Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

TRADISI SELAPANAN DAN CUKUR RAMBUT BAYI MASIH DILESTARIKAN MASYARAKAT JAWA

Posted on September 16, 2026September 18, 2026 by zulfa izaz

SELASA, 15 SEP 2026

Tradisi selapanan dan pencukuran rambut bayi, (13/9/26) Foto: Sahna Naely Yazida

BREBES, sudutnalar.com. Tradisi selapanan masih dilakukan oleh sebagian masyarakat Jawa sebagai bentuk syukuran atas kelahiran bayi. Tradisi ini biasanya dilaksanakan ketika bayi berusia 35 hari atau satu selapan. Selapanan menjadi salah satu tradisi keluarga yang masih dipertahankan secara turun-temurun.

Dalam pelaksanaannya, keluarga mengadakan acara syukuran yang dihadiri oleh keluarga dan kerabat. Salah satu rangkaian utama dalam tradisi tersebut adalah pencukuran rambut bayi. 

Prosesi tersebut biasanya disertai doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus harapan agar bayi selalu diberikan kesehatan, keselamatan, dan kehidupan yang baik.

Salah satu orang tua bayi yang mengadakan selapanan mengatakan bahwa tradisi tersebut dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran anak sekaligus untuk mempertahankan tradisi keluarga.

“Kami mengadakan selapanan sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran anak. Tradisi ini juga sudah dilakukan sejak dulu oleh keluarga, jadi kami ingin tetap melestarikannya,” ujar habibi selaku orang tua bayi.

Sebelum acara dimulai, keluarga mempersiapkan berbagai keperluan, seperti tempat, makanan, serta perlengkapan untuk prosesi pencukuran rambut. Keluarga dan kerabat yang hadir kemudian mengikuti rangkaian acara dan doa bersama.

Selain sebagai bentuk syukuran, selapanan juga menjadi momen bagi keluarga untuk berkumpul dan mempererat hubungan dengan kerabat. Tradisi ini sekaligus memiliki nilai sosial karena dapat memperkuat hubungan antarkeluarga dan masyarakat sekitar.

Tradisi selapanan juga menjadi salah satu cara masyarakat mengenalkan budaya Jawa kepada generasi berikutnya.Meskipun pelaksanaannya dapat berbeda di setiap keluarga, inti tradisi tetap berupa ungkapan syukur dan doa bagi bayi.

Dengan masih dilaksanakannya tradisi selapanan, masyarakat turut menjaga keberadaan budaya Jawa agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman. Tradisi tersebut diharapkan dapat terus dikenalkan dan diwariskan kepada generasi muda melalui lingkungan keluarga dan masyarakat.

OLEH-SAHNA NAELY YAZIDA

EDITOR-LINDA AGUSTRIANA

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme