Penulis : Dania Anggita Nirmalaningtyas
Editor : Aurelia Az zahra Salsabillah

BANYUMAS, Sudutnalar.com β Bagi umat Hindu, Hari Raya Nyepi merupakan momentum penting. Perayaan ini identik dengan suasana hening karena seluruh aktivitas umat Hindu dihentikan selama satu hari penuh. Di Desa Klinting, Kabupaten Banyumas, rangkaian Nyepi dilaksanakan setiap tahun dengan melibatkan umat Hindu dari wilayah Banyumas, Cilacap, dan masyarakat sekitar.
Rangkaian perayaan Nyepi diawali dengan Melasti yang dilaksanakan dua minggu sebelum Nyepi sebagai proses penyucian diri. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan Tawur Agung Kesanga atau pawai ogoh-ogoh yang dilaksanakan sehari sebelum Nyepi.
Rangkaian terakhir adalah Ngembak Geni yang dilaksanakan sehari setelah Nyepi. Seluruh umat Hindu berkumpul di area Pura Pedaleman Giri Kendeng untuk saling berjabat tangan dan memaafkan. Ngembak Geni menjadi penanda berakhirnya masa penyepian.
Rangkaian yang menarik perhatian masyarakat adalah Tawur Agung Kesanga atau pawai ogoh-ogoh. Menurut Budianto, tokoh masyarakat setempat, pawai menjelang Nyepi sudah dilaksanakan sejak dahulu. Namun, bentuknya tidak menggunakan ogoh-ogoh seperti saat ini.
βKalau pawai kita sudah ada sejak dulu, cuma bentuknya berbeda. Dulu menggunakan gunungan yang isinya hasil bumi,β ujar Budianto.
Seiring berjalannya waktu, para pemuda melakukan inovasi dengan menyisipkan ogoh-ogoh dalam rangkaian pawai sejak lima tahun terakhir. Masyarakat setempat bermusyawarah untuk menentukan bentuk dan tema ogoh-ogoh dengan mempertimbangkan makna yang akan disampaikan.
Pada perayaan Tahun Baru Saka 1948, masyarakat Desa Klinting merencanakan ogoh-ogoh berbentuk figur perempuan yang berkaitan dengan sosok Dewi Sudra. Namun, rencana tersebut akhirnya tidak dilanjutkan dan masyarakat memilih membuat ogoh-ogoh berbentuk Lembu.

Bentuk ogoh-ogoh yang dibuat menyeramkan menggambarkan energi negatif yang terdapat di lingkungan. Ogoh-ogoh yang telah diarak kemudian di-pralina atau dilebur sebagai simbol pemusnahan energi negatif.
Rangkaian Nyepi di Banyumas memiliki perbedaan dengan perayaan di Bali, terutama pada banten (persembahan) dan musik pengiring. Di Banyumas, banten cenderung lebih sederhana dan fleksibel. Selain itu, proses Tawur Agung Kesanga di Banyumas diiringi oleh alunan gamelan Jawa.
Hal ini menunjukkan bahwa tradisi keagamaan dapat berkembang dinamis mengikuti lingkungan tempat tradisi tersebut dilaksanakan. Tradisi yang berasal dari Bali tidak diterapkan secara mentah-mentah, melainkan mengalami penyesuaian dengan budaya Jawa tanpa menghilangkan makna utamanya.
Terlepas dari segala keterbatasan itu, tradisi ini tetap bertahan setiap tahun berkat semangat gotong royong warga. Tawur Agung Kesanga bukan sekadar rangkaian keagamaan, tetapi juga perayaan bersama seluruh desa.
