Selasa, 22 September 2026

Casmito, pimpinan Paguyuban Wreda Laras (sumber foto:Sabti ainnur)
Bantarbolang – sudutnalar.com, Di tengah perkembangan zaman modern dan sepinya minat terhadap pelestarian seni tradisional, alunan gamelan dan lantunan tembang macapat yang bersumber dari ayat suci Al-Qur’an masih bergema di Bantarbolang. Di balik kelestarian kesenian tersebut, ada seorang pria lanjut usia yang tak kenal pamrih merawat warisan budaya. Meski telah lanjut usia, Casmito tetap aktif menjalankan peran sebagai pimpinan Paguyuban Wreda Laras di Bantarbolang, Pemalang.
Paguyuban Wreda Laras berawal dari perkumpulan pensiunan Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) yang bergotong-royong membeli seperangkat gamelan laras pelog dan slendro. Tokoh pendahulunya, seperti H. Rohan, kemudian mendirikan paguyuban macapatan Mardi Budoyo Kalamullah pada 19 Desember 2004 yang mengolah inti sari surat Al-Fatihah serta surat pendek juz ‘Amma ke dalam tembang Dhandanggula. Sepeninggalan para tokoh perintis, amanah kepemimpinan kini berada di pundak Casmito bersama rekan-rekannya. “Pendiri yang utama itu H. Rohan, saya hanya penerus. Saya yang menjaga dan memeliharanya, kalau tidak saya jaga nanti bubar,” ungkap Casmito menceritakan tanggung jawab yang diembannya.

Foto beberapa anggota Paguyuban Wreda Laras (sumber foto: Sabti ainnur)
Bagi Casmito, kecintaan dan ketenangan jiwa menjadi alasan utama ia tetap teguh mengurus paguyuban yang menaungi karawitan, macapat, hingga tari ini. Sejak kecil ia sudah terbiasa dengan gending gamelan dan tembang Jawa, sehingga aktivitas berkesenian ini bukan lagi menjadi beban, melainkan hiburan yang bernilai ibadah. Baginya, Paguyuban Wreda Laras bukan sekadar tempat untuk menyalurkan hobi, melainkan wadah silaturahmi sekaligus sarana berdakwah dan melestarikan budaya adiluhung yang bersumber dari ajaran agama.

(sumber foto: Sabti ainur)
Bagi Casmito, menjalankan paguyuban tidak selalu mudah. Rasa lelah sering kali hadir bukan karena usia, melainkan karena tantangan menggerakkan partisipasi anggota, ketiadaan dana pembina dari pihak luar, hingga kendala teknis seperti pelatih yang jatuh sakit dan tempat latihan yang selalu berpindah-pindah. Namun, ketulusan hati dan tekad untuk tidak membiarkan seni warisan leluhur punah membuatnya terus melangkah. Ia bahkan rela merogoh dompet pribadi demi kelancaran kegiatan anggota tanpa pernah membebani dengan iuran. “Saya tidak punya rasa untuk mengeluh, saya malah senang. Saya tidak masalah keluar uang, yang penting paguyuban ini jangan sampai bubar.
Dampak keberadaan Paguyuban Wreda Laras pun dirasakan oleh masyarakat dan lingkungan sekitar. Selain rutin latihan setiap dua minggu sekali dan mengisi hiburan di hajatan warga, paguyuban ini secara konsisten melatih karawitan dan macapat bagi siswa SD hingga SMP di Bantarbolang. Anak-anak binaan mereka bahkan kerap menorehkan prestasi tingkat kabupaten. Ruang karawitan ini berhasil menjadi jembatan lintas generasi, tempat di mana kearifan para sesepuh diteruskan kepada anak muda.
Menurut Casmito, usia bukan alasan untuk berhenti melakukan kegiatan dan menjaga hubungan dengan orang lain. Dari kehidupan para anggota Wreda Laras yang rata-rata telah pensiun menjadi pelajaran bagi generasi muda tentang keikhlasan, ketelatenan, dan tanggung jawab sosial. Belajar seni tradisi tidak boleh setengah-setengah atau semata-mata berorientasi pada materi, melainkan butuh komitmen dan kedisiplinan tinggi.
Semangat Casmito menjelaskan bahwa keterbatasan fisik dan usia senja bukanlah halangan untuk terus berkontribusi bagi kebudayaan bangsa. Ia berharap generasi muda tidak ragu untuk mendekat, belajar, dan mengambil alih sebelum kesenian tradisi ini benar-benar kehilangan penerusnya.
“Saya siap menghimpun, apalagi untuk generasi muda. Tapi mencari anaknya yang susah. Jangan sampai berhenti, teruskan. Jikalau ada bibit muda yang pintar, saya malah senang untuk mendukung,” pungkas Casmito penuh harap.
Penulis: Sabti Ainnur Rahmah
Editor: Salamah
