
Sumber foto: Dokumentasi pribadi narasumber
PURWOKERTO, SudutNalar – Kepedulian terhadap berbagai persoalan di masyarakat mendorong Muhammad Haikal Fikri, mahasiswa Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU), untuk terlibat dalam pengabdian masyarakat. Ia kemudian mendirikan komunitas Pemuda Pemudi Mengabdi (PPM) Banyumas, yang kini mengelola berbagai program di sektor pendidikan, lingkungan, dan kesehatan mental.
Perjalanan Haikal di dunia relawan dimulai ketika ia bergabung dalam program Gudang Sinau Mengajar batch 3 pada 2023 untuk mengisi waktu pergantian semester. Pengalaman itu berlanjut saat ia dipercaya menjadi ketua dalam program Gudang Sinau Mengajar batch 4. Setelah aktif dalam program tersebut, ia kembali terlibat sebagai wakil ketua dalam program Senyum Anak Nusantara (SAN) Chapter Purwokerto.
Dari serangkaian pengalaman tersebut, lahirlah program Relawan Generasi Cerdas (REGEN C). Program ini tumbuh di tengah isu Indonesia Cemas. Haikal bersama sejumlah temannya memilih mengambil jalan berbeda yaitu melalui gerakan sosial dan kegiatan nyata.
“Gerakan retorika itu masih kurang. Jadi, saya dan beberapa teman menginisiasi program Relawan Generasi Cerdas,” jelas Haikal dalam sebuah wawancara.

Sumber foto: Divisi Social Media REGEN C
REGEN C kemudian berkembang dari beberapa pelaksanaan program. Pada musim pertama, program ini bekerja sama dengan Kementerian Agama dan menjangkau 24 lokasi mengajar. Musim kedua difokuskan pada sekolah inklusi dan anak-anak berkebutuhan khusus. Sementara itu, musim ketiga melibatkan 375 relawan yang tersebar di 42 lokasi.
Usai menyelesaikan musim ketiga, Haikal memutuskan untuk tidak melanjutkan program tersebut di bawah SAN dan mendirikan PPM Banyumas sebagai langkah lanjutan dari pengabdiannya terhadap dunia pendidikan dan kegiatan relawan.
Saat ini, PPM Banyumas hadir sebagai bentuk kepedulian dan upaya menghadirkan perubahan melalui tindakan nyata. PPM Banyumas berkonsentrasi pada tiga aspek, yaitu pendidikan, lingkungan, dan kesehatan mental. Menurut Haikal, ketiga aspek tersebut masih menjadi tantangan besar di kalangan pemuda.
Di sektor pendidikan, PPM melaksanakan program Lapak Baca Gratis di Alun-Alun Purwokerto yang menarik 20 hingga 40 pengunjung, program Edutrip ke lokasi bersejarah di Banyumas, dan PPM Mengajar yang menargetkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) serta panti asuhan. PPM juga sedang merintis pendirian sekolah di salah satu daerah di Banyumas.
Dalam aspek lingkungan, PPM memiliki berbagai program, seperti Relawan Generasi Bumi (REGEN B) yang fokus pada sanitasi dan pengurangan sampah, Eco Camp yang membahas pengelolaan sampah, Trash Walking, dan Banyumas Resik Bareng (BARENG).
Sedangkan di bidang kesehatan mental, PPM mengadakan Lapak Baca Gratis, seminar di sekolah, dan layanan curhat daring dengan rencana perluasan ke lembaga masyarakat serta panti asuhan.
Dalam melaksanakan berbagai program tersebut, Haikal menghadapi dua tantangan utama, yaitu komunikasi antarrelawan dan keterbatasan sumber daya manusia. Untuk mengatasi hal tersebut, PPM menerapkan sistem koordinasi berjenjang agar komunikasi lebih terstruktur.
Ke depan, Haikal berharap PPM Banyumas dapat terus berkembang menjadi komunitas yang dipercaya dalam menggerakkan aksi sukarela serta mampu menjalin kerja sama dengan lebih banyak pemuda, masyarakat, dan instansi lainnya. Bagi Haikal, keterlibatan dalam kegiatan sukarela tidak hanya menjadi sarana untuk membantu orang lain, tetapi juga menjadi kesempatan bagi anak muda untuk berkembang dan memberikan manfaat.
Kepada generasi muda yang merasa ragu untuk terjun ke aksi sukarela, Haikal berpesan, “Coba terlebih dahulu, kita tidak akan pernah tahu hasilnya sebelum benar-benar mencoba,” ujarnya, sambil menambahkan bahwa menjadi penggerak sosial adalah bentuk tanggung jawab serta panggilan untuk menebar manfaat kepada sesama.
Penulis: Dania Anggita Nirmalaningtyas | Editor: Cahya Anggraeni
