Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Membaca Harga, Menimbang Peluang: Dua Dekade Nanang di Dunia Rongsok 

Posted on Oktober 8, 2026Oktober 8, 2026 by Hanunah Mumtaz

Oleh: Aila Fikrotun Nida

Sumber: Aila Fikrotun Nida

Dua dekade berdagang barang bekas, Nanang (48) hafal cara membaca harga dan tahu persis untuk siapa ia bekerja.

Pukul sembilan pagi, Nanang berangkat. Rutenya sudah ia hafal di luar kepala: Patimuan, Cinyawang, lalu Kedungreja. Di tiga wilayah itu, pria 48 tahun ini tidak sekadar lewat. Ia sedang bekerja, mencari barang bekas yang nilainya hanya bisa dibaca oleh mata yang sudah terlatih. Warga Mulyasari RT 1/10, Ciklapa, Cilacap, ini sudah sekitar 20 tahun menekuni usaha rongsok. Jalan itu tidak ia rencanakan sejak awal. “Awalnya bingung mau jualan apa,” tuturnya. Ia sempat berjualan cimol, tetapi pembelinya sepi. Dari situ ia beralih ke barang bekas. Keputusan yang lahir dari kebingungan itu kini sudah berjalan dua dekade dan menjadi tumpuan hidup keluarganya.

Bagi orang awam, tumpukan barang bekas tampak sama saja. Bagi Nanang, setiap barang punya tingkatan nilai. Ia terbiasa memilah barang murah seperti emberan atau atum dari barang yang nilai jualnya tinggi, yaitu aluminium, wajan, tembaga, dan aki.Kemampuan memilah itu tidak ia dapat dari bangku kuliah. Ia mengasahnya selama dua dekade berhadapan langsung dengan barang dan para pembelinya. Di tangan yang sudah terbiasa, pekerjaan membedakan itu menjadi keahlian yang tak bisa diwakilkan begitu saja.

Tantangan terbesar di lapangan, kata Nanang, adalah naik-turunnya harga. Harga barang bekas sangat bersaing antar pedagang, sehingga tidak ada angka yang benar-benar tetap. Perubahan yang paling ia rasakan pun datang dari situ. “Kadang ada yang membeli barang dengan harga di atas pasaran, karena harga masing-masing lapak biasanya berbeda,” ujarnya.Di tengah pasar yang berubah-ubah itu, Nanang punya kenangan yang paling ia ingat. “Yang paling berkesan itu kalau beli barang dengan harga murah, terus dijual pas harganya lagi tinggi,” katanya.

Cerita itu menunjukkan satu hal: berdagang rongsok bukan sekadar mengumpulkan dan menimbang. Ada kesabaran menunggu waktu yang tepat, dan kejelian membaca pasar yang terus bergerak. Dari usaha inilah Nanang membiayai pendidikan kedua anaknya. Anak pertama sudah menikah dan berkeluarga. Anak kedua baru saja lulus SMK. “Bersyukur, dari pekerjaan ini bisa membiayai anak-anak sekolah,” ucapnya. Menurutnya, penghasilan dari usaha rongsok mencukupi kebutuhan keluarga. Dua anak, satu sudah berkeluarga dan satu lulus sekolah kejuruan, menjadi bukti yang bisa ia tunjukkan. Nanang sadar tidak semua orang memandang pekerjaannya sama. “Di mata orang-orang, mungkin pekerjaan pedagang rongsok atau barang bekas itu rendahan atau kotor,” katanya. Namun ia punya ukuran sendiri. “Tapi dari pekerjaan itulah bisa memenuhi kewajiban sebagai kepala keluarga, memberikan penghidupan yang layak untuk anak dan istri.” Baginya, nilai sebuah pekerjaan tidak ditentukan oleh anggapan orang, tetapi oleh apa yang bisa ia hadirkan di rumahnya: anak yang bersekolah, kebutuhan yang tercukupi, dan keluarga yang terjaga. Ia tidak sibuk meminta orang lain setuju. Ia menjawabnya lewat apa yang sudah ia kerjakan selama ini.

Di lapak-lapak rongsok, segalanya punya harga per kilo. Aluminium punya harganya, tembaga punya harganya, aki pun demikian. Tetapi Nanang tahu betul bahwa hasil kerjanya punya nilai yang tidak tertulis di papan harga mana pun. Dua puluh tahun lalu, ia hanyalah penjual cimol yang bingung mau berdagang apa. Hari ini, ia adalah kepala keluarga yang berhasil mengantar anak pertamanya berkeluarga dan anak keduanya lulus SMK. Dari barang bekas, Nanang membangun sesuatu yang tidak bekas sama sekali.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme