Reporter : Damia Sifa Aulia Romansyah | Editor :Cintya Auliyanti
Sudutnalar.com, 12 September 2026

(Foto: Damia Sifa Aulia Romansyah)
JANGRAGA, Sudutnalar.com – Kesenian tradisional kuda lumping terbukti belum kehilangan pesonanya. Di Desa Jangraga, Kecamatan Mangunjaya, Kabupaten Pangandaran, pertunjukan seni ini justru menjadi magnet hiburan yang terus disesaki penonton dari berbagai kalangan.
Di balik riuhnya alunan gamelan tersebut, ada nama Paguyuban Sekar Budaya. Berdiri sejak 2015, kelompok ebeg ini lahir dari rahim kegiatan olahraga bela diri pencak silat setempat.
Herman, pemilik sekaligus pimpinan Sekar Budaya, menceritakan bahwa ide membentuk kelompok kuda lumping ini murni datang dari aspirasi para pemuda yang gemar berlatih silat.
“Awal mulanya dari pencak silat. Anak-anak mengusulkan ingin ada seni ebeg,” ujar Herman.
Meskipun istilah ebeg lebih erat dengan budaya Jawa, masyarakat Jangraga lebih akrab menyebutnya kuda lumping. Uniknya, daya tarik pertunjukan ini justru makin menguat di mata generasi muda.
“Sekarang lebih banyak anak muda, terutama ABG, yang menonton kuda lumping,” ungkap Herman saat menggambarkan antusiasme penonton masa kini.
Magnet pertunjukan ini diakui langsung oleh Hernawan, salah seorang penonton setia di lokasi. Ia mengaku sudah jatuh cinta pada pementasan kuda lumping sejak masih berstatus anak-anak.
“Dari kecil, suka sama barongan,” tutur Hernawan.
Bagi Hernawan, suguhan kuda lumping saat ini terasa jauh lebih segar dan adaptif. Kehadiran para penari perempuan kini menjadi warna baru yang membuat pementasan makin dinamis dibandingkan era terdahulu.
Selain rutin diundang dalam hajatan warga dan peringatan kemerdekaan, Sekar Budaya juga kerap menggelar pentas mandiri pada bulan Muharam. Guna menjangkau audiens yang lebih luas, pementasan mereka kini rutin diunggah ke media sosial seperti TikTok dan YouTube.
Meski harus memutar otak terkait biaya operasional pementasan mandiri, Herman dan Hernawan menaruh harapan besar agar pemerintah desa serta masyarakat terus memberikan dukungan penuh demi kelestarian seni tradisi ini.
