Penulis: Nadhif Syarafina
Editor: Natasha Dhani Artika Putri

Sumber: Bidan Juminah
Banjarnegara, 18 September 2026- Selama lebih dari 30 tahun mengabdi menjadi bidan, Juminah telah melewati berbagai rintangan dalam memberikan layanan kesehatan bagi masyarakat.
Juminah memulai pengabdiannya pada tahun 1995 di Desa Kalidesel, Kecamatan Watumalang, Kabupaten Wonosobo. Saat itu desa tersebut masih terpencil dengan fasilitas kesehatan yang kurang memadai, untuk menjangkau pasien ia harus berjalan kaki melewati akses jalan desa yang sulit.
Setelah menikah, pada tahun 1998 ia dipindahtugaskan ke Desa Mbeji, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara. Di desa tersebut ia harus kembali melewati akses jalan yang sulit karena jalan sempat terputus dan harus berjalan kaki untuk menjangkau pasien dengan kondisi hamil besar.
“Waktu itu, akses jalannya sangat sulit. Untuk menemui pasien, saya harus berjalan kaki dalam keadaan hamil besar karena kendaraan tidak bisa masuk,” tutur Juminah dalam wawancara.
Berlanjut pada tahun 2001, Juminah memutuskan mengundurkan diri karena masalah internal. Namun, surat pengunduran dirinya ternyata tidak disetorkan oleh Dinas Kesehatan. Akibatnya, surat keputusan atau SK pengunduran diri tidak pernah turun. Selama tiga bulan, Juminah tidak bekerja karena mengira dirinya telah resmi mengundurkan diri.
Setelah mengetahui bahwa pengunduran tersebut tidak diproses, ia akhirnya kembali diminta menjalankan tugas sebagai bidan desa di kantor Desa Kesenet, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara.
Juminah kemudian diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) pada 2006. Setahun kemudian, ia dipindahkan ke Puskesmas Banjarmangu 1 dan masih bekerja di sana hingga sekarang. Sementara itu, tugasnya sebagai bidan desa Kesenet berlangsung hingga 2014.
Selama bertugas, Juminah melayani masyarakat termasuk membantu persalinan di rumah-rumah warga. Ia juga memberikan pemeriksaan kepada ibu hamil, memantau kesehatan ibu dan bayi, serta membuka praktik kebidanan dan kesehatan dirumah untuk mendampingi masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan.
Bagi Juminah, berbagai kesulitan yang dialaminya merupakan bagian dari perjalanan pengabdian. Ia berpesan agar setiap orang selalu bersyukur karena tidak semua orang memperoleh kesempatan untuk bekerja.
“Jalani dan nikmati pekerjaan dengan ikhlas. Selama bekerja, kita harus melayani masyarakat dengan sepenuh hati,” pesan Juminah.
Kisah Juminah menunjukkan bahwa pengabdian seorang bidan tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga ketekunan, kesabaran, dan ketulusan. Selama puluhan tahun, ia tetap memilih hadir bagi masyarakat meskipun harus menghadapi berbagai halangan dan rintangan.
