
KARANGLEWAS, SudutNalar – Budayawan sekaligus seniman asal Desa Pangebatan, Kecamatan Karanglewas, Banyumas, Titut Edy Purwanto atau akrab disapa Mbah Titut, genap berusia 62 tahun pada 18 Agustus 2026. Pria berpenampilan nyentrik dengan rambut gimbal khasnya ini menegaskan bahwa ia tidak pernah merasa kesepian meski menempuh jalan hidup yang berbeda dari kebanyakan orang.
Bagi pensiunan pekerja perkebunan, hidup di dalam sunyi justru menjadi sarana mencari ketenangan batin untuk menemukan titik kehidupan yang hakiki. Kesunyian itu ia cari agar tetap merasakan kedamaian sekaligus jernih dalam menangkap setiap pesan semesta.
“Jadi, sunyi itu yang Mbah Titut cari. Dan di dalam keramaian, diluar pikuk sebuah kehidupan, di situ juga bisa menemukan sunyi. Di mana kehidupan itu bisa indah ketika orang di mana pun bisa menemukan sunyi. Di mana kehidupan itu bisa indah ketika orang di mana pun bisa menemukan kesunyian di dalam diri untuk bertemu, menikmati getar-getar semesta,” ungkap Mbah Titut.
Di tengah masyarakat yang kerap lelah mengejar materi dan jabatan, Mbah Titut memilih mencurahkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk melestarikan seni tradisi tanpa pamrih materi. Kebahagiaan yang membuatnya merasa utuh adalah prinsip bahwa hidup harus saling memberi.
Di usia senjanya, ia berkomitmen mewariskan nilai keindahan, pengetahuan, dan pengalaman hidup agar generasi muda tetap mengenal kemuliaan para leluhur. Meski sempat merasakan ketakutan hidup seperti manusia pada umumnya, ketulusan berkarya membuat kebutuhan ekonominya selalu tercukupi melalui rezeki yang tak terduga.
Keteguhan prinsip tersebut selaras dengan motto hidup yang ia pasang di bio Instagram pribadinya: berkebun, berkesenian, dan bersahabat dengan alam. Mbah Titut memaknai prinsip ini sebagai cara mengontrol emosi dan meredam hawa nafsu serakah.
“Jadi, orang ketika menyapa alam, orang ketika menyatu dengan lingkungan alam, itu akan secara otomatis emosinya, nafsunya untuk menguasai, nafsunya untuk serakah itu akan reda. Nah, di sinilah letak bahwa saya harus ngecas. Ngecas saya itu dengan alam, menyapa lingkungan dengan berkebun,” tuturnya.
Kedekatan dengan alam itu melahirkan karya-karya seni berupa puisi dan lagu. Budayawan yang meyakini bakat seni lahir secara alami ini merasa garis hidupnya merupakan amanah takdir leluhur untuk menyampaikan pesan-pesan luhur melalui seni.
Saat ditanya mengenai bagaimana ia ingin dikenang kelak, Mbah Titut menegaskan dirinya tidak mencari panggung atau nama besar. Ia hanya ingin menjadi jembatan yang mengenalkan kebaikan serta warisan nilai-nilai keindahan masa lalu kepada generasi penerus.
Mbah Titut juga membagikan pandangannya tentang kehidupan setelah kematian, di mana semua manusia pada akhirnya akan kembali ke tanah dan beristirahat dari hiruk-pikuk dunia. Baginya, tidak ada yang abadi selain perubahan, dan akhir dari perjalanan manusia adalah pulang.
“Yang saya cari adalah bagaimana orang itu bahagia. Bahagia itu sederhana. Asal syukurnya ada,” pungkas Mbah Titut menutup obrolan.
Reporter: Hayudya Komalashinta | Editor: Gevira Dewi
