
Purwokerto-Ada pemandangan yang menarik perhatian di sebuah ruas jalan: sesosok “pengendara” mengenakan helm dan jaket, terperosok setengah badan ke dalam lubang jalan yang menganga. Bukan korban kecelakaan sungguhan, melainkan boneka rakitan warga, lengkap dengan lingkaran cat putih di sekelilingnya sebagai penanda bahaya. Fenomena ini menunjukkan bahwa ketika saluran pengaduan resmi dirasa lambat, warga memilih menciptakan cara sendiri yang lebih cepat menarik perhatian agar jalan rusak segera diperbaiki.
Cara semacam ini sebenarnya cukup sering ditemui di berbagai kota di Indonesia. Warga kerap menandai jalan rusak dengan cara kreatif, misalnya menanam pohon pisang di tengah lubang, memasang bendera kecil, atau seperti dalam foto ini, meletakkan sosok manusia tiruan yang seolah terjatuh. Pesannya kurang lebih sama, yaitu titik ini berbahaya dan sudah cukup lama belum diperbaiki.
Munculnya kreasi semacam ini tidak lepas dari pengalaman warga terhadap proses pelaporan resmi yang sering terasa lambat. Idealnya, laporan jalan rusak cukup disampaikan lewat aplikasi pengaduan atau surat ke dinas terkait. Namun pada praktiknya, tidak sedikit laporan yang butuh waktu lama untuk ditindaklanjuti, sementara jalan berlubang tetap berisiko menimbulkan kecelakaan, mulai dari ban pecah, motor oleng, hingga korban jiwa.
Boneka yang tampak jatuh di lubang jalan ini bisa dilihat sebagai bentuk partisipasi warga yang wajar, bukan tindakan iseng semata. Dengan menghadirkan sosok “manusia” di titik berbahaya,
warga mengajak siapa pun yang melintas, termasuk pihak berwenang, untuk lebih menyadari bahwa risiko tersebut nyata dan bisa dialami siapa saja. Cara ini terbukti lebih cepat menarik perhatian publik dibanding jalur pelaporan formal yang berbelit.
Kreativitas warga dalam menandai jalan rusak sejatinya adalah sinyal penting bagi pemerintah daerah untuk terus memperbaiki sistem pengaduan infrastruktur, agar laporan warga dapat ditindaklanjuti lebih cepat dan jelas waktunya. Jalan berlubang bukan sekadar soal tampilan, melainkan menyangkut keselamatan banyak orang. Selama perbaikan belum merata, kemungkinan besar kita masih akan menjumpai kreasi serupa di sudut sudut jalan kota, sebagai pengingat sederhana dari warga agar keluhan mereka benar benar didengar.
Penulis : Kuat Aldiyanto
Editor: Ridwan Ahmad Fauzi
