
BANJARNEGARA, SUDUTNALAR – Di tempat jualannya, Umi Wasingah menata berbagai jajan untuk pembeli yang datang. Anak-anak sekolah yang melintas dan anak-anak yang hendak mengaji menjadi bagian dari pembeli yang ditemuinya sehari-hari. Pada usia 61 tahun, Umi masih menjalani rutinitas berjualan yang sudah lama akrab dengan kehidupannya.
“Sudah biasa jualan sih, ada sepi ada rame,” ujar Umi.
Bagi Umi, berjualan bukanlah pekerjaan yang baru dimulai ketika anak-anaknya dewasa. Sejak membangun keluarga bersama Arif Miswadi pada 1984, ia telah menjalani berbagai pekerjaan untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ia pernah berjualan pecel dan kupat, membuat keripik pisang, hingga berjualan di kantin sekolah bersama suaminya. Pekerjaan-pekerjaan itu terus berjalan seiring dengan bertambahnya usia anak-anaknya dan kebutuhan mereka untuk bersekolah.
Namun, ada satu bagian dari pendidikan yang justru terhenti dalam kehidupan Umi. Ia hanya menyelesaikan pendidikan hingga MTsN 2 Banjarnegara. Padahal, ketika masih bersekolah, Umi memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan dan menjadi guru agama. Ia menyukai bahasa Arab dan hadis, bahkan merasa dekat dengan pelajaran bahasa Arab karena kerap menggunakannya ketika berbicara dengan gurunya. Keinginan untuk melanjutkan sekolah tetap ada, tetapi keadaan membuat pendidikan itu berhenti sampai tingkat madrasah tsanawiyah.
Setelah tidak lagi bersekolah, Umi sempat menghabiskan waktunya dengan membantu sang bibi memetik melati. Keinginan yang tidak tercapai itu masih ia ingat hingga sekarang. Ia pernah membayangkan dirinya menjadi seorang guru, tetapi pada akhirnya menjalani kehidupan sebagai seorang ibu yang mendampingi anak-anaknya tumbuh dan bersekolah. Dari rumah, Umi mulai mengambil peran yang dulu ingin ia jalani di ruang kelas.
Ketika anak-anaknya masih kecil, Umi mengajarkan mereka membaca Al-Qur’an, hafalan surah-surah pendek, belajar huruf hijaiyah, hingga pengetahuan dasar seperti membaca dan mengenal huruf abjad. Setiap sore, setelah mandi dan salat Asar, Umi mendampingi mereka belajar. Ketika mengajak anak-anaknya salat, ia biasa mengatakan, “Mama salat, anak-anak juga harus ikut salat.” Pendidikan yang diberikan Umi di rumah berjalan bersamaan dengan sekolah yang mereka tempuh.
Tahun-tahun berlalu dan anak-anak Umi mulai menentukan jalannya masing-masing. Dian memilih melanjutkan pendidikan ke Unnes dan mengambil Teknik Sipil. Aji menyelesaikan pendidikan di SMK sebelum memilih bekerja. Faizal melanjutkan pendidikan Teknik Informatika di Unsiq sambil bekerja dan memenuhi sebagian besar kebutuhan kuliahnya sendiri. Sementara itu, Laeli menempuh Ilmu Hukum di Unnes melalui KIP-K yang kini telah menyelesaikan perkuliahannya, tinggal menunggu wisuda.
Dari empat anak tersebut, tiga di antaranya berhasil menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi. Pencapaian itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan Umi sebagai ibu. Ia sendiri tidak pernah kembali ke bangku sekolah setelah menyelesaikan MTs, tetapi anak-anaknya justru melangkah lebih jauh dalam pendidikan. Keempatnya memang memilih jalan yang berbeda, tetapi pendidikan tetap menjadi bagian dari perjalanan keluarga tersebut.
Salah satu momen yang kembali membuka ingatan Umi tentang pendidikan terjadi ketika Laeli mengajaknya berkeliling fakultas hukum yang berada di Unnes. Kampus yang menjadi tempat Laeli menyelesaikan pendidikan Ilmu Hukum itu ternyata membawa Umi pada kenangan tentang dirinya sendiri. Di sana, ia teringat pada keinginannya ketika masih menjadi pelajar, yaitu melanjutkan sekolah dan menjadi guru agama. Kenangan itu membuat Umi menangis.
Kini, keinginan itu memang tidak lagi mungkin diwujudkan seperti yang dahulu ia bayangkan. Umi tidak berdiri di depan kelas sebagai guru agama dan tidak melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Ia justru masih berada di tempat jualannya, menjalani pekerjaan yang telah menjadi bagian dari kehidupannya selama bertahun-tahun.
Akan tetapi, ketika tiga dari empat anaknya telah menempuh perguruan tinggi, ada bagian dari harapan Umi yang menemukan jalannya sendiri. Ia mungkin tidak pernah sampai menjadi guru seperti yang diimpikannya sejak muda. Namun, jauh sebelum anak-anaknya mengenal ruang kuliah, Umi telah menjadi tempat pertama mereka belajar. Mimpi yang dahulu terhenti di bangku MTs itu tidak benar-benar hilang. Ia tumbuh melalui anak-anak yang pernah ia ajari untuk terus belajar.
Oleh: Adelia Rahma Wati
