Sudutnalar.com, 12 September 2026

Taman Wisata Alam Gunung Selok (Foto: sudutnalar.com/Allexsa Adytia)
CILACAP, Sudut Nalar. Taman Wisata Alam Gunung Selok terletak di Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Tak hanya dikenal sebagai destinasi wisata alam, melainkan juga dimensi spiritual yang menarik minat pengunjung dari berbagai daerah, bahkan mancanegara. Di kawasan ini terdapat Padepokan Agung Sanghyang Jati tempat kegiatan spiritual, meditasi, dan sosial budaya yang kini juga menjadi kunjungan wisata.

Padepokan Agung Sanghyang Jati Gunung Selok (Foto:Â sudutnalar.com/Allexsa Adytia)
Bhikku Cira Subho, pengelola sekaligus pengasuh Padepokan Agung Sanghyang Jati Gunung Selok menjelaskan bahwa sejarah Gunung Selok sebagai tempat spiritual sudah ada sejak zaman kerajaan. Kawasan ini dahulu digunakan para biksu, pertapa, dan penasihat raja untuk berlatih, bermeditasi, dan berguru. Pada masa itu, raja maupun penasihatnya kerap datang untuk meminta petunjuk dan mendoakan kepemimpinan kerajaan, khususnya pada waktu-waktu tertentu seperti bulan purnama.
Tradisi tersebut masih berlangsung hingga kini. Hari-hari tertentu, seperti Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon, serta saat momen bulan purnama, masih menjadi waktu yang banyak dipilih pengunjung untuk melakukan ritual di kawasan ini.
Padepokan yang berdiri di bawah naungan Yayasan Padepokan Agung Sanghyang Jati ini mulai dirintis pada 1994 hingga 2000, sebelum akhirnya dibuka untuk umum sebagai kawasan wisata sejak 2009. Sejak saat itu, pembangunan fasilitas terus dilakukan secara bertahap meski masih terbatas.Sebagai tempat spiritual, Padepokan Agung Sanghyang Jati menggabungkan berbagai tradisi, termasuk kejawen dan unsur lintas keagamaan. Keberagaman tersebut menarik wisatawan dari Jawa, China, hingga Thailand.

Proses Pembangunan Tempat Pemujaan Dewa Semeru (Foto: sudutnalar.com/Allexsa Adytia)
Dalam waktu dekat, pengelola berencana membangun tempat pemujaan Dewa Semeru, yang digambarkan sebagai dewa catur muka atau bermuka empat berbentuk patung. Peletakan batu pertama pembangunan ini bahkan telah dilakukan pada pagi hari ini (Sabtu, 12/09/26).
Pengelolaan sehari-hari padepokan dilakukan oleh pengurus inti yang sebagian besar berasal dari luar daerah, seperti Jakarta, serta pengurus pelaksana yang mayoritas warga Cilacap. Pembagian tugas pengelolaan meliputi bagian spiritual, pelayanan, perawatan, hingga konsumsi.
Secara umum, pengunjung yang datang terbagi menjadi dua kelompok, yaitu pengunjung yang datang untuk melakukan ritual, berdoa, bertapa atau meditasi, dan pengunjung yang datang sekadar untuk berwisata, seperti berjalan-jalan, berekreasi, dan berfoto.
Bagi pengunjung wisata umum, jam kunjungan dibatasi mulai pukul 07.00 hingga 17.00, sedangkan bagi pengunjung yang datang untuk beribadah, kawasan ini dapat dikunjungi kapan saja tanpa batasan waktu.
Bhikku Cira Subho berpesan kepada masyarakat yang belum pernah berkunjung agar tidak ragu untuk datang. Ia menegaskan bahwa Padepokan Agung Sanghyang Jati adalah tempat untuk merelaksasi diri, bersyukur, berdoa, dan berserah diri kepada Tuhan, serta tidak mengembangkan praktik yang bertentangan dengan nilai keagamaan seperti ritual tumbal.
“Tempat ini terbuka untuk umum, untuk siapa saja, termasuk para peziarah. Jangan ragu, jangan takut, jangan khawatir,” pungkasnya.
Penulis : Allexsa Adytia
Editor  : Asya Sahitya Firdaniza
