
Dok. (Fajriati Fatwa Islamiyati)
Penulis : Fajriati Fatwa Islamiyati
BANJARNEGARA, SUDUTNALAR — Daun-daun salak yang biasanya tampak hijau rimbun kini sebagian menguning dan menggulung di ujungnya. Beberapa tandan buah tampak lebih kecil dari biasanya, tidak sebesar saat musim hujan. Dari pengamatan langsung di lokasi, tanah di sekitar perkebunan tampak mengeras akibat terik musim kemarau yang sudah berjalan lebih dari tiga bulan. Bagi Sidik Riyanto (51), musim kemarau tahun ini berdampak langsung pada penurunan produktivitas kebun salaknya.
Sidik sudah 10 tahun lebih mengelola kebun salak ini. Dalam pengalaman satu dekade itu, ia melihat dampak nyata dari cuaca panas yang berkepanjangan. “Biasanya kalau musim hujan bisa 1 ton, sekarang 5 kuintal,” ujarnya. Produksi turun hingga 50%. Batang-batang salak yang biasanya kokoh kini terlihat layu dan kekurangan suplai air dari tanah yang mengering.

Dok. (Fajriati Fatwa Islamiyati)
Meskipun tanaman salak dikenal cukup tahan terhadap cuaca kering, dampaknya tetap terasa nyata pada hasil panen. “Tanaman salak kuat dari pengaruh kemarau, tapi produksinya berkurang,” jelas Sidik. Perubahan fisik mulai terlihat di kebun seperti batang pohon mengering dan pasokan air berkurang drastis karena tidak adanya hujan. Di musim kemarau, produktivitasnya anjlok separuh dari biasanya.
Di tengah lahan yang semakin kering ancaman yang dihadapi bukan sekadar penurunan jumlah panen, melainkan risiko pohon salak yang bisa mengering dan mati. “Para petani khawatir pohon salaknya pada mengering jadi enggak berbuah, produksinya berkurang,” ungkap Sidik. Kekhawatiran itu beralasan karena salak adalah tanaman menahun yang bisa bertahan hingga 20 tahun. Sekali tanam, petani berharap bisa memanen berkali-kali. Tapi jika pohonnya mati, artinya investasi 10 tahun lebih bisa hilang dalam sekejap. Dalam kondisi normal, kebun salak bisa dipanen dua kali dalam sebulan setelah memasuki usia produktif 3 tahun. Tapi di musim kemarau ini, siklus panen terganggu.
Untuk mengurangi dampak kekeringan, petani terpaksa mengalirkan air melalui paralon ke lahan mereka. Air itu diambil dari sumber yang masih tersisa, lalu dialirkan sedikit demi sedikit ke pangkal pohon. “Biar nggak kering,” kata Sidik singkat. Upaya itu membantu mencegah pohon mengering sepenuhnya, meski belum mampu mengembalikan produktivitas seperti musim hujan.
Di tengah penurunan volume panen tersebut, harga salak di pasaran justru mengalami kenaikan. Di musim hujan, harga salak berkisar Rp2.000 per kilogram. Saat kemarau, harga naik menjadi Rp5.000 per kilogram. “Harganya naik karena buahnya tidak melimpah seperti di musim hujan,” jelasnya. Namun, kenaikan harga ini tidak sebanding dengan volume panen yang berkurang drastis. Bagi petani, yang terpenting adalah kepastian — kepastian bahwa pohon akan tetap hidup, kepastian bahwa ada panen berikutnya, kepastian bahwa mereka bisa terus bertahan.
Salak menjadi pilihan utama karena siklus hidupnya yang panjang. “Tidak seperti padi kan tanam lagi, potong lagi, tanam lagi, kalau salak kan sekali tanam umurnya sampai 20 tahunan,” ujar Sidik. Tapi di tengah kemarau yang ekstrem, tanaman menahun ini pun mulai goyah. Petani tahu mereka tidak bisa bergantung pada tanaman lain. Ini adalah satu-satunya sumber penghidupan yang mereka punya.
Saat ditanya mengenai harapan untuk kebun salaknya, Sidik menyampaikan permintaannya secara sederhana. “Mengharap hujan segera turun sehingga pohon-pohon salak tidak kekeringan dan buahnya bisa berproduksi normal kembali,” katanya pelan. Harapan serupa juga dirasakan oleh ratusan petani salak lainnya di Banjarnegara.
Bagi Sidik dan petani lainnya, hujan bukan sekadar fenomena cuaca. Itu adalah kepastian yang mereka tunggu untuk tetap bisa bertahan.
