Reporter: Azalia Nur Azizah Azmi | Editor: Nazzila Juny Month

| Sumber: Muhammad Tufodil |
CISARUA – Sejak masih kuliah, Muhammad Tufodil (51) menjalankan berbagai usaha untuk memenuhi kebutuhannya. Ia pernah berjualan majalah secara keliling, serta menjajakan tahu Sumedang dari satu tempat ke tempat yang lain. Kini, Tufodil menekuni pertanian dan memasok sekitar 80 kilogram daun singkong setiap hari kepada RM Padang Kiambang Raya.
Tufodil, yang akrab disapa Tupo, merupakan lulusan Universitas Winaya Mukti bidang Kehutanan. Setelah menyelesaikan pendidikan, Tupo memilih menjadi wirausahawan meski sempat mendapat kesempatan untuk bekerja di Perhutani. Ia kemudian menjalankan usaha budidaya jamur.
Ia membudidayakan beberapa jenis jamur, termasuk jamur tiram. Namun, usaha tersebut berhenti karena Tupo kesulitan mencari pekerja. Para pekerja yang sebelumnya membantu lebih memilih untuk bekerja di pabrik. Setelah usaha jamur berhenti, Tupo kemudian beralih menekuni pertanian. Ia mulai menanam singkong pada tahun 2006. Berbeda dengan tanaman singkong yang umumnya dimanfaatkan bagian umbinya, Tupo memanfaatkan bagian daunnya untuk dijual.
Sekitar 2007, Tupo mulai menawarkan hasil pertaniannya ke berbagai rumah makan. Ia mendatangi rumah makan dan menawarkan hasil pertaniannya secara langsung. Setelah sampel dicoba, RM Padang Kiambang Raya menerima tawaran tersebut. Hingga kini, Tupo memasok daun singkong ke rumah makan tersebut sekitar 80 kilogram setiap hari.

| Sumber: Muhammad Tufodil |
Daun singkong tersebut dipanen setiap hari oleh para pekerja. Selain singkong, Tupo juga menanam brokoli dan bunga rosida. Lahan yang dikelolanya di sekitar rumah memiliki luas 500 meter persegi.
Bagi Tupo, menjadi petani merupakan pekerjaan yang turut memenuhi kebutuhan masyarakat. Pandangan tersebut membuatnya tidak memandang pekerjaan petani sebagai sesuatu yang perlu direndahkan. Ia berharap anak muda juga tidak memandang profesi petani sebelah mata.
βBuat anak muda, jangan pernah malu kalau jadi petani,β ujarnya.
