Oleh: Sera Sri Wulan Pertiwi

Sumber Foto: Sera Sri Wulan Pertiwi
BANYUMAS, SUDUTNALAR—Aroma gurih adonan corndog yang digoreng keemasan menyambut pagi dari sebuah kamar kos. Di antara tumpukan buku kuliah dan barang dagangan, Ifara (20) tampak sibuk dan cekatan merapikan kemasan corndog buatannya sebelum ia melakukan perjalanan menuju ruang kelas di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman. Bagi mahasiswa yang pindah jalur dari MIPA ke ilmu ekonomi ini, hari-harinya berlari dalam ritme yang padat, membagi fokus antara menuntut ilmu dan berjuang mencari penghasilan sendiri.
“Niat awalnya untuk menambah uang jajan karena saya anak kos. Daripada tidak ada kegiatan saat liburan, lebih baik melakukan kegiatan positif sekalian mendapatkan penghasilan,” tutur Ifara mengingat awal langkahnya.
Keberanian berwirausaha tidak datang begitu saja dalam hidupnya. Sebelum ujian masuk perguruan tinggi, Ifara sempat bekerja untuk mengumpulkan dana. Namun, keputusan berat terpaksa ia ambil menjelang hari keputusan.
“Saya mengundurkan diri 30 hari sebelum UTBK karena merasa jika dilakukan secara bersamaan tidak akan maksimal. Namun, jika hanya belajar saja tentu tidak ada pemasukan, sehingga menghemat hasil kerja sebelumnya saya jadikan modal bisnis,” ungkapnya.

Sumber Foto: Sera Sri Wulan Pertiwi
Dari modal awal dan sisa tabungan tersebut, bisnis kecil-kecilan ini mulai berputar. Bermula dari produk basreng pedas, ia terus berinovasi mencoba berbagai jajanan hingga menemukan corndog sebagai produk yang paling diminati teman-temannya.
Langkah usaha Ifara tidak berhenti di ruang lingkungan kampus saja. Demi menjangkau para pembeli, ia rela mengirimkan pesanan secara langsung dari satu kos-kosan ke kos-kosan teman lainnya. Saat akhir pekan atau waktu senggang tiba, ia memboyong barang dagangannya untuk berjualan keliling menembus keramaian kawasan Alun-Alun Purwokerto.
Semangat mandiri Ifara juga mendorongnya membuka usaha penjualan pulsa, paket data, hingga layanan pembayaran digital. Ia bahkan sempat memanfaatkan printer pemberian kerabatnya untuk menyediakan jasa cetak dokumen bagi sesama pelajar, meski kini alat tersebut sudah tidak berfungsi lagi karena faktor usia.
Hasil dari kerja keras tanpa henti ini membawa perubahan nyata bagi kehidupannya. Jadi terkadang orang terdekat kini tidak perlu lagi rutin mengirimkan uang saku mingguan. Meski begitu, menjalani peran ganda sebagai mahasiswa aktif sekaligus pelaku usaha tentu bukanlah hal yang mudah.
“Untuk bertahan hidup dan menyeimbangkan semuanya rasanya sangat berat,” Ifara jujur mengingat padatnya rutinitas harian yang harus dijalaninya setiap hari.
Meski sempat gagal masuk ke universitas impian pertamanya, kegagalan tersebut tidak pernah menyurutkan langkahnya. Keputusannya berpindah jalur ke FEB Unsoed justru menjadi titik balik untuk membuktikan bahwa ia mampu bertumbuh dan berkembang di mana pun ia berada.
“Saya merasa tidak bisa masuk di universitas impian saya, jadi paling tidak di Unsoed saya harus sukses. Meski belum tercapai sepenuhnya, setidaknya sampai detik ini saya masih terus berusaha,” tambahnya.
Di sela-sela kesibukan jadwal kuliah, kegiatan organisasi, dan berbagai kompetisi yang diikutinya, Ifara terus membuktikan bahwa kemandirian adalah proses belajar yang sesungguhnya. Bagi Ifara, ruang kelas bukan satu-satunya tempat untuk menempa diri.
“Sebagai pelajar, kalian tidak boleh berhenti di satu titik saja. Jangan takut untuk mencoba dan mengambillah semua kesempatan yang ada. Kita tidak tahu jalan mana yang akan membawa kita menuju kesuksesan, jadi jalani saja selagi itu positif,” pesan Ifara mantap. “Manfaatkan kesempatan sebagai pelajar secara maksimal karena tidak semua orang bisa berkuliah. Oleh karena itu, lakukan yang terbaik di setiap kesempatan.”
