
(Foto: Chiquita Abidah Azni)
PURWOKERTO, SUDUTNALAR — Kegagalan menembus Perguruan Tinggi Negeri (PTN) lewat jalur SNBP, SNBT, maupun Mandiri, tak membuat Aidil Yusuf Malika, yang akrab disapa Malik, patah semangat. Alih-alih menyerah dan memilih gap year, mahasiswa Program Studi Bisnis Digital di Telkom University ini justru mengubah kegagalan menjadi batu loncatan meraih beasiswa prestasi secara penuh, berkat segudang prestasi internasional yang ia ukir semasa SMA.
Berawal dari Kegagalan, Menciptakan Jalan Kesuksesan
Malik bercerita, keputusannya melirik perguruan tinggi swasta (PTS) sempat menjadi jalan alternatif setelah upayanya mendaftar PTN gagal berkali-kali. Namun, alih-alih menjadi jalan pintas, jalur ini justru mempertemukannya dengan kesempatan besar di program beasiswa di Telkom University yang membuka pendaftaran bagi calon mahasiswa berprestasi.
“Saya mencoba kesempatan lain dengan berusaha memperjuangkan diri saya agar tidak gap year dan terus meneruskan pendidikan,” ujarnya. Usahanya berbuah manis, ia dinyatakan lolos dan mendapatkan pendanaan penuh. Selain soal akademik, Malik mengaku menikmati babak baru hidupnya sebagai mahasiswa.

Kunci di balik beasiswa penuh yang diraih Malik, tak lepas dari rekam jejak prestasinya di masa SMA. Ia berhasil menyabet medali emas tingkat internasional pada ajang I2ASPO (Indonesia International Applied Science Project Olympiad) dan medali perak di AISEEF (Asean Innovative Science Environmental Entrepreneur Fair). Dua pencapaian inilah yang ia sebut sebagai kunci utama pembuka pintu beasiswa penuhnya.
Menariknya, prestasi ini diraih tanpa mengorbankan hal lain. Malik tetap aktif berorganisasi selama SMA dan mampu mempertahankan nilai akademiknya di tengah kesibukan mengikuti berbagai kompetisi.
Perjalanan Panjang di Balik Medali
Di balik gemerlap medali yang ia raih, Malik mengungkap proses menuju kompetisi internasional penuh liku. Mulai dari penggalian ide, pengangkatan isu di lingkungan sekitar, pencarian jurnal bereputasi, hingga uji laboratorium dan trial and error produk berkali-kali.
Tantangan terbesar, menurutnya, datang dari sisi bahasa. “Saya juga terkendala bahasa, karena harus menggunakan bahasa Inggris dalam presentasi dan tanya jawab,” ujarnya. Selain harus mempelajari materi presentasi dalam bahasa Inggris dari nol, ia juga harus merancang desain booth yang menarik perhatian juri dan pengunjung.
Kegagalan pun bukan hal asing baginya. “Ya pernah, beberapa kali saya gagal dalam memenangkan kompetisi. Saya belajar untuk mengubah cara berpikir saya dan cara presentasi untuk memperbaiki tatanan bahasa,” tuturnya.
Membangun Jembatan Menuju Kantor Impian
Ke depannya, Malik berkomitmen mempertahankan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) di atas 3,5, tetap aktif berkompetisi, serta bergabung dengan organisasi dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang selaras dengan minat kariernya. Soal cita-cita profesional, Malik membidik dua jalur karier besar. Ia bergabung dengan perusahaan konsultan Big Four sebagai business analyst, atau mendalami spesialisasi cyber security di sektor e-commerce.
Pesan untuk Generasi Muda
Menutup perbincangan, Malik membagikan pesan yang mendalam bagi generasi muda yang tengah berjuang meraih mimpi.
“Kita bisa karena terbiasa, terbina, dan terpaksa. Mulai dari potensi diri dan peduli terhadap lingkungan, ragu hanya ketakutan sesaat, lawanlah,” ujar Malik.
Kisah Malik menjadi bukti nyata bahwa kegagalan di satu pintu bukan akhir dari segalanya, melainkan bisa menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih besar, asalkan diiringi kerja keras, konsistensi, dan keberanian melawan rasa ragu.
Penyusun : Chiquita Abidah Azni
Editor : Citra Rahma Latifah
