
PURBALINGGA, Sudutnalar.com – Kesenian tradisional Calung dan Thek-Thek terus menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Kedua kesenian tersebut sama-sama memanfaatkan bambu sebagai unsur utama penghasil bunyi, tetapi memiliki bentuk alat musik dan karakter pertunjukan yang berbeda.
Calung merupakan perangkat musik khas Purbalingga yang terbuat dari bambu wulung dan memiliki bentuk menyerupai perangkat gamelan Jawa. Perangkat Calung terdiri atas gambang barung, gambang penerus, slentem atau dendhem, kenong, gong, dan kendang.
Dalam pertunjukannya, Calung dapat digunakan untuk mengiringi vokalis atau sinden dengan berbagai gending Banyumasan. Kesenian ini juga memiliki keterkaitan erat dengan kesenian Lengger yang berkembang di wilayah Purbalingga.
Penelitian mengenai Calung Banyumasan di Purbalingga mencatat bahwa pertunjukan Calung tidak hanya menghadirkan musik dan vokal, tetapi juga dapat memadukan unsur tari, lawak, hingga dialog. Kesenian tersebut memiliki fungsi sebagai tradisi, hiburan, sekaligus media ekspresi masyarakat.
Sementara itu, Thek-Thek atau kenthongan berkembang dari penggunaan kentongan yang pada masa lalu dimanfaatkan masyarakat sebagai alat komunikasi, termasuk untuk kegiatan ronda. Dalam perkembangannya, kentongan dikreasikan menjadi seni musik dengan ritme yang lebih beragam.
Pertunjukan Thek-Thek dapat memadukan kentongan dengan berbagai instrumen perkusi, serta dilengkapi tarian dan vokal. Perkembangannya di Purbalingga juga melahirkan kelompok-kelompok kesenian dengan jumlah pemain yang cukup besar.
Pemerintah Kabupaten Purbalingga mencatat bahwa kesenian kenthongan atau Thek-Thek memiliki nilai kebersamaan dan gotong royong karena dimainkan secara berkelompok.
Eksistensi Calung dan Thek-Thek juga terlihat dalam berbagai kegiatan di luar Purbalingga. Pada 2018, Calung Banyumasan dan Rampak Kenthong Purbamas menjadi dua kelompok yang mewakili Purbalingga dalam pertunjukan seni di Istana Kepresidenan Jakarta. Keduanya tampil dalam rangkaian peringatan HUT ke-73 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Upaya memperkenalkan kedua kesenian tradisional tersebut kepada masyarakat juga dilakukan melalui kegiatan pariwisata. Pemerintah Kabupaten Purbalingga pernah menyelenggarakan pertunjukan Lengger Calung dan Thek-Thek di kawasan wisata Goa Lawa sebagai bagian dari upaya menarik wisatawan sekaligus melestarikan seni tradisi.
Keberadaan Calung dan Thek-Thek menunjukkan bahwa kesenian tradisional dapat terus berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan identitas daerah. Pelestarian melalui pendidikan, sanggar seni, festival, pertunjukan masyarakat, serta keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting agar kedua kesenian tersebut tetap dikenal dan dimainkan oleh generasi berikutnya.
Penulis: Devan Aryogi
Editor: Dimas Saladin Firmansyah
