Sudutnalar.com, 14 September 2026 ( 08.14 WIB )

Foto: Aris Pambudi
CILACAP, sudutnalar.com—Situs Panembahan Pasir Pari di Dusun Paninggaran, Desa Boja, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, hingga kini masih dirawat dan dihormati oleh masyarakat setempat sebagai warisan sejarah dan budaya. Menurut Sukur selaku juru kunci, masyarakat melakukan ziarah setiap malam Jumat untuk mendoakan para leluhur yang dimakamkan di kawasan tersebut.
Selain menjadi tempat pemakaman sejumlah tokoh, Panembahan Pasir Pari juga memiliki berbagai cerita dan kepercayaan yang masih berkembang di masyarakat. Salah satunya adalah keberadaan 99 anak tangga yang berkaitan dengan jumlah Asmaul Husna.
Panembahan Pasir Pari terbuka selama 24 jam. Namun, hanya bisa di kunjungi oleh masyarakat umum apabila mendapat izin dari juru kunci. Sebelum memasuki kawasan Panembahan Pasir Pari, terdapat Sumur Kehidupan yang biasa digunakan pengunjung untuk berwudu. Di kawasan tersebut juga terdapat gubuk kecil yang dapat digunakan pengunjung sebagai tempat berteduh.
Selama menjalankan tugas sebagai juru kunci, Sukur mengaku beberapa kali menerima petunjuk dari leluhur melalui mimpi. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bagian dari tanggung jawabnya dalam menjaga Panembahan Pasir Pari.
Salah satu kisah yang ia bagikan berkaitan dengan seorang pengunjung yang masuk tanpa izin dan mengambil pohon bunga dari kawasan tersebut. Berdasarkan penuturan Sukur, pelaku kemudian jatuh sakit. Pria tersebut akhirnya kembali ke Panembahan Pasir Pari untuk mengembalikan pohon yang diambil sekaligus menyampaikan permohonan maaf.
Setelah itu, Sukur menyuruh orang tersebut mengambil air dari sebuah sumur yang berada di kawasan Pasir Pari. Air tersebut kemudian digunakan untuk membasuh wajah dan diminum. Menurut penuturannya, orang tersebut langsung sembuh di hadapannya.
Sukur juga menjelaskan bahwa menjadi juru kunci Panembahan Pasir Pari tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang. Menurut kepercayaan yang berkembang, juru kunci sebaiknya berasal dari keturunan juru kunci sebelumnya. Ia menuturkan bahwa pernah ada seseorang yang menjadi juru kunci tanpa berasal dari garis keturunan tersebut dan kemudian sakit-sakitan.
Panembahan Pasir Pari juga berkaitan dengan sejumlah tokoh yang dianggap memiliki peran dalam perkembangan Desa Boja. Salah satu yang paling dikenal ialah Raden Ngabei Arsantaka atau Arsakusuma, yang disebut sebagai putra Adipati Onje II dan keturunan Keraton Surakarta. Ia dikisahkan datang ke Boja dan kemudian memperoleh gelar Ngabei dari Keraton Solo.
Selain Raden Ngabei Arsantaka, terdapat makam Rum Siti, Syeikh Arya Pamot, Mbah Wana Wacana, Raden Jaka Sumbaga, Mbah Ngepek Ngambang, Puspa Wacana, Puspa Laksana, dan Puspa Diprana. Beberapa tokoh disebut memiliki peran dalam perkembangan wilayah Boja, seperti menjaga wilayah dan membuka persawahan.
Selain kisah para tokoh, terdapat pula versi cerita mengenai Boja dan sekitarnya dalam bahasa Sunda yang dikenal sebagai Pangdanggula. Cerita tersebut berkaitan dengan Raja Mataram dan Resi Tunggulmanik.
Berbagai cerita yang berkembang di Panembahan Pasir Pari menjadi bagian dari ingatan dan kebudayaan masyarakat Desa Boja. Meskipun sebagian cerita disampaikan secara turun-temurun, keberadaan situs tersebut hingga kini tetap dijaga. Tradisi ziarah setiap malam Jumat menjadi salah satu bentuk penghormatan masyarakat terhadap tokoh dan leluhur yang dimakamkan di kawasan tersebut.
Penulis: Nesa Aprillia
Editor: Khalisa Anti Meilani
