Penulis: Niscita Nariswari Vedacetta
Sudutnalar, 7 Oktober 2026

BANYUMAS, SUDUTNALAR – Di sebuah rumah di Tambaksogra, Kecamatan Sumbang, Banyumas, ruang tamu memiliki banyak fungsi sekaligus. Di sanalah anak-anak datang untuk membaca, belajar, meminjam buku, dan bermain. Rumah itu menjadi awal perjalanan Rumah Literasi Tambaksogra yang didirikan Fatiah pada 2016.
Awalnya, Rumah Literasi masih berupa Taman Bacaan Masyarakat (TBM) atau rumah baca. Koleksi buku menjadi pintu masuk bagi anak-anak di sekitar untuk datang dan membaca. Namun, kegiatan yang hanya berpusat pada membaca dan meminjam buku dirasa belum cukup.
Bagi Fatiah, anak-anak membutuhkan ruang untuk melakukan lebih banyak hal. Namun, semuanya berlangsung dalam satu ruangan. Begitu ada anak masuk untuk meminjam buku, ia bertemu teman-temannya, lalu sapaan “hai, hai” bersahutan. Anak-anak yang sedang belajar pun kehilangan fokus.
“Begitu masuk ketemu teman-teman yang lain, yang di dalam jadi nggak fokus belajar. Malah ikutan,” ungkap Fatiah.
Dari kondisi itulah muncul keinginan memiliki ruang khusus bagi anak-anak. “Ya Allah, kalau ada rezeki, semoga bisa merubah lahan depan itu,” tutur Fatiah mengenang doanya waktu itu. Lahan di depan rumah kala itu masih berupa tanah kosong. Lahan itu kemudian dapat digunakan untuk kegiatan Rumah Literasi berkat bantuan berbagai pihak.
“Ini bagian dari mimpi dan perjalanan,” ujarnya.
Kini Rumah Literasi juga menjadi tempat bimbingan belajar yang lebih mengutamakan proses dan perkembangan anak daripada nilai, dengan pendampingan pada aspek akademik, keterampilan, dan karakter.
Setiap hari kecuali Kamis, selepas pulang sekolah, rumah itu kembali ramai. Sekitar pukul satu hingga tiga siang, anak-anak datang bergiliran per kelas, dibagi dua sesi agar kegiatan belajar tetap fokus. Ketika seorang anak mengalami kesulitan memahami materi sekolah, Fatiah berusaha mendampinginya. Di Rumah Literasi ini tidak ada target nilai seperti pada umumnya yang menjadi orientasi bimbingan belajar berbayar.
Kegiatan yang diberikan pun beragam. Anak-anak dapat belajar Bahasa Inggris, Matematika, komputer, baca-tulis, pemahaman bacaan, kreativitas, hingga keterampilan memecahkan masalah.
βKami hanya ingin membantu anak-anak baik itu secara akademis, dan juga secara skill, keterampilan, terus kayak karakter,β ujar Fatiah.
Ketika Buku Membuka Jalan ke Pengalaman Baru
Dalam perjalanannya, Rumah Literasi mulai membuka ruang bagi mahasiswa, komunitas, dan relawan untuk berkegiatan bersama anak-anak.
Namun, kesempatan tersebut tidak langsung datang. Sebagai rumah literasi yang berdiri secara mandiri, keberadaan Rumah Literasi Tambaksogra sempat belum banyak diketahui oleh komunitas maupun mahasiswa yang ingin melakukan kegiatan sosial.
Banyak kegiatan sosial lebih sering menyasar ke tempat-tempat yang sudah dikenal. Padahal, menurut Fatiah, kebutuhan anak-anak tidak selalu berbentuk bantuan materi. Pengetahuan, pengalaman, dan kesempatan bertemu dengan orang-orang baru juga menjadi sesuatu yang penting.
Fatiah menyadari adanya keterbatasan. Sebagai seorang ibu rumah tangga, jejaring yang dimiliki belum seluas orang-orang yang aktif dalam berbagai kegiatan. Karena itu, setiap komunitas atau relawan yang datang diharapkan dapat mengenalkan Rumah Literasi kepada orang lain.
Dalam sekitar dua hingga tiga tahun terakhir, Fatiah melihat antusiasme komunitas mulai meningkat. Beberapa komunitas mulai datang dan melakukan kegiatan bersama anak-anak. Aktivitas Rumah Literasi di media sosial juga membantu memperkenalkan keberadaannya.
βKalau ada mahasiswa atau komunitas yang masuk, anak-anak dapat ilmu, pengalaman, dan teman-teman baru, serta wawasan lebih luas, motivasi juga lebih tinggi,β ujar Fatiah.
Salah satu pengalaman itu hadir melalui kegiatan outing class ke Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman. Anak-anak tidak hanya mendapatkan materi tentang literasi keuangan, tetapi juga memperoleh kesempatan belajar di luar lingkungan yang selama ini mereka kenal.
Dari Ruang Tamu ke Ruang Impian
Kini, lahan di depan rumah menjadi bagian penting dari perjalanan Rumah Literasi Tambaksogra. Jika sebelumnya anak-anak harus berbagi ruang tamu untuk belajar, membaca, bermain, serta mengurus peminjaman buku, kini tersedia ruang yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan.
Perubahan itu bukan sekadar soal bertambahnya tempat. Bagi Fatiah, lahan tersebut merupakan bagian dari mimpi yang tumbuh sejak Rumah Literasi masih bermula sebagai rumah baca pada 2016.
Bagi Rumah Literasi Tambaksogra, buku tetap menjadi bagian dari perjalanan. Tetapi perjalanan itu tidak berhenti ketika halaman terakhir sebuah buku ditutup. Di ruang yang semakin terbuka itu, anak-anak juga diajak belajar dari pengalaman, dari orang-orang baru, dan dari dunia yang berada di luar lingkungan mereka sehari-hari.
