
GUNUNGPUTRI, SudutNalar – Di tengah heningnya suasana upacara bendera hari Senin, Kosasih, S.Pd., M.M. tampak berdiri tegap di atas podium lapangan upacara SMPN 2 Gunungputri. Berbalut seragam dinas cokelat harian di hadapan pelantang suara, ia menatap barisan ratusan siswa yang menyimak dengan saksama. Suaranya mengalun lugas menyampaikan pesan kedisiplinan dan tanggung jawab, yang menjadi gambaran nyata bahwa kepemimpinan baginya tidak dijalankan dari balik sekat meja birokrasi, melainkan hadir memberi teladan langsung di garda depan.
Bagi pria yang mendedikasikan hidupnya di dunia pendidikan sejak Februari 1998 ini, memimpin sekolah menuntut lebih dari sekadar urusan berkas administratif dan manajerial. Meniti karier dari anak tangga terbawah sebagai guru Bahasa Indonesia di SMPN 1 Megamendung hingga bertahun-tahun membina kesiswaan di SMPN 2 Cibungbulang, Kosasih memahami betul denyut nadi kehidupan sekolah.
Di tempat tugas keduanya tersebut, ia pernah dipercaya menjadi wali kelas, pembina OSIS, hingga menjabat Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan selama tiga tahun. Pengalaman lapangan itulah yang menempanya hingga lulus seleksi Calon Kepala Sekolah LP2KS Kemdikdasmen pada Maret 2013 dan resmi dipercaya memimpin satuan pendidikan sejak 2017.
Pengabdian berjenjang itu bermuara pada tanggung jawab besar memimpin SMPN 2 Gunungputri sejak Januari 2024. Namun, di balik amanah yang diembannya, Kosasih melihat tantangan nyata ketika posisi tawar para guru kerap tersudut oleh maraknya fenomena kriminalisasi dan laporan hukum sepihak dari pihak luar saat sekolah menegakkan tata tertib. Dalam situasi genting tersebut, ia memilih tidak berpangku tangan demi mencari aman, melainkan siap pasang badan memberikan perlindungan dan pendampingan penuh bagi rekan sejawatnya.
“Saat orang tua siswa menghakimi dan mengkriminalisasi guru, tidak ada seorang pendidik pun yang sengaja berniat menyakiti siswanya. Dasarnya semata-mata supaya mereka sadar dan tidak mengulanginya lagi. Sebagai kepala sekolah, saya siap berhadapan dengan ranah hukum,” tegas Kosasih.
Keberanian mengambil risiko itu berakar dari kompas batin yang selalu ia pegang teguh: berani berbuat harus berani bertanggung jawab. “Saya memegang teguh prinsip bahwa siapa yang berani menabur angin, ia harus siap-siap menuai badai,” ungkapnya lugas mengenai komitmen sumpah setia sebagai aparatur sipil negara yang pantang berkompromi saat membela kebenaran profesi pendidik.
Prinsip tersebut ia lengkapi dengan pedoman “3T” setiap kali menghadapi situasi rumit atau benturan kepentingan di lingkungan sekolah. Baginya, ujian dan cobaan tidak akan melampaui batas kemampuan manusia jika disikapi dengan kepala dingin. “Hadapi masalah dengan 3T: Tenang, Tegas, dan insyaallah akan Terkendali,” tuturnya mengenai ketenangan sikap dalam mengambil keputusan penting.
Kendati bersikap pantang gentar menghadapi tekanan dari luar, pendekatan Kosasih terhadap para siswa justru dilakukan secara persuasif dan penuh rasa welas asih. Menghadapi dinamika remaja usia belasan tahun yang akrab dengan media sosial dan tantangan fokus belajar, ia menolak keras pola pendisiplinan represif maupun tindakan yang melukai mental anak didik. Disiplin ditanamkan dengan prinsip memanusiakan manusia.
“Prinsip yang paling utama adalah keteladanan yang diwujudkan dalam sikap dan perbuatan pribadi. Kepala sekolah adalah figur publik, setiap gerak, ucapan, perbuatan, dan tutur kata harus menjadi contoh teladan yang baik agar semua warga sekolah taat dan disiplin,” jelasnya seraya berpesan kepada generasi muda bahwa masa depan sepenuhnya ditentukan oleh sikap dan perilaku hari ini.
Di balik dorongan penguatan metode pembelajaran berbasis digital, nurani Kosasih justru paling tersentuh oleh dedikasi senyap di ruang kelas. Ia mengenang momen berharga ketika seorang guru di sekolahnya dengan penuh kesabaran membimbing seorang anak berkebutuhan khusus dari titik nol. Tanpa kenal lelah, sang pendidik duduk mendampingi hari demi hari, menuntun jemari anak tersebut membuat goresan huruf hingga akhirnya sang murid mampu membaca dan menulis secara mandiri.
“Di situ ada seorang guru yang dengan penuh kesabaran, perjuangan, dan pengorbanan mengajarkan anak menulis dan membaca sampai akhirnya anak itu bisa,” kenang Kosasih haru.
Ketika kelak masa purnatugas tiba, jejak yang paling ingin ia tinggalkan di benak warga sekolah bukanlah tumpukan piagam penghargaan, melainkan kerukunan dan jalinan silaturahmi yang kokoh. Ia berpesan agar para siswa terus menuntut ilmu setinggi bintang di langit, tidak pernah lupa berdoa, serta memiliki ketahanan fisik dan mental yang kuat.
Bagi Kosasih, manusia adalah makhluk sosial yang harus saling menghargai dan menjaga tutur kata agar dapat hidup berdampingan tanpa permusuhan. Selama nilai kemanusiaan dan kejujuran terus ditegakkan, ia bertekad menjaga sekolah tetap menjadi rumah yang aman bagi guru untuk mengabdi dan bagi siswa untuk bertumbuh.
Reporter: Gevira Dewi | Editor: Hayudya Komalashinta
