
CILACAP, SudutNalar – Di sebuah sekolah dasar, rutinitas pagi tidak hanya diisi oleh suara bel dan langkah kaki siswa yang berlarian ke kelas. Di balik itu, ada seorang guru yang setiap hari memilih untuk “membakar” waktunya demi melihat anak-anak didiknya bahagia dan mau belajar. Ia adalah Restriana Afni Puspamaya, guru SD asal Kroya yang telah mengabdikan diri di dunia pendidikan sejak tahun 2017.
Perjalanannya menjadi guru tidak dimulai dari cita-cita masa kecil. “Tidak, tetapi saya menjadi guru karena arahan dari orang tua,” ujar Restriana. Awalnya, profesi guru hanya sekadar saran dari keluarga. Namun, seiring berjalannya waktu, ia justru menemukan alasan sendiri untuk tetap bertahan, Restriana memiliki keinginan untuk memberikan manfaat bagi banyak orang.
Bagi Restriana, setiap hari di kelas adalah momen berkesan. “Setiap hari berkesan, karena anak-anak selalu ada saja tingkahnya yang lucu, menggemaskan, dan kadang bikin emosi,” tuturnya sambil tertawa. Dari situlah ia belajar memahami karakter siswa, mulai dari yang pemalu hingga yang mudah marah. Untuk mengenal mereka lebih dekat, Restriana biasa menggunakan lembar refleksi minat dan aktivitas yang disukai, serta mengamati cara anak memecahkan masalah saat mengerjakan soal.
Di mata Restriana, anak-anak SD zaman sekarang sangat membutuhkan bimbingan karakter. Peran guru, menurutnya, tidak hanya sekadar menyampaikan materi, tetapi juga membentuk kepribadian dan jiwa anak. Namun, jalan sebagai guru SD tidak selalu mudah. Tantangan terbesar yang ia rasakan adalah beban administrasi. “Saya sering disibukkan dengan laporan dan dokumen, sehingga sampai lupa bahwa esensi mengajar adalah berinteraksi dan menumbuhkan jiwa anak,” ungkapnya.
Perubahan kurikulum juga menjadi tantangan tersendiri, meskipun teknologi pembelajaran kini cukup membantu dalam proses belajar mengajar. Di tengah kesibukan itu, Restriana menyimpan harapan besar untuk sekolah dan siswanya. “Mudah-mudahan sekolah semakin banyak memiliki fasilitas yang mendukung pembelajaran. Semoga anak-anak happy setiap harinya sehingga dapat menerima ilmu dengan mudah.” harapnya. Kalimat yang sederhana, namun penuh makna.
Bagi Restriana, pelajaran hidup paling berharga dari profesinya adalah belajar menjadi seorang pemimpin. Ia juga berpesan bagi siapa pun yang ingin mengikuti jejaknya menjadi guru SD “Butuh kesabaran dan kemauan untuk terus belajar.” Karena baginya, yang membuatnya tetap semangat hingga sekarang adalah bertemu dengan anak-anak yang selalu menghidupkan hari-harinya.
Di akhir percakapan, Restriana menggambarkan profesi guru SD dalam satu kalimat “Guru seperti lilin, rela membakar dirinya demi menerangi orang lain.” Sebuah ungkapan yang bisa menjadi pengingat bagi banyak orang, bahwa di balik sederhananya peran seorang guru, ada cahaya yang terus menyala untuk masa depan anak-anak.
Penulis: Septia Berliana
Editor: Yuliyastin Gebi Saputri
