sudutnalar.com, 22 September 2026

Potret terkini Rahel Fenina (Dok. Bahri)
PURWOKERTO, SUDUTNALAR – Keinginan menjadi pendeta telah tumbuh dalam diri Rahel Fenina Debora sejak masih kecil. Ketika mengikuti sekolah minggu, ia tertarik melihat seorang pendeta berkhotbah karena merasa kata-kata yang disampaikan begitu indah.
“Dulu saya melihat pendeta lagi berkhotbah, dan saya merasa, wah bagus nih, kata-katanya ngena,” ujar Rahel.
Keinginan tersebut ternyata tidak berhenti sebagai cita-cita masa kecil. Setelah menyelesaikan pendidikan teologi di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta pada 2022, Rahel melanjutkan praktik di berbagai jemaat GKI. Pada 2024, ia mendapat penempatan sebagai calon pendeta dan masih menjalani proses tersebut hingga kini. Ia dijadwalkan ditahbiskan sebagai pendeta pada 9 November.
Menjalani proses sebagai calon pendeta membuat Rahel menemukan berbagai pengalaman baru. Salah satu tantangan yang ia rasakan secara pribadi adalah beradaptasi dengan budaya, kebiasaan, dan ritme kehidupan di Purwokerto setelah sebelumnya tinggal di Jakarta.
Dalam berelasi dengan sesama, Rahel juga belajar bahwa konflik merupakan sesuatu yang wajar. Menurutnya, konflik tidak selalu harus ditakuti karena dapat menjadi ruang untuk belajar, selama setiap pihak mau terbuka, saling berbicara, memaafkan, dan mendukung.
Bagi Rahel, nilai yang penting dalam kehidupan tidak hanya terlihat melalui perkataan, tetapi juga melalui sikap terhadap orang lain. Di lingkungan masyarakat, ia menekankan pentingnya bersikap dan berempati, terutama ketika menghadapi orang yang sedang mengalami kehilangan atau kedukaan.
Dari berbagai nilai tersebut, kasih menjadi hal yang paling mendasar bagi Rahel. Ia melihat kasih sebagai sesuatu yang dapat diberikan kepada siapa saja, baik keluarga, tetangga, maupun orang-orang yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau ke masyarakat yang bukan jemaat, mungkin nilainya yang paling sederhana, pendasar dan paling dalam menurut saya kasih,” katanya.
Nilai kasih itu pula yang menjadi bagian dari panggilannya untuk melayani. Rahel mengatakan bahwa keinginannya menjadi pendeta berangkat dari kerinduan untuk melayani sesama dan tetap berada di tengah jemaat.
“Secara mendasar, motivasi atau keinginannya memang adalah, saya rindu ya, melayani sesama. Saya rindu untuk tetap ada di tengah jemaat,” tuturnya.
Pandangan tersebut semakin terlihat dalam ayat yang dipilih Rahel sebagai ayat favorit sekaligus ayat yang akan digunakan dalam penahbisannya, yaitu 1 Yohanes 4:7–8. Ayat tersebut mengingatkannya bahwa kasih merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengenalan kepada Allah.
“Jadi menurut saya, ini dasar sekali, pengenalan akan siapa Allah, dan juga kekuatan untuk dasar pelayanan saya, bahwa yang selayaknya kita lakukan, saling mengasihi,” ujarnya.
Bagi Rahel, kasih bukan hanya sesuatu yang diyakini, tetapi sesuatu yang seharusnya hadir secara nyata dalam kehidupan dan pelayanan kepada sesama.
Penulis: Bakhrie Muhammad Noor
Penyunting: Mohammad Faizal Ramadhani
