Oleh:Blandina wabiser

Sumber Foto: Blandina wabiser
CILACAP, SUDUTNALAR – Hembusan angin laut dini hari terasa menusuk hingga ke tulang di sekitar pesisir pantai. Di antara deretan perahu kayu yang berayun pelan diterpa ombak kecil, tampak seorang nelayan berusia lanjut berdiri sambil memegang pengayun perahunya. Raut wajahnya yang menunjukkan perjalanan panjang kehidupan memancarkan keteguhan dan ketabahan seorang lelaki yang telah puluhan tahun mengarungi laut dan menjalani pahit manis kehidupannya
Ia adalah Pak Basuki (72), seorang nelayan senior yang telah menggantungkan napas hidupnya di laut sejak puluhan tahun silam. Namun, nama Basuki sebenarnya bukanlah nama lahirnya. Sebelum takdir membawanya selamat dari musibah dahsyat tersambar petir di tengah laut, ia terlahir dengan nama Herianto.
“Nama saya dulu Herianto. Setelah kena petir di tengah laut, diganti jadi Basuki. Satu perahu ada empat orang, saya yang kena duluan. Tapi alhamdulillah, Allah masih memberi umur panjang dan kesehatan sampai sekarang,” kenang Pak Basuki sambil menatap lepas ke arah ufuk laut.
Perjalanan hidup Pak Basuki bukanlah garis lurus yang mudah. Terlahir dari seorang ayah yang berjuang membela negara dengan bambu runcing dan berpangkat, hidupnya justru penuh ujian sejak kecil. Setelah ibunya meninggal dunia sewaktu ia masih balita, kehidupan keluarganya tak lagi sama. Ia terlantarkan hingga harus mengembara dan bertahan hidup sendiri.
“Saya dulu sekolah masih pakai sabak dan grip, belum ada buku. Orang tua saya berpangkat, tapi saya tidak mau bergantung pada hal-hal duniawi. Saya pernah kelaparan sampai terpaksa mencuri ketela karena tidak punya apa-apa,” tuturnya kenang masa lalu.
Sebelum memutuskan menjadi nelayan, Pak Basuki sempat berjualan es dawet cawu. Namun, hasil jualan es tersebut tak cukup untuk membiayai masa depan anak-anaknya. Demi masa depan buah hatinya, ia memutuskan untuk menerjang ketakutannya terhadap laut bahkan melupakan rasa mabuk laut yang sempat menyiksanya di awal-awal melaut. Semua rupiah logam yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit berhasil mengantarkan anak-anaknya menyelesaikan pendidikan.
Bagi Pak Basuki, laut bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan ruang belajar tentang kehidupan dan kepasrahan kepada Sang Pencipta. Setiap hari, ketika sebagian besar orang masih terlelap dalam mimpi, ia sudah berlayar sekitar pukul 02.30 WIB dini hari untuk menunaikan salat Subuh di atas perahunya yang bergoncang.
Puluhan tahun mengarungi lautan membuatnya hafal setiap seluk-beluk perubahan alam. Saat cuaca buruk dan kabut tebal menyelimuti pandangan bak burung yang terkurung kain hitam, ia tak mengandalkan navigasi modern, melainkan membaca tanda-tanda alam.
“Kalau malam gelap dan tidak kelihatan apa-apa, saya pakai alun (gelombang besar) sebagai kompas untuk pulang. Alun besar pasti larinya ke barat. Orang sekarang banyak yang tidak tahu air, jadi sering kebelasan. Sering saya tolong di tengah laut,” jelasnya penuh percaya diri.
Ketangguhan Pak Basuki telah diuji oleh berbagai musibah mengerikan: mulai dari diterjang badai, tenggelam di laut lepas, dihantam tsunami, hingga serangan jantung di tengah pelayaran. Namun, seluruh pengalaman pahit itu tak pernah menyurutkan langkahnya.
“Kalau kerja di darat kadang ada, kadang tidak ada. Kalau di laut, asal kita ‘gandulan’ (bergantung) sama Allah, insya Allah berangkat selamat, pulang selamat. Yang penting husnuzan dan bekerja lurus seperti garisan, jangan seperti bambu yang semakin tinggi semakin melengkung,” pesannya.
Di balik kulit tebal dan fisiknya yang tetap bugar di usia 72 tahun, Pak Basuki menyimpan hati yang sangat dermawan. Hasil tangkapan ikan yang ia peroleh tak melulu ia nilai dengan angka rupiah. Sebagian dari rezekinya selalu ia bagikan kepada tetangga sekitar. Prinsip berbagi itu bahkan ia terapkan pada pohon buah-buahan di pekarangan rumahnya yang dibagikan secara gratis kepada siapa saja yang membutuhkan.
Mengingat masa kecilnya yang pernah kelaparan, setiap hari raya ia selalu menyiapkan amplop berisi uang tunai untuk dibagikan kepada anak-anak kecil di lingkungan tempat tinggalnya.
“Janganlah kalau melihat ikan yang dilihat cuma uang. Berbagilah. Dulu saya waktu kecil sering minta-minta sama orang, jadi saya selalu ingat itu. Biar habis satu juta setiap lebaran tidak masalah, nanti rezeki bisa dicari lagi. Yang penting diberi kesehatan,” ucapnya tulus.
Kini, di usianya yang telah berkepala tujuh, Pak Basuki tetap memilih berlayar. Bahtera kayu dan gemuruh ombak telah menjadi bagian tak terpisahkan dari jiwanya sebuah bukti keteguhan seorang ayah dan ketulusan abadi seorang hamba yang terus berjuang tanpa pernah mengenal kata lelah.
