah Sahiroh meneruskan usaha sate yang sebelumnya dijalankan putri dan menantunya. Setelah sang menantu meninggal karena kanker paru-paru, putrinya memilih merantau ke Jakarta untuk mencari penghasilan. Mbah Sahiroh kemudian tetap mempertahankan usaha tersebut.
Menjelang pukul lima sore, bara di bawah panggangan mulai menyala. Arang yang semula gelap perlahan memerah ketika api mulai membakar bagian bawahnya. Tusuk-tusuk sate diletakkan di atas panggangan dan dibolak-balik hingga matang. Asap tipis mengepul bersama aroma kecap dan bumbu kacang di sekitar tempat jualan. Sesekali, Mbah Sahiroh mengipasi bara agar panasnya tetap terjaga.
Satu kodi sate berisi 20 tusuk dan dijual seharga Rp25.000. Dalam sehari, sekitar lima hingga delapan kodi biasanya terjual. Jumlah tersebut berarti sekitar 100 hingga 160 tusuk sate yang disiapkan untuk pembeli setiap harinya. Namun, tidak setiap malam dagangannya habis. Sate yang tersisa akan disimpan di dalam kulkas untuk dijual kembali.
Harga tersebut tetap dipertahankan meskipun harga ayam, kecap, dan kacang mengalami kenaikan. Bagi Mbah Sahiroh, menaikkan harga sate bukan keputusan yang mudah karena ia khawatir pembeli akan berkurang. Ia memilih mempertahankan harga yang sudah dikenal pelanggan, meskipun keuntungan yang diperoleh harus menyesuaikan dengan jumlah sate yang terjual.
“Takut nggak ada yang beli,” ujar Mbah Sahiroh.
Ketika ditanya mengenai sate yang tidak selalu habis terjual, ia menjawab sambil tertawa kecil, “Ya namanya rezeki, kadang habis kadang ngga.”
Di luar aktivitas berjualan, Mbah Sahiroh tetap mengandalkan pekerjaan sebagai buruh tani. Ia bekerja di lahan milik orang lain dengan mengerjakan berbagai pekerjaan pertanian. Dari pekerjaan tersebut, ia memperoleh upah sekitar Rp30.000 sehari. Pekerjaan itu dilakukan sejak pagi hingga siang, sebelum ia kembali menyiapkan dagangan untuk dijual pada sore hari.
Rutinitas tersebut membuat waktu Mbah Sahiroh banyak dihabiskan untuk bekerja. Setelah menyelesaikan pekerjaan di lahan, ia masih harus menyiapkan sate dan perlengkapan berjualan. Menjelang sore, panggangan kembali dinyalakan dan aktivitas berjualan dimulai hingga malam.
Sementara putrinya bekerja di Jakarta, cucunya yang masih sekitar lima tahun tinggal bersama Mbah Sahiroh. Biasanya, sang cucu juga ikut menemani berjualan. Namun, pada malam itu, cucunya tidak ikut karena sedang sakit.
Empat tahun telah berlalu, tempat itu masih menjadi tempat Mbah Sahiroh mencari penghasilan setiap sore. Di tengah perubahan yang terjadi dalam keluarganya, ia memilih untuk tetap melanjutkan usaha yang telah dijalankan selama ini.
“Sayang kalau ditinggalkan, tempatnya juga sudah ada.” Ujarnya.
Sekitar pukul sembilan malam, aktivitas berjualan mulai berakhir. Bara yang sejak sore digunakan untuk membakar sate perlahan mengecil. Peralatan jualan kemudian dirapikan sebelum ia mengakhiri aktivitasnya malam itu.
Bagi Mbah Sahiroh, pekerjaan sebagai buruh tani dan penjual sate menjadi dua sumber penghasilan yang dijalani setiap hari. Keduanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup di tengah keadaan keluarga yang berubah. Empat tahun bukan waktu yang sebentar untuk mempertahankan sebuah usaha. Di tengah naiknya harga bahan dan keadaan keluarga yang berubah, Mbah Sahiroh memilih tetap menjalankan apa yang masih bisa dijalankan.
Bagi sebagian orang, Rp25.000 mungkin hanya harga satu kodi sate. Bagi Mbah Sahiroh, harga itu menjadi bagian dari penghasilan yang ia kumpulkan setiap hari untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.
